Advertisement

Kisah Serka Sarijo, Anggota TNI Jualan Sate Kronyos di Kabanaran

Khairul Ma'arif
Selasa, 14 April 2026 - 11:27 WIB
Abdul Hamied Razak
Kisah Serka Sarijo, Anggota TNI Jualan Sate Kronyos di Kabanaran Lapak Serka Sarijo yang berjualan sate kronyos di sisi barat Jembatan Kabanaran yang masuk wilayah Galur, Senin (13/4/2026) Harian Jogja - Khairul Ma'arif

Advertisement

Harianjogja.com, KULONPROGO—Aktivitas tak biasa terlihat di kawasan barat Jembatan Kabanaran. Di tengah deretan pedagang kaki lima, seorang anggota TNI aktif tampak sibuk melayani pembeli sate kronyos dari atas motor yang telah dimodifikasi menjadi gerobak mini.

Sosok tersebut adalah Sarijo, prajurit berpangkat Sersan Kepala (Serka) yang masih aktif berdinas di Koramil Panggang. Meski memiliki pekerjaan tetap sebagai aparat negara, Sarijo memilih memanfaatkan waktu luangnya untuk berjualan sebagai persiapan masa pensiun.

Advertisement

Di bagian belakang motornya, terlihat panggangan sate lengkap dengan etalase sederhana. Motor jenis Tiger yang digunakan telah dimodifikasi sedemikian rupa agar mampu membawa perlengkapan dagang secara praktis dan efisien.

Nama Unik Penuh Kenangan

Lapak milik Sarijo memiliki nama yang cukup menarik perhatian, yakni “Sate Kronyos Mantan Kopral”. Meski saat ini ia telah menyandang pangkat Serka, Sarijo mengaku memiliki alasan khusus mempertahankan nama tersebut.

Baginya, pangkat kopral memiliki nilai historis yang mendalam selama perjalanan karier militernya. “Kopral itu penuh perjuangan, ada cerita hidup mati yang tidak bisa dilupakan,” ungkapnya.

Sarijo sendiri telah mengabdi sebagai anggota TNI sejak 1996. Pada 2015, ia mengikuti pendidikan lanjutan hingga akhirnya naik pangkat menjadi Serka.

Persiapan Pensiun, Bukan Soal Gaji

Sarijo menegaskan bahwa usahanya berjualan sate bukan karena kebutuhan ekonomi mendesak. Ia justru melihat aktivitas ini sebagai langkah antisipasi menghadapi masa pensiun yang diperkirakan tinggal dua tahun lagi.

“Ini bukan karena gaji tidak cukup, tapi sebagai persiapan ke depan. Setelah pensiun, saya ingin fokus usaha sate,” katanya.

Ia mulai berjualan sejak 2017. Awalnya, Sarijo membuka lapak di kawasan Jembatan Kretek II sebelum akhirnya berpindah ke Jembatan Kabanaran yang dinilai lebih strategis.

Dagang Sore Hari, Omzet Jutaan

Sarijo biasanya mulai berjualan pada sore hari setelah menyelesaikan tugas kedinasan. Waktu tersebut dipilih karena menjadi jam ramai pengunjung.

Dalam sepekan, ia berjualan sekitar lima hari. Dari usahanya ini, Sarijo bisa meraup keuntungan berkisar antara Rp250.000 hingga Rp500.000 per hari, tergantung tingkat keramaian.

Menghidupi Keluarga dan Masa Depan Anak

Dari hasil usaha sampingan ini, Sarijo turut membantu perekonomian keluarga. Ia memiliki tiga anak, salah satunya telah mengikuti jejaknya menjadi anggota TNI yang kini bertugas di Belitung.

Ia pun berharap anak bungsunya yang masih duduk di bangku SMA dapat menyusul karier yang sama. “Alhamdulillah, dari hasil jualan ini juga bisa membantu pendidikan anak,” tuturnya.

Kisah Sarijo menjadi contoh bahwa persiapan masa depan bisa dilakukan sejak dini, bahkan oleh mereka yang masih aktif bekerja. Semangatnya dalam berwirausaha di tengah kesibukan dinas menjadi inspirasi tersendiri bagi masyarakat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Ribuan Penerima Bansos Dicoret, Ini Cara Cek Status

Ribuan Penerima Bansos Dicoret, Ini Cara Cek Status

News
| Selasa, 14 April 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Wisata
| Senin, 13 April 2026, 16:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement