Festival Layang-Layang Internasional Kembali ke Bantul, Ini Jadwalnya
JIKF 2026 digelar di Parangkusumo, diikuti 17 negara. Festival layang-layang ini dorong wisata dan ekonomi kreatif Jogja.
Ilustrasi waste to energy, atau sampah jadi energi. - Freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Pemerintah Kabupaten Bantul akan membangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) baru di Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret. Proyek ini mendapat lampu hijau dan dukungan anggaran dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Agus Budi Raharja mengatakan, proyek TPST Bawuran merupakan respons atas keterbatasan kapasitas pengolahan sampah yang selama ini belum mampu mengimbangi timbuan sampah harian.
“Kapasitas pengolahan yang terimplementasi masih jauh di bawah volume sampah yang dihasilkan. Maka kami bersyukur dapat dukungan pusat untuk membangun TPST baru di Bawuran,” kata Agus, Senin (7/7/2025).
BACA JUGA: Penumpang Kereta Api Saat Liburan Sekolah Sudah Mencapai 3,4 Juta Orang
Agus menyebut, lokasi pembangunan berada di Padukuhan Sentolrejo dengan luas lahan yang akan digunakan sekitar 8.000 meter persegi dari total 6,5 hektare lahan yang tersedia. Lahan tersebut merupakan aset milik Pemda DIY yang sebelumnya telah dialihfungsikan untuk keperluan pengelolaan sampah.
“Kami siapkan pematangan lahan dengan dana APBD sekitar Rp7–10 miliar. Sementara pembangunan fasilitas dan mesin-mesinnya ditanggung pusat, kisarannya sekitar Rp40 miliar,” terangnya.
Agus menjelaskan, TPST ini akan dilengkapi berbagai mesin seperti mesin pemilah sampah organik dan anorganik, serta teknologi karbonisasi untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai guna. Meski belum berorientasi pada pembangkitan energi listrik seperti proyek waste to energy skala besar, TPST Bawuran ditargetkan mampu mengelola 45-50 ton sampah per hari.
“Ini bukan proyek komersial seperti ITF, tapi fasilitas pelayanan publik murni untuk masyarakat Bantul. Jadi bukan skala provinsi, tapi untuk memperkuat penanganan sampah di level kabupaten,” kata Agus.
Pembangunan fisik TPST ditargetkan dimulai awal 2026, sementara proses pematangan lahan direncanakan berjalan sepanjang 2025. Pemerintah daerah masih terus menjalin komunikasi intensif dengan pemerintah pusat untuk finalisasi teknis dan pembiayaan.
Sementara, Lurah Bawuran, Supardiono membenarkan kesiapan lahan yang akan digunakan. Ia menyebutkan, kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan oro-oro yang telah dialihfungsikan sejak tahun lalu.
“Selain TPST dari pusat, kami juga punya program dari dana keistimewaan sekitar Rp1,9 miliar tahun ini untuk pengolahan sampah. Nantinya akan dikembangkan bersama agar pengelolaan sampah bisa lebih maksimal dan menghasilkan produk bernilai ekonomis,” ujar Supardiono.
Ia menambahkan, pengelolaan sampah ke depan akan diarahkan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendorong daur ulang plastik menjadi produk bernilai jual.
Jika berjalan lancar, TPST Bawuran akan menjadi proyek percontohan integrasi antara pengolahan sampah skala besar dan inovasi berbasis masyarakat, guna menjawab krisis sampah yang selama ini menghantui wilayah Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
JIKF 2026 digelar di Parangkusumo, diikuti 17 negara. Festival layang-layang ini dorong wisata dan ekonomi kreatif Jogja.
Zulhas menegaskan pasar karbon nasional harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus menjaga kelestarian hutan Indonesia.
OJK menyebut scam digital mengancam kepercayaan publik. Hingga Juni 2026, IASC menerima lebih dari 608.000 laporan dengan Rp674 miliar berhasil diamankan.
Tim SAR Gabungan menemukan bocah yang terseret ombak di Pantai Gua Cemara dalam kondisi meninggal dunia di Pantai Bugel, sekitar 13 kilometer dari lokasi kejadi
Kemendikdasmen menyampaikan masukan kepada BGN untuk memperbaiki tata kelola Program Makan Bergizi Gratis, termasuk distribusi dan sasaran penerima.
Kemenaker menaikkan Program Magang Nasional Angkatan II menjadi 150.000 peserta pada 2026 dan memperluas akses bagi lulusan profesi dan penyandang disabilitas.