DPRD Bantul Soroti Penataan Guru Honorer Jadi PPPK
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Abdul Halim Muslih/Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL—Dua dekade setelah gempa besar mengguncang Bantul pada 2006, Pemerintah Kabupaten Bantul terus berkomitmen memperkuat sistem mitigasi bencana. Perkembangan sektor ini dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan, baik dari sisi inovasi peralatan hingga sistem pendukung kebencanaan.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyampaikan hal tersebut saat mengikuti kegiatan refleksi dua dasawarsa gempa Bantul di Monumen Ceceran Opak, Dusun Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Minggu (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenang peristiwa gempa sekaligus mengevaluasi kesiapan daerah menghadapi ancaman bencana di masa depan.
Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah elemen kebencanaan, mulai dari komunitas relawan, tim SAR, Basarnas, hingga Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Halim mengapresiasi munculnya berbagai kreativitas dari para relawan dalam menciptakan alat maupun sistem pendukung mitigasi.
“Hari ini kita belajar bersama dengan mendengarkan berbagai narasumber serta temuan-temuan yang dibuat para relawan. Ternyata di bidang kebencanaan ini muncul kreativitas, baik peralatan maupun software, hardware, serta sistem mitigasi yang kita perlukan,” ujar Halim.
Ia menyebutkan bahwa berbagai teknologi tersebut sangat krusial untuk menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, gelombang laut, hingga kebakaran. Meski mengakui kualitas peralatan saat ini sudah jauh lebih baik dan lengkap, Halim menegaskan bahwa jumlahnya masih perlu ditambah.
“Peralatan kita hari ini sudah relatif semakin baik, semakin sempurna. Tinggal jumlahnya saja yang belum memadai,” ungkapnya.
Salah satu perhatian utama ke depan adalah penambahan sistem peringatan dini atau warning siren system. Menurut Halim, alat tersebut memiliki fungsi vital untuk mendukung respons cepat masyarakat saat terdeteksi potensi bencana. oleh karena itu, keberadaan alat itu perlu dilakukan penambahan.
“Ke depan ini perlu kita perbanyak, seperti warning siren system yang sangat baik jika didistribusikan ke banyak wilayah atau instansi yang memerlukan,” katanya.
Refleksi dua dekade gempa 2006 ini diharapkan tidak hanya menjadi pengingat atas bencana masa lalu, tetapi menjadi pijakan kokoh untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat yang lebih kuat dan tangguh di masa mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Bantul dukung penataan guru honorer jadi PPPK. Pemkab setop rekrutmen honorer baru hingga 2026.
Studi global ungkap gangguan mental kini menjadi penyebab utama kecacatan dunia dengan hampir 1,2 miliar penderita.
Timnas Iran resmi pindahkan markas latihan Piala Dunia 2026 dari Arizona ke Tijuana, Meksiko. Mehdi Taj sebut langkah ini imbas ketegangan geopolitik.
Daftar mobil mesin di bawah 1.400 cc yang irit BBM dan pajak ringan cocok untuk keluarga muda dan pemakaian harian.
Spotify luncurkan Studio, aplikasi AI desktop yang bikin podcast & briefing personal dari kalender, email, dan catatanmu. Pesaing Google NotebookLM.
PAD wisata Gunungkidul tembus Rp26 miliar hingga Mei 2026. DPRD meminta target pendapatan daerah dinaikkan saat APBD Perubahan.