Advertisement
Sleman Terima 5.000 Dosis Vaksin PMK Jelang Iduladha
Plt. Kepala Dinas DP3 Sleman, Suparmono memantau proses vaksinasi booster di Kelompok Ternak Lembu Aji, Pondok Kulon, Kalurahan Kalitirto, Berbah, Sleman pada Kamis, (13/2/2025). - Istimewa/DP3 Sleman
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemkab Sleman memperoleh alokasi 5.000 dosis vaksin Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) periode Januari–Maret 2026 untuk mengantisipasi lonjakan kasus menjelang Iduladha.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Suryawati Purwaningtyas, menjelaskan fluktuasi kasus PMK sangat dipengaruhi lalu lintas ternak. Pergerakan hewan dalam jumlah besar berisiko mempercepat penularan, baik dari luar masuk ke Sleman maupun sebaliknya.
Advertisement
“Vaksin itu sebenarnya dari Kementerian Pertanian. Kami pasti dari lewatnya Provinsi DIY. Tapi pasti ada sisa,” kata Suryawati saat ditemui di kantornya, Senin (23/2/2026).
Ia menuturkan penambahan vaksin biasanya dilakukan sepanjang masa vaksinasi hingga September 2026. Sleman diperkirakan memperoleh total sekitar 10.000 dosis sampai akhir periode tersebut.
BACA JUGA
Pada 2025, Sleman menerima 26.400 dosis vaksin PMK. Di akhir tahun, tersisa sekitar 5.000 dosis yang kini menjadi stok di DP3 Sleman. Vaksin tersebut memiliki masa kedaluwarsa hingga dua tahun.
Suryawati mengakui tingkat kesadaran peternak untuk melakukan vaksinasi masih rendah. Sejumlah peternak bahkan menolak vaksin karena terpengaruh kekhawatiran akan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), seperti ternak menjadi susah makan. Padahal, menurutnya, KIPI bersifat sementara dan akan hilang seiring waktu.
“Susah untuk mengubah pola pikir terkait dampak vaksin atau KIPI. Sewaktu ada jadwal vaksinasi, peternak tutup pintu dan pergi dari rumah. Kalau situasi begini, kami ya tidak berani lancang memvaksin,” ujarnya.
Ia menambahkan, meski data capaian vaksinasi 2026 belum dirinci, jumlah dosis yang tersedia tahun ini dinilai cukup untuk menjangkau sapi yang belum tervaksin.
Ketua Tim Kerja Bina Produksi Peternakan DP3 Sleman, Sri Haryatini, menyampaikan populasi sapi potong di Sleman hingga akhir Desember 2025 mencapai 24.136 ekor. Rinciannya, 15.751 ekor merupakan sapi betina dan 8.385 ekor sapi jantan.
Komposisi tersebut menunjukkan potensi pengembangbiakan ternak yang masih produktif di tingkat peternak lokal.
Kapanewon Prambanan menjadi wilayah dengan populasi sapi potong terbesar, yakni 7.009 ekor yang terdiri atas 1.417 jantan dan 5.592 betina. Jumlah itu jauh melampaui kapanewon lain, disusul Berbah dengan 1.947 ekor serta Cangkringan sebanyak 1.856 ekor.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
RUU Ketenagakerjaan Disiapkan lewat Kesepakatan Pengusaha dan Buruh
Advertisement
Greenhouse Melon Ketitang Jadi Daya Tarik Baru Wisata di Klaten
Advertisement
Berita Populer
- Koperasi Desa Merah Putih di DIY Belum Optimal, Ini Kendalanya
- Pelajar Bantul Dikenalkan Pertanian, Siapkan SDM Unggul
- Petugas TPR JJLS Gunungkidul Dicopot Usai Viral Tiket Tak Sesuai
- Banjir Kali Belik Jogja Terulang, Sudetan Disiapkan Mulai Tahun Ini
- Menjelang Vonis, Kasus Hibah Pariwisata Sleman Menguat
Advertisement
Advertisement







