Pria di Bantul Ditangkap Warga, Sembunyikan Sabu dalam Kopi
Warga Jotawang, Bantul, mengamankan pria yang dicurigai membawa sabu 0,33 gram dalam bungkus kopi sebelum diserahkan ke polisi.
Kepala DKPP dan Disdikpora Bantul saat bertemu dengan 32 kepala sekolah yang akan mendapatkan 450 bibit untuk pengenalan pertanian sejak dini. Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Program literasi tani mulai dijalankan di Kabupaten Bantul dengan melibatkan puluhan sekolah untuk praktik langsung bercocok tanam. Langkah ini diharapkan mampu menumbuhkan minat generasi muda terhadap sektor pertanian sejak dini.
Sebanyak 32 sekolah, mulai dari SD hingga SLB, menjadi sasaran awal program yang mulai bergulir pada April 2026. Setiap sekolah mendapat paket bibit hortikultura untuk dikelola secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bantul, Joko Waluyo, menjelaskan setiap sekolah menerima 150 bibit cabai, 150 bibit tomat, dan 150 bibit terong sebagai tahap awal.
“Setiap sekolahan itu mendapat 150 bibit cabai, 150 bibit tomat, 150 bibit terong,” ujarnya, Minggu (5/4).
Ia menyebut tanaman yang dipilih memiliki siklus panen berulang sehingga siswa dapat mengikuti proses dari penanaman hingga panen secara berkelanjutan. Cabai termasuk tanaman jangka panjang, sementara tomat dan terong juga dapat dipanen lebih dari sekali.
Menurut Joko, program ini lebih menitikberatkan pada edukasi dibanding hasil produksi. Pengenalan pertanian sejak usia dini dinilai penting untuk membangun ketertarikan anak terhadap sektor yang mulai ditinggalkan generasi muda.
“Ini adalah salah satu bentuk untuk memperkenalkan sektor pertanian pada anak usia dini. Karena kalau kita sudah dewasa sudah terlambat,” jelasnya.
Meski saat ini baru menyasar 32 sekolah, program tersebut ditargetkan dapat menjangkau seluruh sekolah di Bantul secara bertahap. Keterbatasan anggaran masih menjadi kendala utama dalam perluasan program.
Pelaksanaan program ini melibatkan kolaborasi lintas dinas. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menyediakan bibit dan benih, sementara kebutuhan pupuk organik didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup melalui pengolahan sampah organik.
“Nanti kami menyediakan bibit, benih. Terus Dinas Lingkungan Hidup kami minta bantuan pupuk organik untuk itu,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Bantul, Nugroho Eko Setyanto, menilai program ini menjadi langkah konkret dalam memperkaya pembelajaran berbasis praktik di sekolah.
Menurutnya, kolaborasi antarorganisasi perangkat daerah menjadi kunci dalam mendukung literasi pertanian bagi siswa.
“Ini juga merupakan tindak lanjut dari obrolan kita beberapa waktu yang lalu tentang pengenalan literasi tentang pertanian pada anak-anak kita,” kata Nugroho.
Program ini dijadwalkan mulai berjalan pada April, sementara teknis pelatihan bagi sekolah masih dalam tahap pembahasan agar pelaksanaannya bisa optimal di lapangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Jotawang, Bantul, mengamankan pria yang dicurigai membawa sabu 0,33 gram dalam bungkus kopi sebelum diserahkan ke polisi.
Pansus DPRD DIY menilai pencegahan bunuh diri perlu menyasar warga yang menghadapi penyakit berkepanjangan dan tekanan ekonomi.
Bupati Sleman Harda Kiswaya mengajak masyarakat meramaikan pasar tradisional melalui Gempar di Pasar Godean.
Softex bersama Indomaret menghadirkan program Posyandu Remaja Softex dan Indomaret, sebuah inisiatif CSR yang akan menjangkau lebih dari 2.000 remaja putri
Jet tempur Sukhoi TNI AU tergelincir di Bandara Sultan Hasanuddin. Simak sejarah pembelian 11 unit Sukhoi SU-35 dari Rusia.
Pemerintah menyiapkan pemulihan Desa Adat Sade setelah kebakaran menghanguskan 167 bangunan dan benda warisan budaya Suku Sasak.