Pemkab Sleman Salurkan Bantuan TJSP Rp6,7 Miliar, Sasar Ribuan Warga
Pemkab Sleman bersama Forum TJSP menyalurkan bantuan Rp6,7 miliar melalui Gebyar TJSP Merdeka 2026 untuk beasiswa, sembako, modal usaha, bantuan disabilitas
Sungai tercemar. - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul menyebutkan ada tujuh sungai yang tercemar dan tidak memenuhi baku mutu air.
Pejabat Fungsional Pengawas Lingkungan Hidup DLH Gunungkidul Fitri Iswinayu mengatakan uji kualitas air permukaan dilakukan pada tiga segmen, yaitu hulu, tengah dan hilir. Sungai utama yang diuji yakni Sungai Oya beserta anak-anak sungainya.
Total ada 14 sungai yang menjadi objek uji penelitian air permukaan dengan dua hasil, yaitu cemar ringan (CR) dan memenuhi (M). Sungai dengan kategori CR ada tujuh, yakni Sungai Oya Semin, Sungai Besole, Sungai Krapyak/Pancuran, Sungai Oya Getas, Sungai Ngalang, Sungai Widoro dan Sungai Pentung.
Untuk sungai dengan kategori M yakni Sungai Oya Karangtengah, Sungai Oyo Watusigar, Sungai Gedangan, Sungai Kluwih Blimbing, Sungai Wareng, Sungai Oyo Bleberan dan Sungai Oyo Jelok.
Fitri menjelaskan standar kualitas air yang DLH pakai adalah baku mutu air sungai kelas II yang peruntukannya untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan dan pengairan pertanaman.
“Kalau melihat indeks kualitas air semester I 2024 itu nilainya 57,50 dari target 36,00,” ungkapnya, Rabu (30/10/2024). Uji kualitas air permukaan dilakukan setahun dua kali. Uji pertama ketika musim kemarau dan kedua ketika musim hujan.
BACA JUGA: Puluhan Tahun Terbengkalai, Bangunan Gama Bookstore Akhirnya Dirobohkan Tahun Ini
Hasil uji laboratorium air permukaan memiliki perbedaan jauh di dua musim tersebut. Ketika musim kemarau, kualitas air cenderuk buruk lantaran limbah yang ada terkonsentrasi. Sementara ketika musim hujan, kualitas air cenderung baik mengingat limbah terurai akibat debit air yang besar.
“Uji kualitas air permukaan kan arahnya ke air sungai sebagai salah satu indikator penyusun IKLH [indeks kualitas lingkungan hidup],” katanya. Sumber pencemar biasanya berasal dari limbah rumah tangga, industri rumahan dan pertanian yang menggunakan pupuk kimia.
Kepala DLH Gunungkidul Antonius Hary Sukmono mengungkapkan upaya menjaga kualitas air permukaan tanah perlu dilakukan bersama-sama, bukan hanya Dinas atau pemerhati kali.
“Pelibatan elenen masyarakat untuk gerakan menjaga kualitas air dengan mengurangi timbulan polutan di sungai. Caranya ya bisa dari sumber rumah tangga untuk membuat instalasi pengolahan air limbah. Jadi tidak langsung dibuang ke kali,” tuturnya.
Hary menambahkan masyarakat juga perlu menjaga dan mengurangi timbulan sampah di sungai. Selain itu, penting untuk meenerapkan gerakan vegatasi yang dapat mempertahankan keberadaan air. Beberapa pohon yang dapat menyimpan dan mengelola air pohon aren, gayam dan bambu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Sleman bersama Forum TJSP menyalurkan bantuan Rp6,7 miliar melalui Gebyar TJSP Merdeka 2026 untuk beasiswa, sembako, modal usaha, bantuan disabilitas
Harga pangan nasional Jumat 21 Agustus 2026 mencatat cabai rawit merah Rp69.200 per kg dan telur ayam ras Rp29.250 per kg
OTT KPK terhadap Rektor Unsoed menambah daftar pimpinan kampus yang terseret korupsi. Simak deretan kasus rektor yang pernah berhadapan dengan hukum.
Toyota batasi pasokan GR GT 200-250 unit di AS. Strategi cegah spekulan. Harga mulai Rp3,4 miliar, mesin V8 hybrid 641 hp.
Meta paling rakus data pengguna dengan 25 jenis data. Google kedua dengan 17 jenis. Riset Surfshark ungkap rahasia Big Tech.
Aldila Sutjiadi/Erin Routliffe gagal ke semifinal Cincinnati Open 2026. Kalah 5-7, 5-7 dari Bouzkova/Noskova di perempat final.