Mahfud MD Ingatkan Jogja sebagai City of Tolerance sejak 2005

Diskusi Membangun Toleransi dalam Realita Kebinekaan, Sabtu (13/10/2018) di Jogja. - Ist/Parampara Praja DIY
15 Oktober 2018 07:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja,com, JOGJA-Ketua Parampara Praja DIY Prof Moh. Mahfud MD mengingatkan jika sejak 2005 Jogja mendapat predikat sebagai city of tolerance. Belakangan ini, banyak kasus intoleransi muncul meskipun tidak separah kota lain. Padahal, kalau dibandingkan realitas masyarakat dan jumlah populasinya tidak sekomplet di Jogja.

"Kasus yang muncul kasuistis dan insidental, bisa terjadi di mana saja. Tetapi sebenarnya secara umum, Jogja termasuk kota yang nyaman dalam toleransi terutama soal beragama," kata Mahfud dalam diskusi Membangun Toleransi dalam Realita Kebhinekaan, Sabtu (13/10/2018) di Jogja.

Ia juga menegaskan bahwa masyarakat harus saling bertoleransi. Karena toleransi sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa melalui ideologi Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Ia juga meminta agar masyarakat tetap menjaga toleransi dengan baik, demi terwujudnya Indonesia yang aman, damai, sejahtera, dan berketuhanan.

Menjelang Pemilu 2019, kata Mahfud, fenomena intoleransi kembali muncul di Indonesia terutama yang mengait-ngaitkan dengan agama. Proses demokrasi lewat Pemilu seringkali menimbulkan kerawanan. Bahkan di media sosial (medsos) terjadi semacam perang. Fenomena itu terlihat sejak Pemilu 1999, Pemilu 2014 hingga saat ini. Masing-masing pendukung (rakyat) saling menjagokan pilihannya.

"Tapi setelah Pemilu usai, ya sudah. Tinggal elitenya yang bertikai. Diharapkan pada Pemilu 2019 rakyat dari masing-masing pendukung juga bisa kembali akur," katanya.

Oleh karenanya, Mahfud berharap aparat keamanan harus bekerja lebih baik lagi dalam menjaga kondusifitas bangsa. Dia juga meminta agar para provokator diawasi.

Heri Santoso, Ketua Pusat Studi Pancasila UGM mengatakan karakteristik masyarakat Jogja yang terbuka menerima pluralisme, toleransi dan sikap gotong royong dalam kebhinekaan. Selain dalam aspek budaya, agama dan sistem kenegaraan untuk menjaga agar Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan terhindar dari perpecahan.

"Jogja memiliki kekuatan budaya, sosial dan pemimpin serta komunitas yang mampu melokalisir setiap bentuk intoleransi yang muncul sehingga tidak meluas," katanya.

Anggota Parampara Praja DIY Prof. Amin Abdullah mengakui jika daya tahan kultural masyarakat Jogja sangat luar biasa. Termasuk menjaga toleransi. "Setiap ada kasus intoleransi, segera di lokalisir. Yang paling pokok menanamkan daya tahan seperti ini," kata Amin.

Menurutnya, ketahanan sosial dan ketahanan kultural sangat dibutuhkan masyarakat Indonesia agar toleransi bisa terus tumbuh di masyarakat.
Meski ada data kasus intoleransi di Jogja (kasus tertentu), hal itu dianggap sebagai warning dan segea ditindaklanjuti oleh semua pihak.

"Modal sosial dan kultural yang luar biasa seperti ini menjadikan spirit budaya dan sosial yang kuat untuk menjaga kebinekaan," katanya.

Di era sekarang ini, cara berpikir dalam menyikapi apapun termasuk dalam agama, kata Amin harus fleksibel. Orang harus mengutamakan aspek kognitif fleksibeliti. Yang dibutuhkan saat ini adalah aktif toleransi dan tidak usah saling menghakimi.

"Utamakan musyawarah dalam menyikapi perbedaan. Dalam Islam bisa saling memahami bukan asal benar. Kalau jadi saling memahami maka jadi bhinneka tunggal ika," ujarnya.

Acara diskusi yang dimoderatori oleh Dibyo Primus tersebut juga menghadirkan Komunitas Facebook terbesar dan Presiden Info Cegatan Jogja (ICJ) Yanto Sumantri. Antok sapaan akrabnya mengakui jika kata toleransi dipahami berbeda-beda oleh masing-masing individu.

"Toleransi ada yang paham, ada yang tidak mudah dihasut. Dalam satu orang bisa berbeda menyikapi sesuatu," katanya.

Meski begitu, khusus masalah toleransi di Jogja, Antok menilai jika Jogja masih nyaman untuk ditinggali. Bahkan tidak sedikit yang ingin berlama-lama tinggal di Jogja. "Ini menunjukkan wujud toleransi di Jogja sangat tinggi sehingga orang nyaman tinggal di Jogja," katanya.