Perbaikan Jalan dan Drainase Depan Pasar Ngawen Ditarget Rampung 18 Oktober 2026
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp967 juta untuk memperbaiki jalan depan Pasar Ngawen sekaligus membangun drainase agar tak mudah rusak.
Pasangan suami istri Suyanto dan Dwi Astutiningsih berfoto bersama seusai pencoblosan dalam Pilkades Dengok, Kecamatan Playen, Sabtu (13/10/2018)./Harian Jogja-Ist.
Harianjogja.com, JOGJA—Pemilihan kepala desa (pilkades) tahun ini digelar serentak di 30 desa di Gunungkidul. Dua pasutri ikut pemilihan di Desa Kepek, Kecamatan Saptosari, dan Desa Dengok, Kecamatan Playen. Berikut laporan wartawan Hariankogja.com David Kurniawan.
Sabtu (13/10/2018) menjadi hari penting bagi Suyanto-Dwi Astutiningsih. Pasangan suami istri itu bertarung memperebutkan jabatan Kepala Desa Dengok untuk periode 2018-2024.
Meski menjadi rival, keduanya terlihat akur. Pada saat diminta hadir oleh panitia pilkades di balai desa, sebelum pencoblosan, keduanya datang bersama. Pada saat pencoblosan, mereka juga datang bareng ke tempat pemungutan suara dan foto bersama.
Dwi Astutiningsih, sang istri, yang menjadi penantang harus mengakui keunggulan suami yang berstatus calon petahana. Astuti hanya mendapatkan dukungan 125 suara, sedangkan suaminya unggul jauh dengan perolehan 1.387 suara.
Suyanto yang kembali terpilih kembali sebagai Kepala Desa Dengok mengatakan perebutan suara itu adalah ikhtiar bersama untuk memajukan desa mereka.
“Saya tidak menganggap sebagai pesaing, apalagi dia [Astuti] juga jadi pasangan hidup saya yang sah,” kata Yanto.
Keduanya membentuk tim sukses sendiri-sendiri. Namun, mereka kampanye bersama-sama. “Saya dua kali pengenalan dalam pengajian dan dia [Astuti] saya kenalkan sebagai calon lawan dalam pilkades,” ujar Yanto.
Bahkan, Yanto menyumbangkan saran saat Astuti menyusun visi misi calon kepala desa.
“Sebagai suami, saya memberikan masukan apa yang perlu dibuat guna memajukan Dengok,” tuturnya.
Astuti tetap bangga meski kalah karena dapat meramaikan pesta demokrasi di tingkat desa. “Biar kalah, saya juga tetap dipanggil Ibu Lurah,” katanya.
Dia terpaksa menghadapi suaminya karena tidak kandidat lain yang mau menjadi penantang. Sementara, dalam pilkades, tidak ada istilah calon tunggal. Jika hanya ada satu calon, pemilihan akan ditunda hingga pelaksanaan pilkades serentak berikutnya. “Kalau ditunda, pemilihan di Dengok akan diikutkan dalam pilkades serentak di tahun depan,” katanya.
Astuti akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar. Persyaratan sebagai calon kepala desa baru diurus mendekati masa penutupan pendaftaran. “Semua lancar dan akhirnya ditetapkan oleh panitia sebagai calon kades, harus bersaing dengan suami sendiri.”
Di Desa Kepek, Kecamatan Saptosari, suami juga memenangi pemungutan suara atas istrinya. Hasil rekapitulasi akhir menunjukkan Suhut unggul jauh dengan perolehan suara 2.872 suara. Istrinya, Partini, hanya mendapatkan 721 dukungan.
Kepala Bidang Pemerintahan Desa Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Gunungkidul M Farkhan mengatakan pasutri yang bertarung dalam pilkades serentak 2018 bukan menjadi masalah. “Memang boleh dan di pilkades ada dua pasangan yang bertarung, yakni di Dengok dan Kepek,” ujar dia.
Menurut dia, majunya pasutri ini tidak lepas dari strategi untuk menghindari penundaaan penyelenggaraan pilkades.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mengalokasikan Rp967 juta untuk memperbaiki jalan depan Pasar Ngawen sekaligus membangun drainase agar tak mudah rusak.
KPK menyebut Ombudsman dapat melaporkan dugaan pungli di lapas dan rutan jika data lengkap, termasuk temuan di Cibinong dan Pondok Bambu.
Kementan menargetkan tambahan 600.000 sapi perah hingga 2029 untuk memperkuat produksi susu lokal dan menekan ketergantungan impor.
Partai Gema Bangsa bersilaturahmi ke PP Muhammadiyah di Jogja membahas desentralisasi politik dan target Pemilu 2029.
Dugaan politik uang muncul di Pilur Panggungharjo. Calon lurah melapor, sementara panitia mengingatkan fakta integritas dan mekanisme penanganan.
BMKG memprakirakan sejumlah wilayah berpotensi hujan pada 2–5 Oktober 2026 meski kemarau panjang masih melanda banyak daerah.