Advertisement

BMKG Pastikan Gempa Bantul dan Pacitan Berasal dari Sumber Berbeda

Catur Dwi Janati
Selasa, 27 Januari 2026 - 16:57 WIB
Abdul Hamied Razak
BMKG Pastikan Gempa Bantul dan Pacitan Berasal dari Sumber Berbeda Ilustrasi sesar gempa / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN — Kepala Stasiun Geofisika Sleman Ardhianto Septiadhi memastikan aktivitas gempa bumi yang mengguncang Bantul pada Selasa (27/1/2026) tidak memiliki keterkaitan dengan gempa yang terjadi di Pacitan. Menurutnya, kedua peristiwa tersebut berasal dari sumber gempa yang berbeda secara geologis.

Gempa di wilayah Bantul tercatat terjadi sekitar pukul 13.15 WIB dengan pusat gempa berada sekitar 16 kilometer arah timur Bantul serta memiliki kedalaman 11 kilometer.

Advertisement

Ardhianto menjelaskan gempa tersebut awalnya tercatat bermagnitudo 4,4 sebelum kemudian diperbarui menjadi magnitudo 4,5 berdasarkan analisis terbaru BMKG.

Tidak lama setelah gempa utama, aktivitas seismik kembali terjadi berupa gempa susulan pada pukul 13.45 WIB.

Secara keseluruhan, Ardhianto menyebut terdapat 14 kali gempa susulan yang terpantau dengan kekuatan maksimal mencapai magnitudo 2.

Ia menegaskan perbedaan mendasar antara gempa Bantul dan Pacitan terletak pada sumber pemicu terjadinya gempa.

Adapun gempa di Bantul berasal dari aktivitas Sesar Opak, sementara gempa di Pacitan dipicu oleh aktivitas lempeng subduksi.

“Sumber-sumber gempa di Indonesia itu dimonitor 24 jam oleh BMKG dan setiap hari itu sebenarnya ada gempa, namun tidak semua dirasakan masyarakat,” ungkap Ardhianto.

Menurutnya, alat pemantau BMKG merekam ratusan aktivitas gempa setiap pekan, meski sebagian besar tidak terasa oleh warga.

“Kejadian gempa yang sering ini sebenarnya biasa saja, karena dari aktivitas pantauan kami rata-rata tiap minggu itu 100 sampai 150 kejadian gempa, namun itu yang dipantau oleh alat dan tidak semua dirasakan,” ujarnya.

Ardhianto menambahkan kondisi tersebut wajar mengingat Indonesia, termasuk wilayah DIY, berada di kawasan dengan banyak sumber gempa aktif.

“Jadi hal yang wajar kalau kejadian gempa ini banyak karena memang kami tinggal di daerah yang banyak sumber gempa,” tandasnya.

Ia pun mengimbau masyarakat agar tidak panik menghadapi seringnya kejadian gempa bumi.

Menurutnya, yang terpenting bukan seberapa sering gempa terjadi, melainkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dan melakukan mitigasi bencana secara tepat.

“Tahu apa yang dilakukan pada saat gempa seperti drop, cover, and hold dan tahu informasi mana yang benar dan tidak menyesatkan,” tegasnya.

Ardhianto menekankan setiap potensi dampak besar seperti tsunami akan selalu diinformasikan BMKG melalui sistem peringatan dini.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah panik ketika terjadi gempa.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa aktivitas gempa sangat dipengaruhi oleh karakteristik masing-masing sumber gempa.

Dengan perkembangan teknologi saat ini, BMKG bahkan mampu memantau pergerakan Sesar Opak hingga gempa berskala sangat kecil, termasuk magnitudo satu.

Berdasarkan klasifikasi seismik, gempa Bantul yang terjadi Selasa siang tergolong berskala menengah dengan magnitudo 4,4 hingga 4,5.

Ardhianto menjelaskan semakin besar energi gempa, maka jarak waktu terjadinya justru semakin jarang.

“Contoh gempa Aceh 9 [skala] itu kejadiannya bisa 200 sampai 300 tahun. Tapi kalau gempa-gempa di bawah 3 itu sering terjadi, bisa hampir setiap hari terjadi, bahkan lebih dari 10 sampai 20 kali,” ungkapnya.

“Jadi itu hal yang wajar dari sisi tergantung elastisitas batuan yang ada di sumber gempa tersebut,” tandasnya.

Di akhir penjelasannya, Ardhianto kembali menegaskan bahwa gempa Pacitan dan Bantul tidak saling memicu satu sama lain.

“Nggih, gempa dengan sumber yang berbeda. Jadi tidak berkaitan,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sidang Tipikor: Ahok Klaim Sistem Pengadaan Pertamina Bersih

Sidang Tipikor: Ahok Klaim Sistem Pengadaan Pertamina Bersih

News
| Selasa, 27 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Wisata
| Selasa, 27 Januari 2026, 13:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement