Terungkap! Istri Gorok Leher Suami di Bantul, Dipicu Chat Selingkuh
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Suasana acara Aksi Bergizi di Pleret, yang mengenalkan potensi dan dampak stunting kepada remaja putri di Kabupaten Bantul, Jumat (8/9/2023).
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul menargetkan angka stunting di wilayahnya berada di angka 12% pada 2024 mendatang. Jumlah itu lebih kecil dibandingkan target nasional yang mematok angka 14% stunting pada 2024 mendatang.
Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Kabupaten Bantul Joko Purnomo menjelaskan, upaya pencegahan stunting di wilayahnya sudah dimulai dari remaja perempuan yang sekarang duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka dikenalkan dengan potensi stunting saat menikah dan masa mengandung nanti.
"Perempuan ini kan berisiko mengandung anak yang stunting. Ketika mereka hamil mungkin kesehatan tidak terkontrol, asupan gizi kurang, kehamilan tidak terjaga dengan baik, sampai melahirkan dan balita tidak diberikan asupan gizi baik sehingga menimbulkan stunting," kata Joko dalam acara Aksi Bergizi di Pleret, Jumat (8/9/2023).
Joko menjelaskan, perempuan punya peran penting untuk menjaga anak yang dilahirkan agar tidak mengalami stunting, sehingga sejak remaja mereka sudah harus paham tentang potensi kesehatan yang nantinya berisiko menimbulkan stunting pada anak. Seperti misalnya anemia, asupan gizi yang cukup dan lainnya.
"Generasi muda terutama yang perempuan ini jadi sasaran kami dalam jemput bola mencegah stunting. Kemudian juga calon pengantin dan ibu-ibu penggerak di tingkat kalurahan agar mereka terus menyampaikan informasi ajakan kaitannya dengan kebiasaan hidup sehat," jelasnya.
BACA JUGA: Polutan PM 2.5 Bisa Memicu Gagal Jantung, Ini Penjelasannya
Stunting diketahui menjadi salah satu persoalan kesehatan yang tengah serius dihadapi oleh pemerintah. Stunting adalah kondisi pertumbuhan yang terhambat pada anak-anak yang ditandai dengan tinggi badan yang sangat pendek dibandingkan dengan usia mereka. Pencegahannya bisa dimulai dari persiapan kehamilan ibu bahkan sejak remaja sampai usia dua tahun usia anak.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Agus Tri Widyantara mengatakan, angka stunting tahun 2020 di wilayahnya tercatat 9,70%. Data di Puskesmas Pleret pada 2021 dari 752 ibu hamil ditemukan 278 ibu hamil yang anemia (36,9%) dan 66 bayi berisiko stunting dari 678 bayi yang lahir (9,73%). Angka ini menurun di 2022 dari 770 ibu hamil ditemukan 263 ibu hamil yang anemia (34,2%) dan 65 bayi lahir berisiko stunting dari 619 bayi lahir di 2022 (10,50%).
"Sekarang secara keseluruhan angka stunting di Bantul ada sebanyak 3.001 atau 15%. Dengan wilayah terbanyak ada di Kapanewon Imogiri dengan jumlah 453. Target kita nasional kan 2024 di angka 14%, sementara Bantul kita targetkan 12% pada tahun depan," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Lima WNI ditahan Israel saat misi kemanusiaan ke Gaza. Pemerintah RI mendesak pembebasan dan perlindungan.
UMKM di RTP Bulak Tabak Kulonprogo mengeluh sepi pembeli saat musim haji 2026, dampak ekonomi dari embarkasi belum terasa.
Polda DIY lakukan asistensi kasus Shinta Komala di Sleman. Dua perkara diusut, polisi pastikan penanganan sesuai SOP.
DPRD DIY memastikan tidak ada pemberhentian guru non-ASN. Penugasan diperpanjang hingga 2026, kesejahteraan tetap dijaga.
Jumlah menara telekomunikasi di Bantul capai 300 unit. Diskominfo sebut minat investasi mulai menurun seiring kebutuhan yang tercukupi.