Serangan Monyet Bikin Resah Petani Tanjungsari Gunungkidul
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Ari Junaidi Arsono memperlihatkan domba-domba dorper yang dipeliharanya. Foto diambil 28 Juli 2023./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Budi daya domba impor asal Australia jenis dorper mulai dikembangkan di Dusun Karangtengah 2, Karangtengah, Wonosari. Selain konsep peternakan modern, di sana juga dikembangkan model pertanian terpadu.
Pengelola ternak, Ari Junaidi Arsono mengatakan budi daya domba dorper sudah dimulai sejak 2022 lalu. Hingga sekarang, sudah ada 500 ekor kambing di kandang seluas 5.000 meter persegi. “Pada awalnya untuk ternak sapi, tapi sekarang dipergunakan budidaya domba jenis dorper asal Australia,” katanya kepada wartawan, Selasa (15/8/2023).
Dia menjelaskan, ternak yang dikembangkan lebih ke pembibitan. Adapun pemeliharaan juga mudah karena domba dorper karena terpenting pemeliharaan kandang yang bersih dan rutin diberikan makan sebanyak tiga kali dalam sehari. “Tidak bau karena di kandang diberi serbuk kayu hasil dari pengergajian. Serbuk sebagai alas ini diganti setiap satu bulan sekali,” katanya.
Menurut Ari, serbuk kayu yang habis digunakan tidak dibuang karena bisa menjadi pupuk organik. Ke depannya, konsep ternak dikembangkan dengan model pertanian terpadu sehingga ada siklus yang saling menguntungkan. “Jadi akan berputar. Pakan diambil dari sawah atau ladang yang ditanami kemudian pupuknya memanfaatkan sisa kotoran dari domba,” katanya.
BACA JUGA: Bank Pakan Dukung Peternakan Gunungkidul
Dia menambahkan, untuk pembibitan dilakukan dengan menempatkan satu domba jantan bersama dengan 25 ekor betina. Setelah menghasilkan anakan domba akan dipelihara selama enam bulan kemudian dijual.
Hingga sekarang, Ari mengakui pemasaran masih seputaran Pulau Jawa. Meski demikian, ia tidak menampik budidaya ini memiliki nilai bisnis yang baik karena domba berusia enam bulan dihargai Rp150.000 per kilonya.
“Untuk satu ekornya bobot bisa lebih dari 30 kilogram. untuk makannya juga mudah karena apa-apa mau,” katanya.
Disinggung mengenai serangan LSD maupun Penyakit Mulut dan Kuku, Ari mengatakan bahwa kasus bisa terkendali dan kondisi di kandang sudah terhindar dari penyebaran penyakit tersebut. “Sudah aman, tapi kami tetap mewaspadainya,” katanya.
Salah seorang warga Baleharjo, Kapanewon Wonosari, Alex mengaku sudah melihat budidaya domba dorper di Dusun Karangtengah 2, Karangtengah, Wonosari. Menurutnya, pemeliharaan dilakukan dengan baik karena dipelihara secara modern yang terlihat dari pembuatan kandangnya. “Bau dari domba bisa ditekan sehingga tidak menganggu bagi yang berkunjung,” katanya.
Alex mengaku tertarik dengan budidaya ini karena pemanfaatan tidak hanya pada domba, tapi bulunya juga bisa diperjualbelikan. “Kebetulan saat berkunjung ada aktivitas pencukuran bulu-bulu domba,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Kelor, Kemadang, Tanjungsari mengeluhkan serangan monyet ekor panjang yang merusak area pertanian yang dimiliki karena bisa gagal panen.
Karhutla Gunung Bromo di kawasan TNBTS berhasil dipadamkan. Luas area terbakar mencapai 1.120 hektare di empat kabupaten.
Purbaya menyebut penerimaan bea keluar emas nyaris nol. Dari target Rp3 triliun 2026, realisasi hingga Semester I baru 0,03%.
RSUD Panembahan Senopati Bantul meluncurkan Si Banter untuk mempermudah pembayaran tagihan rumah sakit melalui digitalisasi dan QRIS.
Prabowo menyebut Indonesia menghabiskan hingga Rp535 triliun per tahun untuk impor BBM. Pemerintah mendorong kendaraan listrik dan EBT.
Cek desil bansos 2026 lewat HP menggunakan NIK. Kenali 5 desil prioritas PKH, BPNT, Sembako, dan BLT Kesra Rp900.000.