Kasus Kebakaran di Bantul Melonjak, Karhutla Mendominasi selama September
Kasus kebakaran di Bantul mencapai 326 kejadian hingga 21 September 2026. Karhutla melonjak dan menjadi pemicu utama kenaikan kasus.
Ilustrasi cek kesehatan./freepik
Harianjogja.com, BANTUL—Ratusan peserta Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Bantul terindikasi kemungkinan mengalami kecemasan dan depresi ringan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.
Temuan tersebut diperoleh melalui pemeriksaan kesehatan jiwa yang menjadi bagian dari layanan preventif Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul sepanjang 2025, dengan fokus pada deteksi dini melalui pertanyaan sederhana terkait kondisi emosional dan psikologis masyarakat.
Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Kesehatan (PMPK) Dinkes Bantul, Subarda, menjelaskan bahwa sebagian besar peserta yang terdeteksi sebenarnya tidak menunjukkan gejala berat. Dari 47.717 orang yang diskrining, sebanyak 46.730 orang dinilai tidak memiliki gejala signifikan, sedangkan 987 orang lainnya teridentifikasi memiliki kemungkinan depresi, berdasarkan hasil skrining.
“Dari puluhan ribu itu, yang menunjukkan indikasi depresi hanya sebagian kecil,” ujar Subarda, Senin (26/1/2026).
Subarda menegaskan bahwa hasil CKG tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan jiwa berat. Ia menjelaskan bahwa gangguan kesehatan jiwa memiliki spektrum yang luas, mulai dari kecemasan ringan, stres berkepanjangan, hingga depresi, dan tidak selalu mengarah pada kondisi berat seperti psikosis atau skizofrenia.
“Gangguan jiwa itu spektrumnya luas, tidak langsung berarti psikosis atau skizofrenia,” katanya.
Di tingkat layanan dasar, Puskesmas Bambanglipuro telah mengintegrasikan pemeriksaan kesehatan jiwa dalam berbagai program rutin, termasuk CKG dan skrining kesehatan di sekolah-sekolah. Akses layanan psikolog juga disediakan, terutama bagi kelompok prioritas seperti ibu hamil.
Kepala Puskesmas Bambanglipuro, Rades Pipit Murpitayani, menyampaikan bahwa pemeriksaan kesehatan jiwa dilakukan secara konsisten dalam setiap kegiatan skrining. Menurutnya, pertanyaan yang diajukan bersifat sederhana namun efektif untuk menangkap kondisi psikologis awal masyarakat.
“Dalam setiap CKG maupun skrining ke sekolah, kami selalu melakukan pemeriksaan kesehatan jiwa. Pertanyaannya sederhana, seperti kesulitan tidur, rasa cemas, atau hilangnya semangat dalam beberapa waktu terakhir,” jelas Rades.
Data CKG 2025 di wilayah Bambanglipuro menunjukkan bahwa dari 9.827 orang dewasa yang diperiksa, sebanyak 2.767 orang atau 28,16 persen terdeteksi memiliki gejala depresi. Dari jumlah tersebut, 2.702 orang tidak menunjukkan gejala signifikan, sementara 65 orang lainnya memiliki kemungkinan gejala depresi. Selain itu, sebanyak 59 orang terdeteksi mengalami gejala kecemasan, sedangkan 2.708 orang lainnya tidak menunjukkan indikasi kecemasan berdasarkan hasil skrining.
Rades menilai hasil skrining ini menjadi fondasi penting bagi upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. Menurutnya, banyak warga sebenarnya sudah berada pada fase awal kecemasan atau depresi ringan, namun belum menyadarinya.
“Justru di fase awal inilah skrining menjadi sangat penting, agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat,” katanya, seraya menekankan pentingnya kesinambungan layanan kesehatan jiwa di tingkat puskesmas dan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus kebakaran di Bantul mencapai 326 kejadian hingga 21 September 2026. Karhutla melonjak dan menjadi pemicu utama kenaikan kasus.
PSS Sleman kebobolan tujuh gol dari tiga laga Super League. Pieter Huistra mengakui catatan itu terlalu banyak dan harus diperbaiki.
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.