Advertisement
Pertumbuhan UMKM Perikanan Bantul Cuma 10% Per Tahun, Ini Penyebabnya
Ilustrasi nelayan membongkar ikan dari kapal. - Istimewa
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mencatat pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) baru di sektor pengolahan hasil perikanan di Bantul sekitar 10% per tahun. Ketersediaan bahan baku ikan masih jadi kendala dalam menjaga stabilitas pertumbuhan UMKM tersebut.
Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Kelautan dan Perikanan DKP Bantul, Doni Muhammad Irawan menyampaikan hingga saat ini ketersediaan ikan sebagai bahan baru produk olahan pangan berbasis perikanan terus mengikuti mekanisme pasar.
Advertisement
Dia menuturkan beberapa pelaku UMKM telah bekerjasama dengan pemasok baik dari dalam dan luar Bantul untuk menjaga kestabilan rantai pasokan.
"Suplai ikan termasuk mekanisme pasar, ayang yang produksi ikan, ada yang menggunakan. Beberapa [pelaku UMKM] mengolah sesuai kebutuhan, ada yang mendatangkan dari luar [Bantul] untuk menjaga kontinuitas jumlah dan kualitas," paparnya Rabu (7/2/2024).
Selama ini, menurut Doni, pelaku UMKM telah berupaya melakukan substitusi bahan baku produk olahannya, apabila komoditas ikan yang menjadi bahan bakunya tidak tersedia lantaran di musim tertentu.
"Ikan tergantung musim juga, ikan laut musim tertentu masuk [tersedia], kalau paceklik kesulitan juga. Mereka menggunakan tadinya ikan tuna, [saat ikan tuna] lagi susah berganti ke ikan barakuda," imbuhnya.
Dia pun mendorong pelaku UMKM berjejaring dengan produsen ikan untuk menjaga stabilitas pasokan bahan baku.
Dia menuturkan saat ini jumlah pelaku UMKM sektor pengolahan hasil perikanan di Bantul masih minim, hanya ada 30 UMKM binaan DKP Bantul, dan beberapa UMKM lain yang bergerak secara mandiri.
BACA JUGA: 5 Unit Pengolahan Ikan di Sleman Digelontor Rp1,5 Miliar
Terhadap para pelaku UMKM, Doni menuturkan telah diberikan pembinaan dan fasilitasi perizinan, pelatihan pengolahan produk olahan perikanan, manajemen usaha, hingga pemasaran produk.
Meski pertumbuhan UMKM baru yang bergerak dalam pengolahan hasil perikanan masih tergolong minim, DKP Bantul terus dorong pertumbuhan UMKM baru melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.
Menurut Doni, UMKM binaan DKP Bantul seluruhnya telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB), sertifikat halal, dan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) dan izin edar.
"Kami juga mendorong mereka untuk ke arah tersebut [kelengkapan perizinan], supaya jangkauannya lebih luas dan masuk ke pasar modern," ujarnya.
Saat ini menurut Doni, pelaku UMKM tersebut telah memasuki berbagai marketplace, minimarket dan toko ritel. Sehingga menurutnya pemasaran produk UMKM tersebut sudah terjalin meluas antarwilayah.
Kembali dia menegaskan masih ada potensi yang besar bagi perkembangan industri rumah tangga pengolahan ikan di Bantul. Dia pun berharap potensi tersebut dapat ditangkap masyakat dengan baik.
Terpisah, pemilik Lesigor, Nanang Irawan mengaku setiap bulan telah mengikuti pendampingan dari DKP Bantul. Nanang yang selama ini memproduksi produk olahan lele mengaku pengurusan perizinan usahanya pun telah difasilitasi DKP Bantul. "Setiap bulan ada pertemuan dengan kelompok pengolah dan pemasaran iman di DKP Bantul," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Kedatangan Jenazah Prajurit TNI dari Lebanon Dikawal Puluhan Personel
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








