Advertisement
Bebas Retribusi ke Gunungkidul, Petugas Parangtritis Malah Kena Sindir
Lokasi TPR baru di kawasan Parangtritis, Senin (13/4/2026). Harian Jogja - Kiki Luqman
Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL—Kebijakan pembebasan retribusi bagi wisatawan yang melintas menuju kawasan Gunungkidul melalui Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Pantai Parangtritis justru memunculkan persoalan baru di lapangan. Sejumlah petugas mengaku menerima ucapan bernada sindiran hingga merendahkan dari pengunjung.
Sejak awal April 2026, kendaraan yang menuju destinasi di Gunungkidul seperti Obelix tidak lagi dikenai retribusi saat melintas di TPR Pantai Parangtritis. Namun, kondisi ini diikuti dengan perubahan sikap sebagian wisatawan terhadap petugas.
Advertisement
Salah satu petugas, Awal, mengungkapkan ada sopir yang menyampaikan kalimat bernada menyindir saat melintas.
"Cukup bilang kepada petugas ingin berwisata ke Gunungkidul pasti tidak akan ditarik retribusi. Ada sopir yang membawa wisatawan ke Obelix bilang 'saiki meh ditarik pira? Aku meh nyang Obelix' (sekarang mau ditarik retribusi berapa? Saya antar wisatawan ke Obelix) dengan gestur tubuh yang tampak menyindir petugas TPR," ungkapnya, Senin (13/4/2026).
BACA JUGA
Menurutnya, petugas hanya bisa menahan diri meski perlakuan tersebut terasa menyakitkan.
"Ya kita diam saja, mau gimana lagi namun ucapan dengan gestur tubuh tampak menghina bikin sakit hati," tambahnya.
Tidak hanya itu, komentar serupa juga datang dari pengendara sepeda motor. Awal menyebut ada wisatawan yang menyebut petugas “rakus” dalam menarik retribusi, meskipun pada kenyataannya tidak ada pungutan bagi yang menuju Gunungkidul.
"Kok ya kita petugas dibilang rakus karena asal narik retribusi. Padahal kita tidak tarik retribusi, itu kan bikin sakit hati dibilang kita rakus," tandasnya.
Kejujuran Wisatawan Jadi Sorotan
Petugas lain, Galang, menegaskan pihaknya tetap memiliki cara untuk memantau kejujuran wisatawan yang melintas. Hal ini menyusul adanya kemungkinan pengunjung yang mengaku menuju Gunungkidul, tetapi justru berwisata di Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul.
"Ya tidak perlu saya omongkan bagaimana kita tahu wisatawan itu jujur atau tidak. Katanya mau ke Gunungkidul namun nyatanya ke Pantai Parangtritis. Saya juga siap untuk memviralkan wisatawan yang tidak jujur itu," katanya.
Ia menambahkan, sikap wisatawan akan berpengaruh pada perlakuan petugas di lapangan.
"Yang jelas jika wisatawan jujur dan santun kami juga akan segan," imbuhnya.
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Dispar Bantul, Markus Purnomo Adi, mengaku telah menerima laporan terkait perlakuan kurang menyenangkan tersebut. Meski demikian, petugas diminta tetap bersikap profesional.
"Saya kira petugas di lapangan sudah sering menghadapi wisatawan yang punya perilaku bermacam-macam," katanya.
Ke depan, pemerintah berharap persoalan serupa dapat berkurang dengan adanya jalur alternatif menuju Gunungkidul. Rencana pembukaan akses Kelok 23 dinilai akan mengurangi alasan wisatawan untuk menghindari retribusi melalui TPR Pantai Parangtritis.
"Ya kita tunggu Kelok 23 dibuka kan tidak ada alasan lagi wisatawan tidak mau bayar di TPR Pantai Parangtritis dengan alasan ke objek wisata di Gunungkidul karena sudah ada jalan yang menuju objek wisata di Gunungkidul tanpa melalui TPR Parangtritis," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Mendagri Nilai Rekrutmen Pilkada Picu Kasus OTT Kepala Daerah
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Jogja-Solo 13 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- DPRD Jogja Gelar Penghormatan Terakhir untuk Adrian Subagyo
- Forum UMKM Kulonprogo Dibentuk, Fokus Digitalisasi dan Kolaborasi
- Harlah Muslimat NU, Sultan Tekankan Peran Ibu Bangun Bangsa
- Jadwal KRL Solo-Jogja 13 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
Advertisement
Advertisement





