Pemda DIY Galakkan Pemenuhan ASI Hingga 85%

Wakil Ketua DPRD DIY Arif Noor Hartanto (kanan) berbicara pada hadirin dalam acara peringatan Pekan Asi Sedunia 2018, Jumat (10/8/2018). - Harian Jogja/I Ketut Sawitra Mustika
10 Agustus 2018 23:50 WIB I Ketut Sawitra Mustika Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Data ibu menyusui di DIY masih berada di kisaran 70%. Angka ini belum memenuhi ketetapan yang tercantum dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau sustainable development goals (SDGs), yang batas minimalnya adalah 85%. Oleh sebab itu, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY terus menyosialisasikan pentingnya air susu ibu (ASI) bagi bayi.

Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembayun Setyaningastutie mengatakan, ASI adalah makanan pertama dan sangat penting bagi bayi yang sedang berada dalam masa keemasan, yakni usia 0 sampai dua tahun setelah dilahirkan. Dengan mendapatkan asupan ASI yang cukup, maka bayi bisa hidup sehat dan berkembang secara optimal.

"Kalau anak di usia itu tidak mendapatkan ASI, kami khawatir anak tidak bisa tumbuh dan berkembang scara optimal. Tidak hanya fisiknya saja. Tetapi juga otaknya. Itu yang akan kami khawatirkan, karena komponen ASI itu sangat tidak tergantikan, baik oleh susu formula ataupun makanan yang lainnya," jelas Pembayun di sela-sela peringatan Pekan ASI Sedunia 2018 dengan tema Menyusui Sebagai Dasar Kehidupan di Stadion Mandala Krida, Jumat (10/8/2018).

Secara nasional, angka ibu menyusui, kata Pembayun, ada di kisaran 45%. Sementara untuk DIY persentasenya sekitar 70%. Tapi angka ini masih di bawah target 85% atau seperti yang tercantum pada SDGs. Oleh sebab itulah Dinas Kesehatan DIY akan terus mendorong ibu-ibu agar memberikan ASI bagi buah hatinya.

Belum tercapainya target ibu menyusui, ujar Pembayun, bukan disebabkan karena kurangnya pemahaman orang tua akan pentingnya ASI, tapi karena pergeseran peran ibu, yang kini juga turut berperan sebagai pencari nafkah. Masalahnya bukan terletak pada ibu yang bekerja, melainkan tempat kerja yang kurang representatif.

Pembayun mengatakan, beberapa tempat kerja tidak menyediakan ruang laktasi atau ruang menyusui. Selain ketiadaan ruang laktasi, ada juga perusahaan yang tidak memberi waktu yang cukup untuk menyusui. Akhirnya, bayi tidak mendapatkan asupan ASI yang cukup.

"Kami berharap Dinas Tenaga Kerja, Dinas Pendidikan dan masyarakat memberikan edukasi. Mall juga, misalnya, bisa menyediakan tempat untuk menyusui," ujarnya.

Wakil DPRD DIY Arif Noor Hartanto, yang juga turut hadir pada peringatan pekan ASI sedunia, mengatakan, suami harus turut serta dalam proses pemberian ASI. Ketika istri sedang menyusui, para suami juga dituntut aktif dengan cara membelai anaknya sebagai bentuk kasih sayang.

Ia menambahkan, saat menyusui, ibu-ibu tidak boleh melakukannya sembari berbincang atau chating melalui WhatsApp. "Banyak yang memberi ASI sambil WA-nan dan ngerumpi. Dari kursus yang saya ikuti dulu, anak harus didekatkan dengan detak jantung dan dibelai dengan kasih sayang. Suaminya juga ikut membelai."