Satu Bakal Calon Lurah Absen Tes Tambahan di Gunungkidul
Satu bakal calon lurah dari Monggol absen dalam tes tambahan di Gunungkidul. Seleksi diikuti 15 peserta dari Monggol dan Sampang.
Panen padi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kabar baik bagi petani Gunungkidul yang memasuki panen raya padi. Pasalnya, Bulog sejak Februari 2025 mengintensifkan program penyerapan panen gabah milik petani.
Penyuluh Pertanian di Balai Penyuluhan Pertanian Semanu, Sudiyatna mengatakan, sejak pertengahan Februari 2025 para petani sudah mulai panen raya padi dan berlangsung hingga sekarang. Di saat stok melimpah ada program pembelian gabah oleh Bulog.
“Saya mencatat, pihak Bulog sudah membeli gabah milik petani sebanyak lima kali. Selain hari ini, pembelian sudah terlaksana pada 22, 24, 25 dan 28 Februari 2025,” kata Sudiyatna, Jumat (7/3/2025).
BACA JUGA: Harga Gabah Dibawah Standar, Dinas Pertanian Kulonprogo Pertemukan Petani dan Bulog
Langkah Bulog menyerap gabah petani, dinilainya adalah kabar baik. Sebab, para petani bisa memeroleh pendapatan dengan menjual hasil panen yang dimiliki. Meski belum tahu seberapa banyak gabah yang diserap Bulog, namun Sudiyatna memperkirakan sudah lebih dari lima ton yang dibeli, khususnya dari petani di Kalurahan Pacarejo.
“Hari ini ada sekitar 100 karung yang dibeli dan kemungkinan masih bisa bertambah. Mudah-mudahan ini bagus bagi para petani,” katanya.
Menurutnya, dari sisi panen hasilnya lumayan bagus. Diharapakan program penyerapan gabah dari petani lokal bisa terus dijalankan sehingga warga tidak kesulitan menjual hasil panennya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Lurah Pacarejo, Semaun Suhadi. Pihaknya ikut melihat proses pembelian gabah milik petani yang dilakukan Bulog.
“Kalau jumlah yang diserap berapa, Bulog lebih tahu. Yang jelas, kami ikut senang karena panen padi yang dihasilkan bisa dijual,” katanya.
Menurut dia, dari sisi harga juga lebih tinggi dari yang ditawar tengkulak. Suhadi mengatakan, untuk tengkulak harga pembelian gabah hanya Rp5.000, sedangkan yang dibayar Bulog di kisaran Rp6.500 per kilogram.
“Jadi yang ditawarkan Bulog lebih baik karena harganya lebih tinggi dari yang ditawar para tengkulak,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, penyerapan gabah lokal yang dilaksanakan Bulog masih berlangsung hingga sekarang. Pembelian sudah terlaksana di beberapa kapanewon seperti Semaun, Nglipar, Ponjong dan lainnya.
“Mudah-mudahan yang diserap bisa lebih banyak lagi,” katanya.
Menurut dia, dari sisi harga juga bagus karena gabah yang dibeli dihargai Rp6.500 per kilogram. “Pembelian disesuaikan dengan Harga Eceran Tertinggi [HET] yang telah ditentukan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Satu bakal calon lurah dari Monggol absen dalam tes tambahan di Gunungkidul. Seleksi diikuti 15 peserta dari Monggol dan Sampang.
Asap kebakaran Gunung Bromo mulai terbatas dan api terkendali. Petugas gabungan tetap siaga karena masih ditemukan sisa bara.
Nglanggeran didorong menjadi model desa wisata nasional setelah meraih Best Tourism Village Award 2021 dari UN Tourism.
Kapal Virgo Transport 8 membawa 243 orang dan hilang kontak di Laut Jawa. Sebanyak 103 orang dievakuasi, enam meninggal dan 140 masih dicari.
Tol Jogja-Solo ruas Purwomartani-Maguwoharjo mulai menyentuh Ring Road Utara. Separator 1,5 km dibongkar untuk struktur tol elevated.
367.064 penerima bansos Jateng terindikasi judol. Sebanyak 12.226 warga menjalani proses sanggah dan data masih terus diperbarui.