Advertisement

Pekan Budaya Tionghoa Gabungkan Budaya dan Harmoni Ramadan di Jogja

Newswire
Jum'at, 27 Februari 2026 - 13:57 WIB
Maya Herawati
Pekan Budaya Tionghoa Gabungkan Budaya dan Harmoni Ramadan di Jogja Suasana ramai pengunjung di area stan nonhalal pada Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI di Kampoeng Ketandan, Daerah Istimewa Yogyakarta. ANTARA - Aufa Ulya Fithrin

Advertisement

HarianYogyakarta.com, JOGJA—Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XXI kembali digelar di Kampoeng Ketandan pada 25 Februari hingga 3 Maret 2026 dengan membawa semangat persaudaraan lintas etnis dan agama di tengah momentum Ramadan.

Penyelenggara menegaskan penyesuaian jadwal pertunjukan dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

Advertisement

Agenda budaya tahunan yang telah berlangsung lebih dari dua dekade tersebut mengusung tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa. Ketua Panitia PBTY XXI 2026, Jimmy Sutanto, menyebut tema itu menekankan pentingnya nilai budaya lintas generasi sebagai fondasi identitas bangsa sekaligus perekat persatuan masyarakat.

"Pelaksanaan PBTY tahun ini atau yang ke-21 mengusung tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa ini sebagai upaya memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama," kata Jimmy Sutanto, Jumat (27/2/2026).

Menurut dia, pelaksanaan tahun ini memiliki tantangan tersendiri karena bertepatan dengan Ramadan. Oleh sebab itu, seluruh rangkaian pertunjukan seni dimulai pukul 20.00 WIB agar tidak mengganggu waktu berbuka puasa maupun salat tarawih.

"Yang menjadi pembeda tahun ini adalah bertemunya dengan bulan puasa, sehingga kami perlu menghargai waktu-waktu tertentu, seperti saat buka puasa dan tarawih. Seluruh pementasan seni dimulai pukul 20.00 WIB sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah," katanya.

Jimmy menjelaskan tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa juga mengandung pesan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan unsur penting yang mampu membentuk karakter bangsa sekaligus mendorong kemajuan sosial.

Dalam penyelenggaraan PBTY XXI, panitia turut mengatur zona kuliner secara khusus dengan memisahkan stan makanan halal dan nonhalal. Area makanan halal dan umum ditempatkan di sisi barat hingga utara kawasan, sedangkan stan nonhalal berada di sisi selatan.

"Dalam pelaksanaannya, panitia juga melakukan pengaturan zona kuliner dengan memisahkan stan makanan halal dan nonhalal. Area makanan halal dan umum ditempatkan di sisi barat hingga utara kawasan, sedangkan stan nonhalal berada di sisi selatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan supaya pengunjung merasa nyaman," katanya.

Sebanyak 172 gerai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terlibat dalam PBTY XXI dari lebih dari 300 pendaftar. Tingginya minat pelaku usaha menunjukkan bahwa agenda budaya tersebut dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

"Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 orang. Panitia berharap minat masyarakat tidak berkurang meski bertepatan dengan Ramadan. Bahkan, bisa juga sebelum magrib masyarakat datang untuk membeli takjil sambil ngabuburit di Kampoeng Ketandan," katanya.

Selain bazar kuliner dan UMKM, PBTY XXI juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni budaya, mulai dari wayang potehi, tarian tradisional, pertunjukan barongsai, hingga panggung seni lintas budaya yang menjadi daya tarik utama pengunjung.

Jimmy berharap penyelenggaraan PBTY dapat terus memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam latar belakang. "Yogyakarta city of tolerance," katanya.

Salah satu pedagang perlengkapan barongsai, Rusmadi (45), mengaku rutin mengikuti PBTY setiap tahun karena acara tersebut sudah dikenal luas dan memiliki pasar tersendiri.

"Sudah sering jualan di acara PBTY dan memang sudah terkenal tiap tahunnya ada. Jadi, setelah saya jualan di acara Imlek Solo, setelah itu pasti ke Yogyakarta," katanya.

Ragam Kuliner

Sementara itu, pengunjung Amelia (22) mengaku baru pertama kali datang setelah mendapat informasi dari temannya dan tertarik dengan ragam kuliner yang tersedia.

"Saya baru pertama kali ke PBTY dan tau informasinya dari teman. Pilihan street food di sini beragam banget, mulai dari jajanan yang lagi viral sampai makanan khas Imlek. Kebetulan saya juga lagi cari takjil, jadi bisa sekalian food hunting yang lain," katanya.

Ketertarikannya terhadap pertunjukan barongsai juga menjadi alasan utama datang ke acara tersebut.

"Saya memang ingin menonton barongsai secara langsung. Itu salah satu yang bikin saya datang ke sini," katanya. Melalui rangkaian kegiatan budaya, kuliner, dan seni tersebut, PBTY XXI diharapkan tetap menjadi ruang pertemuan masyarakat lintas budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal selama Ramadan di Kota Jogja.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

BGN Sebut SPPG Terima Rp500 Juta per Hari untuk Program MBG

BGN Sebut SPPG Terima Rp500 Juta per Hari untuk Program MBG

News
| Jum'at, 27 Februari 2026, 15:27 WIB

Advertisement

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Korea Selatan Beri Bebas Visa Grup bagi Turis Indonesia

Wisata
| Kamis, 26 Februari 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement