Advertisement
Gelar Musda, ISMAYA DIY Teguhkan Peran Jaga Keistimewaan Jogja
Desa Wisata Wukirsari, Bantul. / Google Maps
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL - Paguyuban purna karya lurah dan pamong ISMAYA DIY meneguhkan perannya sebagai penjaga nilai-nilai keistimewaan Jogja melalui Musyawarah Daerah (Musda) yang digelar di Kantor DPRD Bantul, Rabu (14/1/2026).
Musda ini digelar bertepatan dengan momentum menjelang Hari Desa yang puncaknya berlangsung pada 15 Januari di Boyolali, sekaligus menandai dua dekade perjalanan organisasi ini sejak Musda pertama pada Januari 2006 di Wonosari, Gunungkidul.
Advertisement
Ketua Panitia Musda, Ani Widayani menjelaskan, ISMAYA merupakan transformasi dari organisasi sebelumnya yang beranggotakan lurah dan pamong aktif. Seiring terbentuknya organisasi pamong aktif Nayantaka, ISMAYA kini menjadi wadah khusus bagi purna lurah dan purna pamong se-DIY.
“Musda ini kami harapkan jadi ruang silaturahmi, penguat solidaritas, sekaligus wadah kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah,” ujar Ani.
BACA JUGA
Ia menambahkan, meski para purna lurah dan pamong tidak mengenal masa pensiun formal maupun dana pensiun seperti ASN, semangat pengabdian tetap menyala. Jiwa pamong, kata dia, tidak berhenti oleh usia atau jabatan.
“Kalurahan itu tidak mengenal pensiun. Semangat melayani, mengayomi, dan menjaga nilai-nilai luhur tetap hidup,” katanya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY, KPH Yudanegara menyebut para purna lurah dan pamong sebagai aset sosial sekaligus penjaga memori kolektif perjuangan keistimewaan.
Ia mengingatkan bahwa keistimewaan DIY lahir dari proses panjang, termasuk konsolidasi para pamong desa yang turut mengawal hingga lahirnya Undang-Undang No. 13/2012 tentang Keistimewaan DIY.
“Nilai kebersamaan, gotong royong, dan pelayanan masyarakat yang tumbuh di kelurahan adalah roh keistimewaan DIY. Itu hidup dan dijaga oleh para pamong, baik yang masih aktif maupun yang telah purna,” ujar Yudanegara.
Menurutnya, Musda ISMAYA menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring komunikasi lintas generasi pamong, sekaligus memastikan nilai moral dan kultural keistimewaan tetap relevan di tengah dinamika kebijakan pusat dan daerah.
“Usia boleh bertambah, tapi jiwa pengabdian harus tetap muda. Kalau semangatnya masih 17 tahun, keistimewaan Jogja aman,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Satgas PKH Kantongi Rp5,2 Triliun Denda Perusahaan Sawit-Tambang Nakal
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




