Advertisement

Kemenekraf: Banyak Film Tak Tayang akibat Minim Bioskop

Sunartono
Minggu, 30 November 2025 - 09:27 WIB
Sunartono
Kemenekraf: Banyak Film Tak Tayang akibat Minim Bioskop Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya didampingi Direktur Film, Animasi dan Video Doni Setiawan saat mengunjungi JAFF Market 2025. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pembukaan bioskop di daerah-daerah untuk memberikan akses lebih banyak film yang bisa ditayangkan. Pasalnya saat ini banyak film yang belum tayang di bioskop.

Direktur Film, Animasi dan Video Kementerian Ekraf Doni Setiawan menjelaskan saat pihaknya memiliki program prioritas 15 provinsi yang sedang dikembangkan. Program tersebut di antaranya banyak berkaitan dengan pengembangan bioskop atau perfilman.

Advertisement

Berdasarkan data data Badan Perfilman Indonesia (BPI), sebagian besar bioskop masih dipandang sebagai usaha bisnis semata. Padahal, yang tidak kalah penting adalah pemerataan akses.

"Oleh karena itu, kami mendorong agar daerah-daerah yang belum memiliki bioskop dapat segera memilikinya. Ini penting agar masyarakat merasa nyaman dan memiliki ruang untuk menikmati karya film," katanya di sela pembukaan Jogja-Netpac Asia Film Festival (JAFF) 2025 di GIK UGM, Sabtu (29/11/2025) malam.

Ia menambahkan saat ini banyak produksi film Indonesia yang justru tidak sempat tayang di bioskop karena keterbatasan layar. Padahal, film-film tersebut dapat dipertemukan dengan masyarakat jika jaringan bioskop semakin merata. Kondisi ini menjadi tantangan, khususnya untuk mendukung dunia usaha dan industri bioskop sekaligus memastikan karya-karya kreatif tetap mendapat ruang.

"Karena program ini, perlahan akan mendorong semakin banyak sutradara, pembuat film, serta karya-karya yang mendapat apresiasi. Kami berharap upaya ini juga dapat mendekatkan masyarakat pada teknologi budaya dan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional," ucapnya.

Doni Setiawan mengungkapkan film memiliki arti yang sangat penting sekaligus menjadi kekayaan bangsa. Selama ini sering mendengar bahwa untuk mendapatkan akses terhadap film-film yang dibuat 20 tahun lalu, harus mencarinya hingga ke Prancis. Hal ini menjadi pelajaran, bahwa film bukan sekadar produk yang selesai setelah diproduksi, tetapi merupakan kekayaan budaya yang harus dijaga.

"Ke depan, kita harus dapat langsung menyaksikan kembali apa yang diproduksi hari ini, apa yang ditonton banyak orang sekarang, agar dalam dua atau tiga tahun ke depan arsipnya tetap tersedia dan tidak hilang. Ini sekaligus menjadi proses pembelajaran bagi kami. Kami juga berkomunikasi dengan beberapa negara lain mengenai arsip film, karena ini bukan pekerjaan yang mudah, terutama ketika menyangkut film-film besar," katanya.

JAFF menjadi salah satu percontohan ekosistem film berkembang. Menurutnya JAFF berpotensi diadopsi banyak daerah untuk menggelar event serupa. Beberapa perwakilan daerah yang hadir di JAFF menyampaikan minat tersebut. Hal menunjukkan bahwa daerah-daerah tersebut mulai melihat kesempatan untuk menjadikan wilayahnya sebagai tempat penyelenggaraan festival.

Meski pun saat ini beberapa daerah sudah memiliki festival sendiri, komunikasi tetap perlu diperkuat agar festival tersebut tidak hanya menjadi ajang pertunjukan, tetapi juga berkembang menjadi market film bagi karya-karya daerah. "Dengan begitu, film-film daerah dapat saling berkomunikasi, saling bertemu dengan pasar, dan bahkan memunculkan peluang bagi pelaku industri lain, seperti restoran atau pelaku usaha lokal, untuk ikut hadir dan berkembang," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BMKG: Mayoritas Wilayah Indonesia Diprakirakan Hujan Hari Ini

BMKG: Mayoritas Wilayah Indonesia Diprakirakan Hujan Hari Ini

News
| Minggu, 30 November 2025, 08:47 WIB

Advertisement

Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global

Kemenpar Kenalkan Wisata Banyuwangi-Bali ke Pasar Global

Wisata
| Sabtu, 29 November 2025, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement