Advertisement

DIY Masuk Zona Rawan Gempa, BPBD Perkuat Mitigasi Bencana

Lugas Subarkah
Rabu, 28 Januari 2026 - 22:57 WIB
Sunartono
DIY Masuk Zona Rawan Gempa, BPBD Perkuat Mitigasi Bencana Foto ilustrasi seismograf pencatat getaran gempa. / Foto dibuat oleh AI StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada di kawasan yang dikepung sejumlah sumber pemicu gempa bumi, baik di darat maupun di laut. Kondisi ini membuat potensi gempa di wilayah DIY tergolong tinggi dan mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY untuk terus memperkuat upaya pengurangan risiko bencana.

Peta Bahaya Gempa Bumi DIY yang disusun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan sejumlah wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Kawasan Sleman bagian timur yang membentang hingga wilayah perkotaan Bantul tercatat memiliki potensi signifikan, demikian pula beberapa wilayah di Kabupaten Gunungkidul, khususnya Wonosari dan sekitarnya.

Advertisement

Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD DIY, Julianto Wibowo, menjelaskan bahwa tingginya potensi gempa tidak lepas dari keberadaan sejumlah generator gempa di sekitar DIY.

“BMKG menyatakan di DIY terdapat dua generator gempa, yakni di laut seperti Megathrust dan di darat berupa Sesar Opak,” ujarnya, Selasa (28/1/2026).

Untuk menyikapi kondisi tersebut, BPBD DIY telah menyiapkan beberapa langkah strategis. Langkah pertama adalah pemetaan kawasan rawan gempa sebagai dasar perencanaan mitigasi.
“Peta tersebut menjadi alat bagi kami untuk menginformasikan wilayah-wilayah yang memiliki potensi gempa,” katanya.

Langkah kedua difokuskan pada mitigasi berbasis masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi. Upaya ini bertujuan agar warga mampu secara mandiri melakukan pengurangan risiko bencana sekaligus siap melakukan tindakan mitigasi saat gempa terjadi.

“Terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan, kami mengimbau agar membangun rumah dengan konstruksi tahan gempa. Ini masih berupa imbauan karena pemerintah di Indonesia belum bisa sepenuhnya membangunkan rumah tahan gempa seperti di Jepang,” ungkap Julianto.

Peristiwa gempa besar tahun 2006 menjadi pelajaran penting bagi masyarakat DIY, khususnya yang tinggal di zona rawan.
“Masyarakat yang bangunannya terdampak diharapkan saat membangun kembali menggunakan konstruksi tahan gempa. Waktu itu BNPB juga mengeluarkan panduan konstruksi bangunan sederhana tahan gempa,” paparnya.

Langkah ketiga dilakukan melalui dunia pendidikan. Materi mitigasi gempa diberikan kepada siswa dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

“Kami memberikan materi ini karena gempa sering terjadi saat orang berkumpul. Anak-anak perlu memahami bagaimana melakukan evakuasi mandiri. Sekolah juga kami dorong untuk memiliki jalur evakuasi dan rencana kesiapsiagaan,” jelasnya.

Terkait gempa yang terjadi Selasa (27/1/2026) siang, Julianto menyebut gempa berkekuatan magnitudo 4,5 SR tersebut berpusat di 16 kilometer timur laut Bantul dan dipicu oleh aktivitas Sesar Opak. Hingga Rabu (28/1/2026) siang, tercatat sekitar 90 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 1 hingga 2,9.

Dampak gempa tersebut tercatat di 11 titik yang tersebar di tiga kapanewon di Kabupaten Gunungkidul, yakni Nglipar, Gedangsari, dan Playen.
“Kerusakan yang terjadi tergolong ringan, seperti kerusakan beberapa fasilitas umum, antara lain gedung auditorium, balai dusun, serta rumah warga,” katanya.

Karena tingkat kerusakan tidak terlalu parah, kondisi di 11 titik terdampak tersebut relatif cepat terkendali.
“Sebagian besar berupa retakan dinding dan kerusakan ringan lainnya. Dampaknya tidak besar sehingga sudah dapat dikondisikan,” ungkap Julianto.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kemlu: Peran Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza Bersifat Multilateral

Kemlu: Peran Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza Bersifat Multilateral

News
| Rabu, 28 Januari 2026, 23:57 WIB

Advertisement

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata
| Rabu, 28 Januari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement