Advertisement
Homestay dan Kos Harian Gerus Okupansi Hotel Jogja Saat Nataru
Ilustrasi. - Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Menjamurnya homestay dan kos harian disebut menekan tingkat okupansi hotel di DIY selama libur Natal dan Tahun Baru 2025–2026.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo, menjelaskan bahwa tingkat okupansi hotel di DIY saat ini belum merata. Kepadatan wisatawan masih terpusat di kawasan Malioboro dan sekitarnya.
Advertisement
“Yang bisa mencapai di atas 90 persen itu hanya hotel atau akomodasi yang berada di sekitar Malioboro atau wilayah tengah kota,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).
Sementara itu, untuk wilayah di luar pusat kota, tingkat okupansi pada libur Nataru ini berkisar antara 60%–80%, itu pun dengan tren yang tidak konsisten. Deddy mencatat adanya fluktuasi tajam pada periode tertentu.
BACA JUGA
“Pada 30 Desember kemarin justru terjadi penurunan cukup signifikan, rata-rata hanya sekitar 40 persen,” ungkapnya.
Menurut Deddy, narasi "Satu Indonesia ke Jogja" secara tidak langsung memicu kekhawatiran bagi calon pelancong. Wisatawan mengira hotel-hotel di Jogja sudah penuh, sehingga mereka mengurungkan niat untuk berkunjung.
“Ada calon wisatawan yang akhirnya ragu datang ke Jogja karena takut macet, takut hotel mahal, atau takut tidak dapat kamar,” kata dia.
Di sisi lain, menjamurnya penginapan non-hotel seperti homestay, vila, hingga kos harian yang mudah diakses secara daring (online) turut menekan angka okupansi hotel resmi.
“Banyak wisatawan menggunakan akomodasi lain yang bukan anggota PHRI, seperti vila, homestay, rumah sewa, dan kos harian,” paparnya.
Deddy menyayangkan banyaknya penginapan non-hotel yang diduga belum mengantongi izin atau izinnya tidak sesuai peruntukan. Fenomena ini diperkirakan menyerap sekitar 10% hingga 15% pasar yang seharusnya menjadi target hotel.
“Memang tidak terlalu besar, tetapi bisa menyedot tamu hotel sekitar 10 sampai 15 persen. Kalau ini dibiarkan, ini menjadi kebocoran Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi kota dan kabupaten. Dalam jangka panjang bisa berdampak negatif bagi destinasi,” tegas Deddy.
Mengenai profil pengunjung, libur Nataru tahun ini masih didominasi oleh wisatawan domestik. Kemudahan akses transportasi darat menjadi faktor utama tingginya mobilitas wisatawan lokal.
“Karena akses transportasi darat sangat mudah, baik dengan kereta api maupun kendaraan pribadi,” tuturnya.
Sedangkan untuk wisatawan mancanegara, mayoritas masih berasal dari Malaysia dan Singapura. Namun, Deddy mencatat adanya tren menarik pada pengujung tahun ini.
“Ada sedikit fenomena baru, yaitu mulai adanya kunjungan wisatawan dari Australia selama periode Nataru ini,” tutup Deddy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Wilayah di Jogja dan Sedayu Kena Pemadaman Listrik, Hari Ini
- Kasus Pengeroyokan Remaja di Bantul, Motif Diduga Rivalitas Geng
- Suasana Berbeda di Stasiun Jogja, Petugas Perempuan Ambil Alih
- Jadwal Lengkap KRL Solo Jogja Rabu Mobilitas Pagi hingga Malam
- Turis Kolombia Ngamen di Bantul Berujung Dideportasi
Advertisement
Advertisement









