Dua Dekade Gempa Bantul, Pemkab Dorong Inovasi dan Penambahan Alat

Kiki Luqman
Kiki Luqman Minggu, 24 Mei 2026 15:37 WIB
Dua Dekade Gempa Bantul, Pemkab Dorong Inovasi dan Penambahan Alat

Abdul Halim Muslih/Harian Jogja

Harianjogja.com, BANTUL—Dua dekade setelah gempa besar mengguncang Bantul pada 2006, Pemerintah Kabupaten Bantul terus berkomitmen memperkuat sistem mitigasi bencana. Perkembangan sektor ini dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan, baik dari sisi inovasi peralatan hingga sistem pendukung kebencanaan.

Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menyampaikan hal tersebut saat mengikuti kegiatan refleksi dua dasawarsa gempa Bantul di Monumen Ceceran Opak, Dusun Potrobayan, Kalurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, Minggu (24/5/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk mengenang peristiwa gempa sekaligus mengevaluasi kesiapan daerah menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah elemen kebencanaan, mulai dari komunitas relawan, tim SAR, Basarnas, hingga Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB). Halim mengapresiasi munculnya berbagai kreativitas dari para relawan dalam menciptakan alat maupun sistem pendukung mitigasi.

“Hari ini kita belajar bersama dengan mendengarkan berbagai narasumber serta temuan-temuan yang dibuat para relawan. Ternyata di bidang kebencanaan ini muncul kreativitas, baik peralatan maupun software, hardware, serta sistem mitigasi yang kita perlukan,” ujar Halim.

Ia menyebutkan bahwa berbagai teknologi tersebut sangat krusial untuk menghadapi beragam potensi bencana, mulai dari gempa bumi, gelombang laut, hingga kebakaran. Meski mengakui kualitas peralatan saat ini sudah jauh lebih baik dan lengkap, Halim menegaskan bahwa jumlahnya masih perlu ditambah.

“Peralatan kita hari ini sudah relatif semakin baik, semakin sempurna. Tinggal jumlahnya saja yang belum memadai,” ungkapnya.

Salah satu perhatian utama ke depan adalah penambahan sistem peringatan dini atau warning siren system. Menurut Halim, alat tersebut memiliki fungsi vital untuk mendukung respons cepat masyarakat saat terdeteksi potensi bencana. oleh karena itu, keberadaan alat itu perlu dilakukan penambahan. 

“Ke depan ini perlu kita perbanyak, seperti warning siren system yang sangat baik jika didistribusikan ke banyak wilayah atau instansi yang memerlukan,” katanya.

Refleksi dua dekade gempa 2006 ini diharapkan tidak hanya menjadi pengingat atas bencana masa lalu, tetapi menjadi pijakan kokoh untuk membangun kesiapsiagaan masyarakat yang lebih kuat dan tangguh di masa mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online