Razia Miras Bantul: Polisi Sasar Tiga Lokasi, 256 Botol Disita
Polres Bantul sita 256 botol miras ilegal dari tiga lokasi. Tiga pelaku diamankan dalam operasi dua hari.
Kerajinan batik kayu yang di produksi desa wisata Krebet. Kiki LuqmanSlamet sedang menyelesaikan kerajinan kayu di sanggar Sekar Melati. Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Suara mesin pemotong kayu dan gesekan amplas terdengar nyaris tanpa henti dari rumah-rumah warga di Desa Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul, Jumat (22/5/2026) pagi. Aktivitas itu menjadi denyut kehidupan kampung wisata yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sentra batik kayu khas Bantul.
Di balik suasana tenang kawasan perbukitan kapur tersebut, warga Krebet terus menghasilkan berbagai kerajinan kayu bernilai ekonomi tinggi. Mulai dari topeng, wayang, tempat tisu, ornamen dekoratif, hingga peralatan rumah tangga, semuanya diproduksi dari rumah-rumah sederhana yang sekaligus difungsikan sebagai tempat usaha.
Kerajinan batik kayu di Krebet bukan lagi sekadar pekerjaan sampingan. Industri rumahan ini telah menjadi sumber penghidupan utama masyarakat dan diwariskan lintas generasi.
Di teras rumah, ruang tamu, hingga bagian belakang bangunan warga, tampak tumpukan produk kayu siap kirim ke berbagai daerah hingga pasar luar negeri. Sebagian warga memotong kayu, ada yang mengamplas, mencanting motif batik di permukaan kayu, sementara lainnya sibuk memberi lapisan akhir agar hasil kerajinan tampak lebih menarik.
Ketua Desa Wisata Krebet, Agus Jati Kumara, mengatakan masyarakat Krebet awalnya bergantung pada sektor pertanian. Namun kondisi geografis wilayah yang berbukit membuat warga mulai mencari sumber penghasilan tambahan melalui kerajinan kayu.
“Di sini itu tahun 70-an sudah ada kerajinan kayu. Nah batik kayu pertama ada sekitar tahun 1988 yang dulu diawali Pak Anton Wahanda dan Pak Kemiskidi. Mereka mencoba kerajinan kayu yang ada di sini dibatik dan ternyata bisa,” katanya.
Sejak percobaan sederhana tersebut, batik kayu perlahan berkembang menjadi identitas Desa Krebet.
“Batik kayu pertama di dunia itu lahir di sini, sekitar tahun 1988 di Krebet,” ujar Agus.
Dari Peralatan Dapur hingga Produk Ekspor
Pada awal perkembangannya, warga hanya memproduksi perlengkapan rumah tangga sederhana seperti siwur, irus, dan alat dapur tradisional lainnya. Namun kreativitas masyarakat terus berkembang hingga menghasilkan beragam produk dekoratif dengan nilai jual lebih tinggi.
Kini terdapat lebih dari 50 rumah produksi kerajinan di Krebet dengan sekitar 150 usaha aktif yang dijalankan masyarakat. Ratusan warga menggantungkan hidup dari industri kerajinan batik kayu tersebut.
Agus menjelaskan pengembangan Desa Wisata Krebet mengusung konsep community based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat. Potensi dan aktivitas warga menjadi bagian utama yang ditawarkan kepada wisatawan.
“Kami di sini adalah desa wisata yang berbasis masyarakat. Kami jual dan memperkenalkan yang benar-benar ada di desa,” katanya.
Karena itu, wisatawan tidak hanya membeli produk kerajinan, tetapi juga diajak melihat langsung kehidupan masyarakat dan proses produksi batik kayu dari awal hingga siap dipasarkan.
“Pengunjung akan kita ajak melihat proses produksi kerajinan ini dari pemotongan sampai proses pembuatan sampai penjualan,” ujarnya.
Wisata Edukasi hingga Kerajinan Tembus Eropa
Pengunjung biasanya diajak berkeliling kampung menggunakan kereta wisata untuk melihat aktivitas produksi warga secara langsung. Wisatawan juga dapat mencoba membatik kayu, mengikuti paket ekoprint, menyaksikan kesenian tradisional, hingga melihat proses pembuatan kerajinan secara dekat.
Menurut Agus, pengembangan Desa Wisata Krebet mendapat dukungan dari berbagai pihak melalui pelatihan, promosi, hingga bantuan alat produksi bagi masyarakat.
“Lalu yang paling berdampak yaitu bantuan alat produksi untuk masyarakat. Ada bor, ada selep, ada gerinda, setrika untuk ibu-ibu, jadi usaha masyarakat yang punya usaha di rumah itu kita support,” katanya.
Dukungan tersebut membantu warga meningkatkan kapasitas produksi karena sebagian besar usaha di Krebet masih dikelola secara rumahan.
Di salah satu rumah produksi, Sanggar Sekar Melati, tumpukan kerajinan kayu memenuhi hampir seluruh sudut ruangan. Bentuk produk yang dibuat pun menyesuaikan permintaan pasar dan pesanan konsumen.
Pemilik Sanggar Sekar Melati, Slamet, mengatakan produknya telah dipasarkan hingga Eropa, termasuk Belanda.
“Belanda, yang kanan ini ke Belanda juga,” katanya sambil menunjukkan produk yang siap dikemas.
Menurut Slamet, jenis produk yang dibuat sangat beragam, mulai dari pajangan hingga ornamen dekoratif dalam berbagai ukuran sesuai pesanan pembeli.
“Tapi ya macam-macam, ada yang gede, ada yang segini,” ujarnya.
Amerika Serikat sebelumnya juga menjadi salah satu tujuan ekspor produknya. Namun perubahan kebijakan ekonomi membuat sebagian pesanan mengalami penurunan.
“Kalau dulu Amerika juga. Tapi setelah itu ada pajak dinaikkan, jadi banyak yang mundur,” katanya.
Tantangan Pengrajin di Tengah Melemahnya Rupiah
Di tengah pesanan yang masih berdatangan, pengrajin Krebet juga menghadapi tantangan dari melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada kenaikan biaya produksi.
Slamet mengaku sejumlah bahan pendukung seperti thinner hingga plastik kemasan mengalami kenaikan harga cukup signifikan.
“Thinner itu naiknya kurang lebih 25 persen,” ujarnya.
Meski biaya produksi meningkat, harga jual produk tidak mudah dinaikkan karena sebagian besar pesanan telah disepakati jauh hari dengan pembeli.
“Oh tidak, tetap. Ini yang membuat keuntungan semakin sedikit,” katanya saat ditanya mengenai kemungkinan kenaikan harga jual.
Bagi masyarakat Krebet, kayu kini bukan lagi sekadar bahan baku kerajinan. Di tangan warga, kayu telah menjelma menjadi karya bernilai seni yang menghidupi keluarga sekaligus menjaga identitas kampung batik kayu yang tumbuh dari kreativitas dan ketekunan masyarakat Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Bantul sita 256 botol miras ilegal dari tiga lokasi. Tiga pelaku diamankan dalam operasi dua hari.
BMKG memprakirakan mayoritas kota besar di Indonesia berpotensi hujan pada Senin 25 Mei 2026, mulai hujan ringan hingga petir.
Harga buyback emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian hari ini Senin 25 Mei 2026 terpantau stabil.
Kelurahan Pakuncen menggelar pelatihan sablon kaos untuk meningkatkan keterampilan dan mendorong ekonomi kreatif warga.
Rute Trans Jogja 2026 lengkap beserta tarif, pembayaran digital, dan jalur strategis di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Juventus gagal lolos ke Liga Champions usai ditahan Torino 2-2 pada pekan terakhir Serie A 2025/2026.