Setelah Setahun Rusak, Jembatan Gantung di Ngleri Gunungkidul Mulai Dibangun

Peletakan batu pertama pembangunan jembatan gantung, di Dusun Wonolagi, Desa Ngleri, Playen, Selasa (6/11/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
06 November 2018 22:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL —Hampir satu tahun rusak tidak bisa dipergunakan jembatan gantung di Dusun Wonolagi, Desa Ngleri, Playen, mulai dibangun kembali oleh Pemerintah Pusat. Rusaknya jembatan tersebut sangat dirasakan oleh warga dampkanya, karena jembatan tersebut merupakan salah satu akses utama.

Kepala Desa Ngleri, Supardal mengatakan jembatan tersebut tidak hanya digunakan untuk masyarakat dusun sekitar, namun juga masyarakat lain untuk menuju arah Jogja. “Baik tenaga buruh, termasuk pedagang kecil lainnya. Jadi padat sekali yang melintasi jembatan ini,” katanya, Selasa (6/11/2018).

Wargapun terpaksa harus memutar kurang lebih 10 km untuk menuju wilayah Gading, Playen atau jalan utama menuju Jogja. Selain itu, rusaknya jembatan tersebut menganggu aktivitas anak-anak yang berangkat ke sekolah selama hampir satu tahun terakhir.

“Biasanya anak sekolah SMP bisa dilaju dari rumah berangkat sendiri. Semenjak rusak jembatan itu ya harus diantar. Termasuk ibu-ibu yang mau ke ladang, benar-benar lumpuh total,” ujarnya.

Ia pun berharap dengan dibangunnya jembatan tersebut dapat meningkatkan aksesbilitas masyarakat, sehingga kesejahteraan masyarakat juga ikut meningkat. Masyarakat diharapkan dapat semangat disektornya masing-masing. “Pelajar jadi terpacu untuk semakin semangat sekolah lagi, termasuk memudahkan akses guru yang ngelaju kesini,” ujarnya.

Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Ahmad Cahyadi mengatakan pembangunan ini menjadi hal yang penting tidak hanya masyarakat sekitar namun juga masyarakat pada umumnya. Dikatakannya pembangunan ini juga menjadi salah satu wujud pembangunan dari pinggirian.

“Jembatan ini nanti memiliki panjang sekitar 96 meter dan lebar 1,6 meter. Untuk biayanya nilai bangunan bawah Rp2,9 Miliar tambah aset lainnya Rp4 Miliar. Jembatan ini diperuntukan untuk pejalan kaki, pengendara sepeda, atau sepeda motor. Target pengerjaan sendiri akhir tahun ini selesai,” ujarnya.

Anggota Komisi V DPR RI, Mohammad Idham Samawi mengatakan dengan tidak adanya jembatan tersebut warga kesulitan dalam akses. Dikatakannya padahal alinea ke empat pembukaan UUD jelas, melindungi segenap bangsa Indonesia serta tumpah darah bangsa Indonesia.

“Respon dari pemerintah juga sangat cepat dalam pembangunan ini. Harapannya masyarakat dapat memperoleh akses yang lebih mudah, dan dapat merawat pula jembatan nantinya setelah dibangun,” kata Idham.