Pengelola Wisata di Gunungkidul Dilatih Penanganan Korban Kecelakaan
Advertisement
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pariwisata DIY bekerja sama dengan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM menyelenggarakan Pelatihan Respon Cepat Kasus Kegawatan Kesehatan di Area Destinasi Wisata di Camping Ground Kedungkandang di Kalurahan Nglenggeran, Patuk, Selasa (3/10/2023). Pelatihan ini bertujuan memberikan rasa aman dan nyaman kepada wisatawan yang berkunjung.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Akademik, RSA UGM, Ika Puspitasari mengatakan kerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY untuk memberikan pelatihan kegawatdaruratan di area wisata merupakan bentuk komitmen dari RSA UGM untuk ikut berperan dalam memajukan perekonomian di DIY. Salah satunya lewat partisipasi dalam pengembangan di sektor kepariwisataan.
Advertisement
Adapun cara yang dilakukan dengan memberikan pelatihan bagi pengelola wisataa untuk penanganan medis saat terjadi insiden kecelakaan maupun peristiwa lainnya seperti pingsan, henti nafas, henti jantung, tenggelam dan lain sebagainya. Diharapkan dengan pelatihan ini, maka pengelola bisa memberikan penanganan pertama sehingga insiden yang terjadi tidak berakibat fatal.
“Ada pelatihannya dan pengelola wisata diberikan tata cara untuk menangani masalah kegawatdaruratan saat terjadi suatu insiden,” katanya kepada wartawan, Selasa siang.
Meski pelatihan ini masih awal, namun ia berkomitmen dan berharap agar kegiatan yang sama bisa diselenggarakan di seluruh destinasi wisata lainna. “Masing-masing destinasi memiliki ciri khas tersendiri, sehingga penanganan disesuaikan dengan potensi kerawanan. Harapannya, pelatihan bisa digelar di seluruh destinasi sehingga upaya mewujudkan rasan aman dan nyaman ke pengunjung benar-benar dapat terlaksana,” katanya.
Pelaksana Harian Kepala Dinas Pariwisata DIY, Kurniawan mengapresiasi adanya kegiatan mitigasi kesehatan di area wisata yang diselenggarakan dengan RSA UGM. Menurut dia, potensi kecelakaan di area wisata sangat banyak dan memiliki karakter berbeda-beda disetiap destinasi.
Potensi kecelakaan di destinasi membutuhkan langkah antisipasi sehingga pada saat terjadi insiden bisa segera tertangani. Oleh karenanya, ada upaya meningkatkan kemampuan para pengelola destinasi wisata dalam menangani kecelakaan wisata.
“Kalau pengelola memiliki kemampuan seperti itu, tentu akan menambah kepercayaan dari wisatawan tentang masalah keamanan dan kenyamanan,” katanya.
Ke depannya, kemampuan memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan wisatawan ini akan menjadi standarisasi dalam pengelolaan destinasi wisata, terutama yang dikelola masyarakat. “Makanya pengelola wisata diberikan bekal berupa pelatihan penanganan kegawatdaruratan,” katanya. (BC)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Yogyakarta Marriott Hotel Ajak Tamu Nikmati Keajaiban Natal 2024 dan Tahun Baru 2025
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement