Konser HUT Bantul Jadi Panggung 14 Musisi Lokal, UMKM Ikut Cuan
Konser Bantul Bumi Satriya menghadirkan 14 musisi lokal. Ribuan warga ikut menikmati hiburan gratis, sementara UMKM mendapat peluang tambahan pendapatan.
Warga Dusun Banyakan 1 menggerudug rumah Lurah Juweni, Senin (18/5) malam. Istimewa
Harianjogja.com, BANTUL— Puluhan warga Dusun Banyakan 1, Kalurahan Sitimulyo, Kapanewon Piyungan, Bantul mendatangi rumah Lurah Sitimulyo, Juweni, pada Senin (18/5/2026) malam untuk meminta klarifikasi terkait ucapan yang dinilai menyinggung Dukuh Banyakan 1, Munawir.
Kedatangan warga dipicu oleh pernyataan lurah yang disebut-sebut menyamakan dukuh dengan bahasa yang dianggap tidak pantas saat kegiatan perabasan pohon jati sehari sebelumnya. Situasi tersebut memicu reaksi keras dari warga yang merasa tidak terima dengan ucapan tersebut.
Pertemuan antara warga dan pihak lurah yang digelar di rumah jabatan wilayah Ngablak sempat berlangsung tegang. Warga datang dengan tujuan meminta penjelasan sekaligus menuntut permintaan maaf secara langsung kepada dukuh dan masyarakat Banyakan 1.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengatakan warga merasa kecewa atas ucapan tersebut.
“Kedatangan kami untuk meminta penjelasan kenapa pak dukuh kami yang orangnya alim bisa ‘diunek-uneke’ dengan kalimat binatang. Kami tidak terima,” ujarnya, Senin malam.
Peristiwa ini bermula dari kegiatan kerja bakti warga yang melakukan pemangkasan ranting dan dahan pohon jati milik lurah yang menjulur ke jalan kampung. Selain mengganggu akses jalan, ranting pohon tersebut juga dikhawatirkan mengenai jaringan kabel listrik di sekitar lokasi.
Sebelum melakukan pemangkasan, warga mengaku telah meminta izin kepada keluarga lurah dan mendapat persetujuan. Atas dasar itu, warga kemudian melaksanakan kerja bakti pada Minggu (17/5/2026).
“Kami sudah izin ke anaknya pak lurah dan dibolehkan, makanya kami kerja bakti rabas-rabas pohon itu,” katanya.
Namun situasi berubah saat lurah datang ke lokasi ketika kegiatan berlangsung. Warga menyebut terjadi adu argumen setelah lurah mempertanyakan pemangkasan pohon yang dilakukan, hingga akhirnya muncul ucapan yang dinilai menyinggung dukuh setempat.
Dukuh Banyakan 1, Munawir, dalam forum pertemuan juga meminta klarifikasi langsung kepada lurah terkait ucapan tersebut. Ia menegaskan bahwa pernyataan seperti itu tidak seharusnya disampaikan oleh seorang pemimpin kalurahan kepada perangkat di bawahnya.
“Ya kami meminta penjelasan kepada yang bersangkutan terkait perkataannya itu. Karena itu tidak seharusnya disampaikan oleh seorang Lurah,” katanya.
Meski sempat berlangsung panas, suasana pertemuan akhirnya dapat diredam oleh tokoh masyarakat dan warga yang hadir. Setelah dialog berlangsung, Lurah Sitimulyo, Juweni, menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada warga.
Warga kemudian meminta agar kejadian serupa tidak terulang kembali agar hubungan antara pemerintah kalurahan dan masyarakat tetap terjaga dengan baik di wilayah Sitimulyo.
Lurah Sitimulyo, Juweni, mengakui ucapannya muncul secara spontan karena emosi sesaat. Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan tanpa berlanjut ke persoalan yang lebih luas.
“Saya emosi sesaat dan saya minta maaf, semoga dengan kejadian ini semuanya bisa selesai secara kekeluargaan dan semoga tidak berlanjut. Sekali lagi saya minta maaf,” katanya.
Peristiwa ini menjadi perhatian warga setempat karena melibatkan aktivitas kerja bakti yang sejatinya bertujuan menjaga lingkungan, namun berujung pada ketegangan antara warga dan pemerintah kalurahan di Sitimulyo, Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Konser Bantul Bumi Satriya menghadirkan 14 musisi lokal. Ribuan warga ikut menikmati hiburan gratis, sementara UMKM mendapat peluang tambahan pendapatan.
Viral tagging parkir memicu cekcok di tempat umum. Simak 10 etika parkir agar tidak mengganggu pengguna lain dan memicu konflik.
Kawasan wisata Bromo kembali dibuka 20 Agustus 2026 setelah kebakaran hutan dipadamkan. Pengunjung diminta mencegah sumber api.
Ribuan warga Kulonprogo memadati Alun-Alun Wates menyaksikan pawai HUT ke-81 RI yang diikuti 97 kontingen sekolah dan OPD.
BMKG mencatat 3.055 gempa susulan di Flores setelah gempa M7,7. Terbesar M6,2, sementara BNPB siapkan bantuan rumah warga terdampak.
Dishub Jogja menegaskan target pendapatan parkir harus tetap menjaga kelancaran lalu lintas dan tidak mengganggu aktivitas ekonomi warga.