Advertisement
Nilai Tukar Rupiah Melemah, Disperindag DIY Mewaspadai Kenaikan Harga Pangan

Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY mewaspadai kenaikan harga bahan pangan yang diperoleh dari aktivitas impor akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Beberapa hari terakhir rupiah melemah cukup signifikan dan terbaru mencapai Rp16.200 per dolar AS.
Kepala Disperindag DIY Syam Arjayanti mengatakan, melemahnya rupiah terhadap dolar AS sangat berdampak pada aktivitas ekspor impor. Hanya saja dalam jangka pendek imbasnya belum terlalu dirasakan oleh sektor riil dan diharapkan fenomena ekonomi tersebut tidak bertahan dalam jangka waktu yang lama.
Advertisement
"Dampaknya dalam jangka pendek belum terlihat karena mereka biasanya pembelian sudah dikontrak dan inden pembelian beberapa bulan ke depan, tapi dari sisi ekspor fenomena ini menguntungkan pelaku usaha. Semoga enggak berlanjut lama," katanya, Rabu (17/4/2024).
BACA JUGA: Wisata DIY Lesu, Ini Saran Asita untuk Perbaikan Sektor Pariwisata
Syam menjelaskan, biasanya bahan baku industri yang diperoleh dari impor dibeli dengan sistem borongan dan dikontrak jauh-jauh hari. Harga yang berlaku pun disesuaikan dengan kondisi ekonomi pada saat itu. Hanya saja pihaknya tetap mengantisipasi jika pelemahan rupiah ini berlarut-larut, sehingga berdampak pada sejumlah sektor.
"Sektor retail misalnya itu kan ga kontrak di awal tentu pengaruh terhadap harga impor, pasti lebih mahal," jelasnya.
Selain itu, kebutuhan pangan yang diperoleh dari aktivitas perdagangan luar negeri pun ditakutkan bakal berpengaruh. Seperti harga bawang putih atau tepung terigu. Pihaknya belum melihat adanya kenaikan harga di pasar tradisional dan modern terhadap sejumlah bahan pangan itu imbas dari melemahnya rupiah terhadap dolar AS.
"Kalau di pasar belum naik signifikan karena biasanya mereka by proses. Pedagang juga masih habiskan stok lama. Distributor kami juga tidak ada yang importir langsung ya dari luar negeri," ujarnya.
Syam menambahkan, strategi pasar murah akan dijalankan jika bahan pangan utama terdampak dari menguatnya dolar AS terhadap rupiah. Pihaknya akan berkoordinasi pula dengan TPID dan instansi lain agar kondisi ini tidak berlanjut dengan dampak melemahnya daya beli masyarakat dan naiknya inflasi.
"Kami ya masih pada program pasar murah dan operasi pasar diteruskan jika kondisi ini berdampak pada harga pangan. Akan kami titik beratkan pada bahan pangan yang terdampak dolar [penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat] itu. Semoga daya beli masyarakat enggak menurun," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Ada Gempa Magnitudo 5 Ditenggara Cilacap, BPBD: Kami Masih Lakukan Pemantauan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Kegiatan Monoton dan Kurang Menarik Jadi Pengganjal Peningkatan Lama Tinggal Wisatawan di DIY
- Ingin Hasil ASPD Optimal, Dinas Pendidikan Gunungkidul Gelar Tryout
- Talut Ambrol di Jalur Clongop Gedangsari Diperbaiki dengan Anggaran Rp15 Miliar
- Kendaraan Keluar DIY Via Entry Tol Tamanmartani Meningkat, Sempat Dekati 1.000 Kendaraan Per Jam
- Jalur Wisata Pantai di Gunungkidul Ramai Lancar
Advertisement
Advertisement