Rupiah Dekati Rp18.000, Eksportir Jogja Terjepit Biaya Produksi
Pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat biaya produksi dan logistik eksportir Jogja melonjak, margin keuntungan makin tertekan.
Mobil tangki air milik BPBD Gunungkidul saat meyalurkan bantuan kepada warga di Dusun Kwarasan Kulon, Kedungkeris, Nglipar. foto diambil beberapa waktu lalu. /Ist- dok BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, JOGJA–Status siaga darurat kekeringan telah ditetapkan bagi Kabupaten Bantul dan Gunungkidul, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY meminta masyarakat dapat menghemat penggunaan air bersih.
Saat ini menurut Lilik dengan kondisi yang ada, kedua daerah tersebut telah ditetapkan dalam status siaga darurat kekeringan.
“Saat ini Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul sudah menetapkan siaga darurat,” kata Lilik Andi Aryanto, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY, Selasa (15/8/2023).
Status siaga darurat kekeringan tersebut menurut Lilik berlaku dari 1 Juli-31 September 2023.
Dengan kondisi tersebut, menurut Lilik dropping air telah dilakukan ke Gunungkidul dan Bantul. Sementara meski Kabupaten Kulonprogo statusnya belum siaga darurat kekeringan, namun dropping air ke daerah tersebut juga telah dilakukan.
BACA JUGA: Siap Jadi Investor, PLN Ingin TPA Piyungan Jadi Pembangkit Listrik Tenaga Uap
“Penetapan status salah satu dasarnya adalah kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani,” katanya.
Saat ini menurut Lilik kondisi kekeringan di Kulonprogo dinilai masih dapat tercukupi dengan pasokan air reguler, sehingga Kabupaten Kulonprogo statusnya belum siaga darurat kekeringan.
“Masing-masing kabupaten telah menyiapkan anggaran untuk dropping air. Khusus Kabupaten Gunungkidul selain BPBD, anggaran droping air juga dianggarkan di masing-masing kapanewon,” katanya.
Menurut Lilik dalam menghadapi kekeringan Kabupaten Bantul, Gunungkidul, dan Kulonprogo telah menyiapkan anggaran rutin dan Belanja Tidak Terduga (BTT) yang apabila dibutuhkan dapat digunakan untuk penyediaan air bersih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS membuat biaya produksi dan logistik eksportir Jogja melonjak, margin keuntungan makin tertekan.
Pemkab Sleman pastikan relokasi Korwil Mlati tak ganggu layanan pendidikan. Penataan lahan dorong PAD dan program ekonomi.
PLN ungkap dua PLTU bermasalah jadi penyebab pemadaman listrik di Jawa. Perbaikan dikebut, pasokan segera dipulihkan.
RS Pratama Jogja genap 10 tahun dengan layanan CT Scan, rekam medis elektronik mandiri, dan program wisata medis bagi wisatawan.
BPBD Sleman menyerahkan hasil riset fenomena api Seyegan kepada keluarga. Rekaman CCTV kini menjadi bagian penyelidikan kepolisian.
Wabah Ebola di Kongo makin meluas. Sebanyak 75 tenaga kesehatan terinfeksi dan 17 meninggal. WHO sebut risiko penyebaran tinggi.