Advertisement
ITF Niten Ditarget Olah Sampah hingga 20 Ton Per Hari, Pemkab Bantul Siapkan Rp5,3 Miliar
Petugas mengolah sampah di ITF Niten pada Minggu (19/12/2024). - Harian Jogja/Stefani Yulindriani
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul akan menambah alat pengolahan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Niten tahun depan. Penambahan alat tersebut untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah di sana.
Kepala DLH Bantul, Bambang Purwadi Nugroho menyampaikan penambahan alat tersebut untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah dari 5 ton per hari menjadi 20 ton per hari. "Penambahan alat [pengolah sampah] menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah [APBD]," ujarnya, Minggu (29/12/2024).
Advertisement
Bambang menyebut untuk mengejar target peningkatan kapasitas sampah yang mampu diolah di ITF Niten, pihaknya akan menambah rotary drying atau alat pengering sampah dan modul pengolah Refuse Derived Fuel (RDF).
Kemudian, pihaknya juga melakukan penataan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) agar mampu mengolah limbah dari tambahan kapasitas sampah yang diolah.
Bambang menuturkan alokasi anggaran yang dikucurkan untuk menyelesaikan proyek tersebut mencapai Rp5,3 miliar.
BACA JUGA: Diuji Coba sejak 2 Pekan Lalu, Begini Hasil Evaluasi Kerja Pengolahan Sampah di ITF Niten
Dia menargetkan, pengolahan sampah disana dapat rampung pada pertengahan tahun 2025. "Jangka waktu rampung sekitar Mei hingga Juni 2025," ujarnya.
Sementara Penanggungjawab ITF Niten, Rahmat Riyadi menuturkan kapasitas pengolahan sampah ITF Niten belum menentu. Setiap hari, ITF Niten mampu mengolah sekitar 6 ton. Sampah tersebut berasal dari sampah pasar dan sampah masyarakat sekitar.
Dia mengaku sampah masyarakat yang diolah di ITF Niten jumlahnya lebih tinggi dibandingkan dengan sampah pasar yang diolah. "Sampah dari luar pasar bisa mencapai dua Tossa [motor roda tiga], dengan kapasitas masing-masing Tossa sekitar 400 kilogram. Kemudian ada sampah dari dump truck sekitar 2,5 ton," ujarnya
Dia mengaku sampah yang ada pun belum dipilah. Sampah organik dan organik masih bercampur. Hal itu menurutnya menjadi kendala petugas untuk mengolah sampah yang ada, karena petugas perlu waktu lebih lama untuk mengolah sampah karena harus membongkar sampah sebelum masuk ke alat pengolahan. "Ada sampah pampers juga, padahal itu enggak bisa kita olah," katanya.
Dia pun berharap agar rencana penambahan alat untuk pengolahan sampah tahun depan mampu mendukung pengolahan sampah di tempat itu. "Karena alat yang ada sekarang belum mampu mengolah sampah hingga 10 ton," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Trump Ingin Konflik Iran Cepat Usai, Tekanan Justru Meningkat
Advertisement
Bioskop Nyaman Rp5 Ribu di Museum Sonobudoyo Masih Sepi Peminat
Advertisement
Berita Populer
- Tol Jogja-Solo Padat, 19.156 Kendaraan Lewat GT Purwomartani
- Geger Bau Bangkai Menyengat, Warga Kulonprogo Temukan Jenazah Pria
- KA Gajayana Menemper Orang di Kalasan, KAI Ingatkan Area Steril
- Pemkab Gunungkidul Tunggu Aturan WFH Pusat demi Hemat BBM
- Dispar Kulonprogo Catat Lonjakan Wisatawan, Congot Ungguli Glagah
Advertisement
Advertisement





