Jemaah Haji Gunungkidul Tiba di Makkah, Siap Jalani Puncak Ibadah
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Foto ilustrasi. - ist/BPBD Gunungkidul
Harianjogja.com, SLEMAN—BPBD Sleman mencatat sepanjang 2024, ada peristiwa tiga joglo ambruk karena embusan angin kencang. Akibat peristiwa ini tak hanya menimbulkan kerugian material, tapi juga ada korban jiwa.
Kepala BPBD Sleman, Makwan mengatakan, pembangunan joglo saat ini sedang ngetren. Pasalnya, banyak sekali rumah adat gaya Jawa ini yang dibangun untuk keperluan pertemuan, resto hingga koleksi pribadi di wilayah Bumi Sembada.
Menurut dia, tidak ada yang salah dengan pembangunan ini, namun sisi keamanan harus benar-benar diperhatikan. Pasalnya, konstruksi bangunan ini sangat rawan bencana saat terjadinya hujan deras yang disertai dengan angin kencang.
BACA JUGA : Dampak Hujan Deras di Sleman, Pohon Bertumbangan
“Kalau untuk gempa, masih aman. Tapi, untuk angin kencang bisa menyebabkan ambruk karena konstruksinya yang hanya menggunakan batu sebagai tiang peyangga bangunan,” katanya, Senin (26/2/2024).
Ia mencatat selama musim hujan kali ini sudah ada lima peritiwa joglo ambruk. Dua peristiwa terjadi di akhir 2023 dan tiga lainnya terjadi di 2024.
Adapun rincian kejadian di 2024 terjadi pada 26 Januari lalu di Kapanewon Berbah hingga menyebabkan korban meninggal dunia karena tertimpa reruntuhan. Adapun dua peristiwa lainnya terjadi pada Minggu (25/2/2024) di Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman.
“Kalau yang kemarin [di Kalurahan Trimulyo] tidak ada korban jiwanya. Satu joglo yang rencananya untuk pertemuan milik kalurahan dan satunya lagi milik pribadi,” katanya.
Menurut dia, untuk mengurangi risiko joglo ambruk dengan cara memperkuat konstuksi, terutama menyangkut dengan pondasi dengan tiang penyangga bangunan. Di sisi lain, ia menyarankan agar Masyarakat tidak berteduh di joglo pada saat terjadi hujan deras.
“Jangan sampai kejadian di Berbah terulang. Yang jelas, kalau bisa saat hujan jangan berteduh di Joglo,” katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Sleman, Bambang Kuntoro mengatakan, potensi cuaca ekstrem masih sangat mungkin terjadi. Oleh karenana itu, ia meminta kepada Masyarakat untuk lebih berhati-hati pada saat beraktivitas di luar rumah.
BACA JUGA : Hujan Deras dan Angin Kencang, Harga Sayur Bisa Naik
Menurut dia, upaya mitigasi bencana terus dilakukan, namun untuk pelaksanaannya juga butuh partisipasi Masyarakat. Sebagai gambaran, guna mengurangi risiko pohon tumbang, Masyarakat dapat berperan dengan memangkas atau mengurangi dahan dan ranting pohon yang telah rimbun.
“Begitu juga untuk banjir harus dipastikan saluran pembuangan bisa lancar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Sultan HB X dorong Raperda perfilman dan karst untuk lindungi budaya dan lingkungan Jogja secara berkelanjutan.
Sebanyak 1.222 ketua RT dan RW di Kota Magelang menerima honorarium 2026, sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian.
Mahasiswa di Sleman jadi korban pengeroyokan OTK dini hari. Dua gigi patah, polisi masih selidiki pelaku dan motif kejadian.
Penderita hipertensi tetap boleh makan daging kurban saat Iduladha. Simak batas aman konsumsi, cara memasak, dan tips sehat dari dokter.
Harga bahan pokok di Sleman jelang Iduladha 2026 relatif stabil. Cabai merah keriting naik 19,58%, sementara telur dan ayam justru turun.