Pilur di 31 Kalurahan, DPRD Gunungkidul Minta Warga Cerdas Memilih
Pilur serentak digelar di 31 kalurahan Gunungkidul September 2026. DPRD meminta warga aktif mengawasi tahapan dan cerdas memilih.
Foto ilustrasi siswa SMA - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Seluruh SMA Negeri di DIY menerapkan Kurikulum Merdeka tahun ini. Dengan begitu tidak ada lagi pembagian jurusan seperti IPS, IPA dan bahasa pada jenjang kelas XI SMA.
Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) DIY mengklaim penerapan Kurikulum Merdeka memungkinkan murid untuk semakin mematangkan minat dan aspirasi mata pelajaran dan berdampak pada kesesuaian jurusan di perguruan tinggi.
Program yang sudah dijalankan selama tiga tahun di seluruh Indonesia termasuk DIY itu mengkonsepkan metode pembelajaran pada minat dan bakat murid dalam memilih mata pelajaran. Dengan begitu tidak ada lagi pembagian jurusan seperti IPS, IPA dan bahasa pada jenjang kelas XI SMA.
BACA JUGA: Mendampingi Anak untuk Merdeka Belajar
Kepala Dikpora DIY Didik Wardaya menjelaskan, Kurikulum Merdeka bukan sepenuhnya menghapus program peminatan mata pelajaran di SMAN. Hanya saja pembagian jurusan IPA, IPS dan bahasa memang tidak lagi diberlakukan dan diganti dengan preferensi jurusan yang nanti akan diambil murid di kampus.
"Justru murid kalau sukanya fisika yang dikembangkan fisika. Jadi secara keseluruhan nanti yang kelas 3 SMA kalau lulus sudah menyesuaikan dan menyambung dengan jurusan yang mereka inginkan di perguruan tinggi," kata Kepala Dikpora DIY Didik Wardaya, Kamis (18/7/2024).
Didik menjelaskan, tidak ada kendala yang dilaporkan sekolah dalam penerapan Kurikulum Merdeka itu. Pada tahun ajaran ini semua SMA pada jenjang kelas X sudah sepenuhnya menerapkan kurikulum tersebut. Sementara beberapa sekolah di Kota Jogja bahkan ada yang sudah menjalankan sejak tahun lalu.
"Kalau di Kota Jogja SMAN 10 dan SMAN 6 itu sudah tahun kemarin, kalau yang lain mulai tahun ini. Gunungkidul itu sudah ada beberapa SMAN yakni SMAN 1 Gunungkidul itu malah sudah 3 tahun Kurikulum Merdeka," katanya.
Menurut Didik, dalam penerapan Kurikulum Merdeka pemerintah juga memfasilitasi tenaga pendidik dengan program guru penggerak. Mereka dilatih selama satu bulan untuk lebih paham terkait dengan Kurikulum Merdeka, sehingga semakin optimal saat memberikan materi pelajaran kepada murid.
BACA JUGA: Soal Kurikulum Merdeka, Nadiem: Kreativitas dan Potensi Siswa Terwadahi
Kepala Sekolah SMAN 10 Jogja Sri Moerni mengatakan, sekolahnya sudah dua tahun belakangan menerapkan program Kurikulum Merdeka. Murid kini lebih fokus pada mata pelajaran yang diminatinya berdasarkan pilihan jurusan yang nantinya akan diambil di perguruan tinggi.
"Misalkan murid kecenderungan ke kedokteran, maka dari itu kami siapkan jurusan yang mengarah ke sana. Komposisinya ada biologi, kimia, fisika, dan matematika," ungkapnya.
Dalam Kurikulum Merdeka ini pun murid nantinya bisa berbeda kelas. SMAN 10 Jogja sekarang mempunyai enam kelas X dan XI. Di sisi lain konsep tinggal kelas saat murid dinilai belum mampu memenuhi standar penilaian di setiap jenjang pun perlahan-lahan tidak lagi dipopulerkan.
"Sekarang predikatnya itu belum berkembang, sudah berkembang dan sangat berkembang. Jadi kalau naik kelas XI dengan kriteria sudah berkembang atau sangat berkembang itu diasumsikan bahwa anak siap untuk lanjut. Kalau ada mata pelajaran yang belum berkembang nanti di kelas selanjutnya digodok kembali," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur serentak digelar di 31 kalurahan Gunungkidul September 2026. DPRD meminta warga aktif mengawasi tahapan dan cerdas memilih.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN membuka kanal khusus bagi guru untuk melaporkan keluhan, temuan, dan pengaduan terkait pelaksanaan Program MBG di sekolah.
Sebanyak 212 orang berhasil dievakuasi dari kebakaran KMP Putri Yasmin di Selat Lombok. SAR melanjutkan pencarian pada Kamis.
Heatstroke dapat mengancam nyawa saat cuaca panas. Kenali gejala, pertolongan pertama, dan kelompok yang lebih rentan mengalaminya.
Djumari, 76, meninggal saat tadarus Al-Qur'an di Masjid Nurul Huda Semarang. Detik-detik kepergiannya terekam CCTV dan viral.