Penemuan 11 Bayi di Pakem Jadi Alarm Pengawasan
Bupati Sleman Harda Kiswaya instruksikan evaluasi total perizinan daycare dan pengasuhan anak seusai penemuan 11 bayi di Pakem. Simak kelanjutan kasusnya di sin
Ilustrasi anak kena gondongan. - Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Gunungkidul melakukan pemetaan terhadap persebaran penyakit gondongan di satuan pendidikan seluruh kapanewon di Bumi Handayani.
Kepala Disdik Gunungkidul, Nunuk Setyowati mengatakan pihaknya telah bertemu dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Ismono untuk membicarakan angka kasus gondong di usia anak pada Jumat (15/11/2024) pagi.
Dari pertemuan itu, Disdik menemukan ada 1.050 kasus gondongan sejak awal 2024. Angka tersebut merupakan akumulasi. Artinya, ada pelajar yang sudah kembali mengikuti kegiatan belajar-mengajar. “Data keseluruhan saya belum tahu. Tetapi sebagian anak sudah masuk,” kata Nunuk dihubungi, Jumat.
Nunuk menambahkan Disdik juga telah memetakan persebaran kasus gondongan di satuan pendidian setelah mendapat informasi pada Kamis (14/11/2024) siang. Pemetaan ini dia harapkan dapat mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan virus Paramyxovirus tersebut. “Sebagian sekolah sudah saya telfon. Saya mengimbau agar anak yang terkena gondong istirahat minimal sepuluh menit,” katanya.
Sekretaris Disdik Gunungkidul, Agus Subariyanta mengatakan pemetaan yang Disdik lakukan bukan dalam bentuk kanal website. Disdik lebih memaksimalkan Whatsapp Group sekolah-sekolah untuk melakukan pendataan. “Kami baru mapping potensi awal. Saya minta di Whatsapp Group saja untuk melaporkan, yang sembuh berapa dan tindakan sekolah apa,” kata Agus.
BACA JUGA: Penyakit Gondongan di Gunungkidul Tembus 1.050 Kasus
Menurut Agus, beberapa sekolah telah melakukan koordinasi dengan Puskesmas dalam melakukan edukasi dan penanganan gondong terhadap pelajar. Kata dia, tidak semua pelajar memeriksakan diri ke Puskesmas. Ada juga pelajar yang pergi ke praktik dokter secara mandiri.
Dia mengaku kaget ada 1.050 kasus gondong yang menyerang anak-anak. Meski ribuan kasus, namun angka tersebut tidak merepresentasikan beberapa sekolah saja. Persebarannya merata. “Dalam satu sekolah hanya ada satu atau dua saja anak terkena gondong,” katanya.
Lebih jauh, Agus menerangkan masih ada satuan pendidikan yang tidak menyadari gejala penyakit gondong. Pasalnya, gejala ini mirip dengan flu biasa. Adapun tindakan preventif yang Disdik telah lakukan melalui Gerakan Sekolah Sehat (GSS).
Diketahui, penyakit gondongan disebabkan oleh infeksi virus Paramyxovirus. Penyakit ini dipicu oleh pembengkakan kelenjar parotis akibat infeksi virus Paramyxovirus. Kelenjar parotis merupakan kelenjar terbesar dari tiga kelenjar ludah utama.
Penyakit ini ditandai dengan pembengkakan pada area wajah, tepatnya pada area di bawah telinga. Lantaran disebabkan oleh infeksi virus, maka penyakit gondongan dapat menular. Proses penularannya pun sama dengan penularan flu, yaitu melalui percikan air liur atau ludah, batuk, dan bersin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Bupati Sleman Harda Kiswaya instruksikan evaluasi total perizinan daycare dan pengasuhan anak seusai penemuan 11 bayi di Pakem. Simak kelanjutan kasusnya di sin
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.
Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta menunda keberangkatan 89 calon haji nonprosedural yang memakai visa kerja hingga iqama.