Advertisement

Peroleh Bantuan CSR, KWT Tangguh Dikawal Menuju Bisnis Ayam Petelur

Newswire
Selasa, 10 Februari 2026 - 17:02 WIB
Sunartono
Peroleh Bantuan CSR, KWT Tangguh Dikawal Menuju Bisnis Ayam Petelur KWT Tangguh Sleman dikawal UGM dan CSR Garrya Bianti Jogja untuk mengembangkan bisnis ayam petelur berkelanjutan berbasis desa. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, SLEMAN—Kelompok Wanita Tani (KWT) Tangguh di Dusun Druju Karang, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan, Sleman tengah memasuki fase baru pengembangan usaha melalui program penguatan bisnis peternakan ayam petelur berkelanjutan berbasis desa.

Program ini didorong oleh dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) Garrya Bianti Jogja yang menyalurkan bantuan ayam petelur lengkap dengan kandangnya guna meningkatkan skala usaha dari peternakan rumah tangga menuju unit bisnis yang lebih profesional.

Advertisement

Pengelolaan program tersebut tidak dilakukan secara mandiri, melainkan mendapat pendampingan intensif dari para pakar Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dosen Fakultas Peternakan UGM, Muhsin, memastikan bahwa sistem budidaya ayam petelur yang dijalankan KWT Tangguh dirancang dengan pendekatan manajemen modern agar mampu menghasilkan keuntungan yang nyata dan berkelanjutan.

Muhsin menjelaskan, pengelolaan ternak ayam dalam jumlah kecil kerap kali tidak efisien secara ekonomi. Menurutnya, tenaga dan waktu yang dikeluarkan untuk memelihara 10 ekor ayam hampir sama dengan mengelola jumlah ternak yang jauh lebih besar, sehingga peningkatan skala menjadi faktor krusial dalam keberhasilan usaha peternakan.

“Target kami tidak hanya berhenti di angka 1.000 ekor ayam. Melalui pendampingan ini, skala bisnis diharapkan bisa meningkat secara bertahap mulai dari 2.000 hingga 5.000 ekor, sehingga keuntungan yang diperoleh dapat diputar kembali untuk pengembangan usaha,” ujarnya, Selasa (10/2/2026).

Selain bantuan fisik berupa bibit ayam petelur, program ini juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Para anggota KWT Tangguh dibekali kemampuan penyusunan proposal usaha serta akses terhadap pendanaan (funding) di masa mendatang, sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Program CSR tersebut secara khusus difokuskan pada pemberian modal dan pendampingan ahli dalam budidaya ayam petelur di wilayah sekitar hotel. General Manager Garrya Bianti Jogja, Ridwan Heriyadi, menyampaikan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk pengembalian manfaat secara murni kepada masyarakat sekitar tanpa orientasi keuntungan sepihak.

Ridwan menjelaskan, pihak hotel berperan sebagai penyedia modal awal, sementara seluruh aspek teknis pelaksanaan budidaya sepenuhnya dikawal oleh tim ahli dari Fakultas Peternakan UGM dan dijalankan oleh anggota KWT Tangguh.

“Program seperti ini akan sulit berjalan tanpa dukungan tenaga ahli dari Fakultas Peternakan Gadjah Mada. Kami menyediakan modal, sementara ibu-ibu KWT Tangguh menjalankan usaha dengan supervisi penuh dari para pakar,” katanya.

Skema kerja sama tersebut dirancang untuk menciptakan ekosistem bisnis peternakan yang berkelanjutan. Hasil produksi telur dari KWT Tangguh nantinya akan diserap langsung oleh pihak hotel untuk memenuhi kebutuhan operasional harian dengan skema harga pasar.

“Kami membeli telur dengan harga pasar, bukan harga diskon, agar masyarakat memperoleh keuntungan yang layak dan usaha ini benar-benar memberikan dampak ekonomi,” imbuhnya.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Suryawati, menegaskan bahwa kekompakan dan konsistensi pengelola, khususnya anggota KWT, menjadi kunci agar bantuan yang telah digulirkan dapat terus berlanjut dan berkembang menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan bagi warga.

Namun demikian, Suryawati juga mengingatkan adanya tantangan baru seiring dengan meningkatnya populasi ternak ayam dan perluasan kawasan permukiman, terutama terkait potensi dampak lingkungan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Sebagai langkah solutif, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman berkomitmen memberikan pendampingan teknis budidaya kepada para peternak agar aktivitas peternakan tetap berjalan optimal tanpa mengganggu kenyamanan lingkungan sekitar.

“Kami berharap pengelola dapat menerapkan standar kebersihan yang lebih ketat serta memanfaatkan teknologi pengelolaan limbah yang lebih baik guna meminimalisir dampak lingkungan pada masa mendatang,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pesta Retail 2026 di Prambanan Tegaskan Peran UMKM dan Toko Kelontong

Pesta Retail 2026 di Prambanan Tegaskan Peran UMKM dan Toko Kelontong

News
| Kamis, 12 Februari 2026, 22:02 WIB

Advertisement

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Festival Sakura 2026 di Arakurayama Batal, Turis Jadi Sorotan

Wisata
| Rabu, 11 Februari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement