Ini Alasan Kenapa Jogja Layak Jadi Kota Batik Dunia

Ketua Dekranasda DIY GKR Hemas (tengah) dalam acara Gebyar Sewu Canthing, Sabtu (6/10/2018). - Harian Jogja/Anton Wahyu Prihartono
06 Oktober 2018 23:37 WIB I Ketut Sawitra Mustika Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Ratusan pembatik melakukan aksi nyanting massal pada acara Gebyar Sewu Canthing, Sabtu (6/10/2018). Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kulonprogo dan Bank BPD DIY ini semakin meneguhkan kepantasan Jogja menjadi kota batik dunia untuk ketiga kalinya.

Para perempuan pembatik memulai proses nyanting sejak matahari masih condong di arah timur. Mereka menggoreskan malam atau lilin batik di atas hamparan kain putih yang diikat di sepanjang jalan menuju Joglo Nitik Canthing, yang berlokasi di Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, sesuai kehendaknya. Tak ada skesta dan pola sama sekali. Mereka diberikan kebebasan secukupnya. Ada yang menggambar bunga. Ada yang menggambar angka. Pendeknya banyak objek yang diabadikan di kain itu.

Selepas para pejabat datang, semisal Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo, Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal dapil DIY GKR Hemas, Direktur Utama PT. Bank BPD DIY Santoso Rohmad dan pemuka-pemuka lainnya, perhatian tertuju pada panggung yang berada di hadapan Joglo Nitik Canthing. Selain karena ada artis Ibu Kota bernama Baim Wong, yang kualitas paras dan kecerahan kulitnya jauh dari yang dimiliki mayoritas hadirin, juga karena ada peragaan busana untuk mempromosikan batik hasil kreasi kawasan desa wisata batik Kulonprogo.

Kawasan desa wisata batik di Kulonprogo meliputi Desa Sidorejo, Ngentakrejo dan Gulurejo. Ketiganya berada di Kecamatan Lendah. Peragaan busana itu tidak hanya melibatkan orang-orang yang memang mencari uang dengan jadi model, tapi juga diikuti pejabat teras Pemkab Kulonprogo. Mulai dari Bupati hingga kepala dinas berlenggak lenggok di catwalk. Hasto Wardoyo bersama dengan istrinya menjadi yang pertama, dari rombongan pejabat, yang berusaha bergaya ala model. Kemudian disusul Wakil Bupati Kulonprogo Sutedjo dan istrinya. Bergiliran para petinggi-petinggi memamerkan batik karya pengerajin asal Bumi Menoreh.

Selain pejabat, peragaan busana juga melibatkan Dimas Diajeng Kulonprogo, Karywan Bank BPD DIY, dan model sungguhan. Yang disebutkan terakhir benar-benar tampil di penghujung acara.

GKR Hemas, yang merupakan Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, mengatakan, dirinya berharap DIY kembali terpilih menjadi kota batik dunia, setelah status yang sama sudah dipegang selama dua periode terakhir. Kebetulan acara itu juga dihadiri oleh petinggi Dewan Kerajinan Dunia (World Craft Council/WCC). Dewan inilah yang menentukan daerah mana yang pantas jadi kota batik dunia.

"Ini sudah penilaian ketiga kali. Jangan sampai status kota batik dunia beralih ke negara lain atau kota lain. Banyak [pesaingnya], dari Jawa barat hingga ke Jawa Timur. Mereka tidak punya sejarah batik. Kita punya sejarah batik. Pekalongan punya sejarah tapi tidak seperti di Jogja, di mana batik diciptakan untuk manusia dari lahir sampai mati. Itu semua ada desainnya," kata GKR Hemas.

WCC, kata Hemas, memang berkeinginan melihat langsung gairah masyarakat pedesaan DIY dalam membuat batik. Karena pemberian status kota batik dunia, salah duanya dipengaruhi aspek sejarah dan masyarakatnya. Keinginan tersebut berbalas dengan baik karena Desa Gulurejo yang terlihat sepi itu, ujar Hemas, masyarakatnya sangat antusias dalam membatik.

"Mereka juga nanya, apakah itu batik yang dipakai anak sekolah? Saya bilang semua siswa dan pegawai pemkab memakai batik Kulonprogo sehingga batik dapat membangun ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi masyarakat," ujar permaisuri Sri Sultan HB X itu.

Hasto mengungkapkan Desa Sidorejo, Ngentakrejo dan Gulurejo layak menjadi desa wisata batik. Pemkab Kulonprogo sendiri telah membangun fasilitas, yang dikerjakan dan dimiliki masyarakat, agar memiliki daya ungkit. Salah satunya adalah Joglo Nitik Canthing, yang hari itu diresmikan keberadaannya oleh Hasto. Joglo ini merupakan hasil kolaborasi Pemkab Kulonprogo dan Bank BPD DIY.

Joglo ini dinamai Nitik, kata Hasto, karena itu adalah nama salah satu jenis batik asal Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman. "Joglo ini jadi center. Seandainya mau belajar dan lihat batik bisa ke sini. Ini dimiliki publik," jelasnya.

Meski menyebut kawasan desa batik di Kulonprogo layak jadi desa wisata batik, ia menyatakan ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Misalnya, terkait dengan amdal. Ia menyebut selama ini Pemkab Kulonprogo sudah bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengolah limbah batik, tapi hasilnya belum maksimal. Karena itu, pengolahan limbah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.

Masalah lain yang perlu diperhatikan, kata Hasto, adalah bahan baku. Para pengerajin batik di kawasan desa batik masih harus membeli bahan-bahan dari daerah lain. Di Kulonprogo belum ada pengerajin canting, malam dan pengerajin kain. "Di Kulonprogo harusnya ada pengerajin-pengerajin itu."

Santoso Rohmad mengatakan, keberadaan Joglo Nitik Canthing adalah bentuk komitmen PT. Bank BPD DIY untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kulonprogo, khususnya yang ada di Kecamatan Lendah. "Tempat ini bukan hanya teduh, tapi bisa digunakan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan."