Penataan Pantai Sepanjang Butuh Rp16 Miliar, Pemkab Ajukan Danais
Penataan Pantai Sepanjang Gunungkidul masih berlanjut. Pemkab membutuhkan sekitar Rp16 miliar untuk jalan, kios, trotoar, dan parkir.
Foto ilustrasi irigasi pertanian / foto dibuat menggunakan Artificial Intelligence ChatGPT
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kabupaten Gunungkidul diprediksi mulai memasuki musim hujan pada Oktober ini. Hasil pendataan dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, para petani di sejumlah kapanewon sudah mulai menyiapkan lahan untuk masa tanam pertama di awal penghujan.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan, hujan yang turun sudah mulai terlihat sejak akhir September. Berdasarkan prediksi dari BMKG, wilayah Gunungkidul memasuki musim hujan pada bulan ini.
“Petani sudah mulai menyiapkan lahan untuk ditanami di awal musim penghujan. Diperkirakan luasan lahan tadah hujan di Gunungkidul mencapai 21.000 hektare,” kata Raharjo kepada wartawan, Kamis (2/10/2025).
Dia menjelaskan, lahan tadah hujan ini tersebar di sejumlah kapanewon mulai dari Rongkop, Tepus, Girisubo, Tanjungsari, Panggang, Purwosari, Gedangsari. “Sudah kami pantau dan petani di kawasan pesisir juga sudah mengolah lahan untuk persiapan musim tanam baru,” katanya.
Guna mengoptimalkan produktivitas tanaman pangan di Gunungkidul, Raharjo mengakui sudah menyiapkan bantuan benih. Salah satunya menyalurkan benih jagung hibrida seberat 75 ton.
Benih ini diperkirakan mampu untuk menanam jagung di lahan seluas sekitar 5.008 hektare. “Per hektarenya butuh benih jagung 15 kilogram,” kata Raharjo.
Ditambahkan dia, upaya pendampingan melalui penyuluh lapangan juga terus dilakukan. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya memastikan proses tanam berjalan dengan baik hingga masa panen tiba.
“Akan terus didampingi guna mengantisipasi adanya serangan hama maupun potensi kegagalan tanan maupun panen. Makanya, terus dilakukan pendampingan,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi. Menurut dia, adanya fenomena kemarau basah ikut membantu peningkatan produktivitas tanaman pangan di Bumi Handayani.
“Meski kemarau masih ada hujan sehingga bisa dipergunakan para petani untuk bercocok tanam sehingga lahan tetap produktif,” katanya.
Disinggung mengenai ketersediaan pupuk bersubsidi, Rismiyadi memastikan kuota masih banyak tersedia. Tahun ini mendapatkan alokasi pupuk bersubsidi jenis urea seberat 17.317 ton, tapi realisasinya hingga akhir Agustus baru 3.227,4 ton.
Hal yang sama juga terlihat dari serapan pupuk bersubsidi jenis NPK atau phonska. Jumlah alokasi yang diberikan sebanyak 13.251 ton, baru terserap seberat 3.582,3 ton atau prosentasenya sebesar 27%. “Petani bisa menebuh sesuai dengan kebutuhan yang telah disediakan. Prosesnya juga mudah karena bisa menggunakan KTP-el,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penataan Pantai Sepanjang Gunungkidul masih berlanjut. Pemkab membutuhkan sekitar Rp16 miliar untuk jalan, kios, trotoar, dan parkir.
Jadwal KRL Solo-Jogja hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Alumni FHUI 1991 menggelar reuni di Bantul dengan menanam pohon bersama lansia dan ABK sebagai legacy bagi lingkungan dan masyarakat.
Polda DIY membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih bagi sekitar 550 warga Gunungkidul dalam rangka Hari Bhayangkara ke-80.
Jadwal KRL Jogja-Solo hari ini Minggu 28 Juni 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Pertamina mempercepat distribusi BBM subsidi di Madura untuk mengurai antrean Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di empat kabupaten.