Advertisement
Dua Dekade Bertahan, Petani Pesisir Kulonprogo Tetap Tolak Tambang
Poster-poster yang terpasang dalam rangkaian peringatan dua dekade PPLP Kulonprogo di Garongan, Panjatan pada Minggu (12/4/2026). Harian Jogja - Khairul Ma'arif.
Advertisement
Harianjogja.com, KULONPROGO—Paguyuban Petani Lahan Pasir (PPLP) Kulonprogo kembali menegaskan penolakan terhadap proyek tambang pasir besi saat peringatan 20 tahun perjuangan mereka. Sikap ini tetap bertahan meski aktivitas penambangan oleh PT Jogja Magasa Iron saat ini tidak terlihat di lapangan.
Peringatan dua dekade PPLP digelar selama dua hari pada Sabtu (11/4/2026) hingga Minggu (12/4/2026) dengan berbagai agenda, mulai dari pameran arsip perjuangan hingga kegiatan syawalan. Kegiatan ini juga menjadi ruang temu bagi aktivis lingkungan dan warga pesisir.
Advertisement
Perwakilan PPLP Kulonprogo, Eko, menegaskan bahwa keberadaan organisasi ini tidak lepas dari perlawanan terhadap proyek tambang pasir besi yang dinilai mengancam ruang hidup petani di wilayah pesisir.
"Secara konsisten kami tetap berjalan dengan prinsip awal, kami tetap menolak tanpa syarat apapun itu. Kami tetap pengen ruang hidup kami, wilayah pesisir pantai Kulonprogo tetap untuk lahan pertanian sesuai kehendak kami lah, bukan sesuai kehendak orang lain yang nggak pernah menggarap dari leluhur kami," katanya, Minggu.
BACA JUGA
Menurutnya, meskipun aktivitas perusahaan tidak tampak, ancaman terhadap lahan pertanian masih dirasakan. Ia menyebut rencana pengambilalihan lahan di sepanjang pesisir tetap menjadi kekhawatiran utama petani.
"Mereka inginkan ambil lahan pertanian warga di seluruh pesisir Kulonprogo, lahan pertanian kami jadi hilang. Makanya kami tidak rela kalau diambil begitu saja," tegasnya.
Selama ini, petani di kawasan pesisir Kulonprogo tetap mempertahankan aktivitas bertani sebagai sumber penghidupan utama. Lahan pasir yang dikelola secara turun-temurun ditanami berbagai komoditas pertanian yang menjadi penopang ekonomi keluarga.
Melalui pameran arsip, PPLP juga menampilkan perjalanan panjang perjuangan mereka selama 20 tahun. Dokumentasi tersebut menjadi pengingat bagi generasi muda atas sejarah gerakan yang terus bertahan hingga kini.
"Sekadar mengingatkan karena dari 20 tahun yang lalu ada yang belum lahir dan sekarang sudah bisa berpikir," ujar Eko.
Ia menambahkan, peringatan ini juga menjadi bentuk penghargaan terhadap generasi sebelumnya yang telah memperjuangkan lahan pesisir untuk anak cucu mereka.
"Bentuk apresiasi orang-orang tua dulu untuk anak cucu, untuk generasi saat ini," tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Glamping DeLoano Menoreh Dibuka Lagi, Sensasi Menginap di Hutan Pinus
Advertisement
Berita Populer
- DPRD Jogja Gelar Penghormatan Terakhir untuk Adrian Subagyo
- Forum UMKM Kulonprogo Dibentuk, Fokus Digitalisasi dan Kolaborasi
- Harlah Muslimat NU, Sultan Tekankan Peran Ibu Bangun Bangsa
- Jadwal KRL Solo-Jogja 13 April 2026, Cek Jam Berangkat Terbaru
- Haji 2026 Aman, Ratusan Jemaah Bantul Tetap Terbang Awal Mei
Advertisement
Advertisement








