Advertisement
Masjid Nurul Ashri Hidupkan Ramadan lewat Pendidikan Politik
Sejumlah umat muslim sedang menjalankan salat tarawih di Masjid Nurul Ashri Deresan, Kalurahan Caturtunggal, Depok, Sleman, Kamis (19/2/2026). - Harian Jogja - Andreas Yuda Pramono
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Hujan deras yang turun menjelang waktu berbuka puasa tidak menyurutkan langkah mahasiswa dan warga menuju Masjid Nurul Ashri di Deresan, Caturtunggal, Depok, Sleman. Aktivitas Ramadan di masjid kawasan kampus ini justru semakin ramai karena hadirnya program pendidikan politik yang dikemas dalam rangkaian kegiatan sosial dan keagamaan.
Kawasan Manggung, Kalurahan Caturtunggal, yang dikelilingi sejumlah kampus seperti Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gadjah Mada (UGM), biasanya dipenuhi aktivitas mahasiswa. Namun saat hujan turun pada malam menjelang berbuka, suasana perlahan berubah. Keramaian jalan mereda, sementara mahasiswa sibuk mencari tempat berbuka puasa.
Advertisement
Salah satu tujuan mereka adalah Masjid Nurul Ashri yang berada di Deresan, tepat di sisi utara Taman Komunikasi PT Kanisius. Dalam beberapa hari terakhir, masjid ini tampak jauh lebih hidup dibanding hari biasa. Halaman masjid hingga bahu jalan dipenuhi kendaraan roda dua maupun roda empat milik jamaah yang datang mengikuti kegiatan Ramadan.
Masjid Nurul Ashri bahkan disebut menjadi salah satu masjid yang tingkat keramaiannya mendekati Masjid Jogokaryan selama Ramadan. Selain kegiatan ibadah, pengelola menghadirkan berbagai program sosial dan edukatif, termasuk program pendidikan politik bertajuk Underrated Political Education yang akan dimulai Senin (23/2/2026).
BACA JUGA
Koordinator Program Masjid Nurul Ashri, Sunyoto, menuturkan gagasan pendidikan politik muncul dari diskusi para takmir dan anggota Baitulmal. Mereka menilai masjid tidak seharusnya hanya menjadi ruang ibadah ritual, tetapi juga ruang penyadaran sosial masyarakat.
“Kami ingin masjid ini memiliki peran bagi masyarakat sekitar. Kami tidak ingin masjid ini hanya digunakan untuk beribadah,” kata Sunyoto kepada Harianjogja.com di Masjid Nurul Ashri, Kamis (19/2/2026).
Tema besar kegiatan Ramadan tahun ini adalah Ramadan Ignite Faith and Humanity (Ramadan Menyalakan Iman dan Kemanusiaan). Tema tersebut lahir dari refleksi pengalaman relawan Nurul Ashri yang sebelumnya membantu korban bencana ekologi di Provinsi Aceh.
Sunyoto sendiri baru pulang dari Aceh seusai terlibat dalam kegiatan kemanusiaan. Ia tidak berangkat sendirian. Sejumlah relawan dari lingkungan masjid juga ikut serta mendampingi warga terdampak bencana sejak banjir dan longsor melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025.
Data Pusat Data dan Informasi Badan Penanggulangan Bencana Aceh (Pusdatin BPBA) mencatat sepanjang 2025 terjadi 387 bencana dengan korban meninggal 575 orang dan 5.408 orang luka-luka. Sebanyak 862.411 kepala keluarga terdampak dengan kerugian ekonomi mencapai Rp249,5 miliar, angka yang masih bersifat sementara.
Pengalaman lapangan tersebut menjadi titik balik pemikiran mereka bahwa kebijakan publik memiliki dampak langsung terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.
“Ternyata kebijakan pemerintah sangat menentukan atau berdampak pada lingkungan ekologi,” ujarnya.
Sunyoto menilai masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap kebijakan publik, padahal kebijakan tersebut berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari. Karena itu, selain bantuan kemanusiaan, edukasi menjadi langkah penting.
“Selain mengirimkan bantuan langsung ke Aceh dan Sumatra, kita juga harus membantu dalam hal pengetahuan. Terakhir, kami mengundang sejumlah tokoh atau aktivis demokrasi dan lingkungan,” katanya.
Dalam program pendidikan politik tersebut, sejumlah tokoh nasional dijadwalkan hadir sebagai pembicara, antara lain Haris Azhar (Pendiri Yayasan Lokataru), Feri Amsari (Komisaris Direktur Pusat Studi Konstitusi), Reza Indragiri Amriel (Psikolog Forensik), Zainal Arifin Mochtar (Profesor Hukum Negara Fakultas Hukum UGM), dan Iqbal Damanik (Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia).
Teori dan Aplikasi
Di bawah hujan yang masih turun, cahaya dari Masjid Nurul Ashri tampak terang dari kejauhan. Jamaah terus berdatangan untuk salat tarawih. Keramaian seperti inilah yang diharapkan pengelola masjid—masjid menjadi pusat aktivitas masyarakat, bukan sekadar tempat ibadah ritual.
“Nurul Ashri ingin menjadikan dakwah yang biasanya dilakukan di masjid menjadi tindakan nyata. Jika kita berbicara tentang teori, kita sudah memilikinya. Tetapi bagaimana membuat teori ini menjadi praktik nyata itulah yang sedang kita coba lakukan,” ujar Sunyoto.
Program pendidikan ini tidak berjalan sendiri. Miftah Al Rizqa sebagai Koordinator Divisi Pendidikan Masjid Nurul Ashri turut mengembangkan konsep kegiatan agar lebih membumi. Tema Ramadan dibagi dalam subtema lingkungan dan politik dengan contoh kasus nyata dari wilayah Sumatera.
“Tema Ramadan kali ini terbagi menjadi beberapa sub-tema, yaitu lingkungan dan politik. Kami ingin mengangkat isu lingkungan secara umum, khususnya dengan mengambil contoh Sumatera,” kata Rizqa.
Menurutnya, pendidikan politik harus disampaikan dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar mudah dipahami masyarakat luas. Pendekatan ini juga melibatkan praktisi yang memiliki pengalaman langsung di lapangan.
Sri Widodo dan Nurul Fitri Hidayati, pasangan pendiri Yoso Farm, akan menjadi bagian dari kegiatan tersebut dengan berbagi pengalaman menjaga keharmonisan alam dari lingkungan rumah tangga.
“Yoso Farm akan ikut serta untuk berbagi pengalaman tentang bagaimana kita bisa mandiri dari lingkungan rumah. Inilah peran masjid. Masjid bukan hanya untuk beribadah dan mengumpulkan donasi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa menjadi Muslim harus relevan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini.
“Menjadi seorang Muslim harus relevan dengan situasi masyarakat saat ini. Jika dilihat, Indonesia berada dalam kondisi yang buruk,” katanya.
Melalui pendidikan politik Ramadan di Masjid Nurul Ashri, pengelola berharap masjid dapat menjadi ruang transformasi sosial yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kesadaran lingkungan dan kebijakan publik. Aktivitas ini sekaligus menunjukkan bagaimana peran masjid di kawasan kampus tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga ruang pembelajaran masyarakat yang terus berkembang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Badai Salju New York Lumpuhkan Aktivitas, Status Darurat Ditetapkan
Advertisement
WISATA RAMADAN: Jejak Dakwah di Kampung Maksiat Samarinda
Advertisement
Berita Populer
- Bahayakan Nyawa, Warga Dilarang Ngabuburit di Area Proyek Tol di Mlati
- Masjid Saka Tunggal, Jejak Arsitektur Unik Warisan Sri Sultan HB IX
- Produksi Buah Gunungkidul, Ini Lima Komoditas yang Jadi Unggulan
- Sidang Hibah Pariwisata Sleman, Ini Keterangan Saksi Ahli
- 60 Gedung SD-SMP di Bantul Diusulkan Revitalisasi 2026
Advertisement
Advertisement







