Leptospirosis di Sleman Capai 112 Kasus, Total 4 Orang Meninggal

Stefani Yulindriani Ria S. R
Stefani Yulindriani Ria S. R Senin, 26 Oktober 2026 14:17 WIB
Leptospirosis di Sleman Capai 112 Kasus, Total 4 Orang Meninggal

Ilustrasi leptospirosis./Istimewa

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat 112 kasus leptospirosis dengan dua kematian hingga September 2026. Selain kasus tersebut, terdapat 80 kasus suspek leptospirosis yang disertai dua kematian, sehingga total kematian pada kedua kelompok mencapai empat orang.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sleman, dr. Khamidah Yuliati, mengatakan kasus leptospirosis paling banyak ditemukan di wilayah kerja Puskesmas Ngemplak 2 dan Puskesmas Gamping 2.

“Kasus leptospirosis sampai September ada 112 kasus, yang meninggal dua orang. Untuk kasus suspek leptospirosis ada 80 kasus dengan jumlah meninggal untuk kasus suspek dua orang,” katanya pada Senin (26/10/2026).

Leptospirosis Menular melalui Urine Hewan Terinfeksi

Khamidah menjelaskan leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Bakteri tersebut dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus.

Penularan dapat terjadi ketika bakteri masuk ke tubuh melalui luka pada kulit atau selaput lendir, khususnya saat seseorang berkegiatan di lingkungan yang telah tercemar. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di tempat yang berpotensi menjadi sarang atau jalur pergerakan tikus.

Kebersihan lingkungan dan pengendalian populasi tikus menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko paparan. Warga juga diminta memperhatikan kebersihan diri serta menjaga makanan agar tidak mudah terkontaminasi.

“Waspada untuk menjauhi tempat-tempat yang diperkirakan menjadi tempat tikus bersarang ataupun lalu lalang, agar sering cuci tangan dengan air mengalir memakai sabun, menutup makanan, memberantas sarang tikus,” ujarnya.

Warga Diminta Segera Memeriksakan Diri

Selain melakukan pencegahan di lingkungan rumah, masyarakat diimbau tidak mengabaikan kondisi kesehatan apabila merasa sakit setelah kemungkinan terpapar urine tikus. Riwayat aktivitas di lingkungan berisiko perlu disampaikan saat menjalani pemeriksaan medis.

Khamidah menekankan pentingnya segera membawa orang yang sakit untuk diperiksa apabila terdapat riwayat paparan yang dicurigai berkaitan dengan urine tikus. Langkah tersebut menjadi bagian dari kewaspadaan agar dugaan infeksi dapat segera ditangani oleh tenaga kesehatan.

“Segera memeriksakan pasien yang sakit dan ada riwayat dicurigai terpapar kencing tikus sebelumnya,” kata dia.

Dinkes Sleman mengimbau masyarakat menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, mulai dari menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, hingga menyimpan makanan dalam wadah tertutup.

Masyarakat juga diminta segera mencari pertolongan medis ketika sakit, terutama jika sebelumnya beraktivitas di lingkungan yang berisiko terpapar bakteri Leptospira.  

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online