Duh, Usulan Dana Pascabanjir oleh Pemkab Gunungkidul Belum Juga Ada Respons dari Pusat

Ilustrasi banjir. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
23 September 2018 11:20 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Nyaris setahun sudah banjir besar yang menyebabkan kerusakan cukup parah beberapa jembatan dan rumah di Gunungkidul. Namun hingga kini dana yang diajukan dari Pusat belum juga ada kejelasan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan menurut data yang ada sekitar 100 unit rumah dan tujuh jembatan hancur akibat banjir akhir November tahun lalu. "Saat ini kami masih menunggu, karena bencana saat itu tidak hanya di Gunungkidul. Mungkin pemerintah pusat juga harus teliti. Usulan permintaan bantuan sendiri rencananya diperuntukkan bagi rumah yang rusak total dan membangun jembatan," ujar Edy Minggu (23/9/2018).

Untuk korban yang rusak total rumahnya ada yang tinggal menumpang, keluarga lainnya. Ada juga yang menempati hunian sementara. Sedangkan untuk jembatan, sementara waktu warga membuat jembatan darurat. "Contohnya warga di Dusun Jelok [Desa Beji, Kecamatan Patuk], mereka membuat jembatan darurat. Di wilayah lain guna pembangunan jembatan segera terealisasi, masyarakat juga membuat usulan pembangunan jembatan gantung ke bupati," ujarnya.

Dia berharap dana juga segera turun agar rekonstruksi dapat segera dilaksanakan dan aktivitas masyarakat sehari-hari lebih mudah. Edy mengungkapkan usulan dana juga disampaikan di Kementrian Keuangan, jika nanti dana turun akan dilakukan verifikasi agar tepat sasaran.

Salah satu tokoh masyarakat di Dusun Jelok, Sukriyanto mengatakan pascajembatan rusak warga berusaha membangun jembatan darurat. Tak hanya itu, warga juga berusaha mencari donasi dari pihak swasta guna perbaikan jembatan agar dapat segera terealisasi. Terlebih jelang musim penghujan muncul kekhawatiran akses akan lebih sulit. "Ini sudah akan memasuki musim penghujan, jembatab darurat praktis tidak dapat dipakai. Jika jembatan baru belum dibangun otomatis terpaksa memanfaatkan perahu untuk penyebrangan,"