Advertisement

Sudah 10 Hari Nelayan Kulonprogo Tak Melaut, Ini Penyebabnya

Khairul Ma'arif
Selasa, 13 Januari 2026 - 23:17 WIB
Abdul Hamied Razak
Sudah 10 Hari Nelayan Kulonprogo Tak Melaut, Ini Penyebabnya Nelayan sedang bekerja sama mendorong kapal ke pantai, di Pantai Bugel, Panjatan, Kulonprogo. - dok - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Aktivitas melaut di pesisir selatan DIY, khususnya di Kabupaten Kulonprogo, tengah lesu akibat cuaca buruk dalam sepuluh hari terakhir. Para nelayan memilih tidak melaut karena angin barat memicu gelombang tinggi yang dinilai berbahaya bagi keselamatan.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kulonprogo, Suratiman, mengatakan angin barat menjadi faktor utama terhentinya aktivitas di laut. Hembusan angin kencang membuat ombak besar tidak dapat ditaklukkan kapal-kapal kecil milik nelayan setempat.

Advertisement

“Kalau hujan tidak masalah, tapi musim angin ini. Angin terus, gelombangnya besar. Kapal kami kecil, tidak mampu, takutnya terbalik,” ujar Suratiman, Selasa (13/1/2025).

Menurutnya, sudah sepuluh hari tidak ada kapal yang berani berangkat. Para nelayan hanya bisa memancing dari pinggir pantai sembari menunggu cuaca kembali bersahabat.

Regenerasi Nelayan 

Meski aktivitas melaut kerap terhambat kondisi alam, Suratiman menilai sektor perikanan tangkap di Kulonprogo masih menunjukkan perkembangan positif. Minat anak muda menjadi nelayan justru meningkat, terutama di wilayah Trisik.

“Regenerasi masih berjalan dengan baik. Banyak anak muda yang kini ikut melaut,” tegasnya.

Jumlah armada kapal di wilayah tersebut juga bertambah, menandakan aktivitas ekonomi nelayan tetap bergerak meski tidak setiap hari dapat turun ke laut.

Suratiman menjelaskan pendapatan nelayan sangat bergantung pada musim dan seberapa sering mereka bisa melaut. Pada musim ikan seperti Februari dan Maret, hasil tangkapan kerap melimpah.

Ia mencontohkan tangkapan terakhir sekitar seminggu lalu, satu kapal dapat membawa pulang 70–80 kilogram ikan dengan nilai lebih dari Rp1 juta. Setiap anggota kapal bisa memperoleh pendapatan sekitar Rp300.000 per hari.

Namun pada hari-hari biasa, atau ketika ikan sulit ditemukan, pendapatan bisa turun hingga Rp100.000 per hari. Kondisi serba tak pasti di bulan Januari ini menurutnya merupakan siklus tahunan yang sudah dipahami para nelayan.

“Waduh kalau dirata-rata tidak bisa, soalnya melautnya tidak pasti. Kadang sebulan cuma lima kali, empat kali. Kebetulan musim ini sedang musim ikan, tapi sekarang tidak bisa melaut karena cuaca,” jelasnya.

Jumlah Nelayan Stabil

Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Kulonprogo, Suryadi, mengatakan jumlah nelayan di wilayahnya tidak pernah mengalami penurunan berarti.

Dari data Dislautkan, sejak 2023 jumlah nelayan tetap stabil. Seluruh nelayan tergabung dalam kelompok usaha bersama (KUB) yang tersebar di berbagai titik pesisir.

“Total KUB sekarang ada 54 dengan jumlah 686 nelayan yang melaut mulai dari Trisik di sisi timur hingga sekitar Congot di sisi barat,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kisah Inspiratif: Penjual Es Kelapa Daftarkan 24 Keluarga untuk Haji

Kisah Inspiratif: Penjual Es Kelapa Daftarkan 24 Keluarga untuk Haji

News
| Selasa, 13 Januari 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Tren Wisata 2026: Bangkok Teratas, Bali 10 Besar Dunia

Wisata
| Selasa, 13 Januari 2026, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement