Ayo Siaga! 22 Desa di Kulonprogo Rawan Banjir

Ilustrasi banjir. - Bisnis Indonesia/Paulus Tandi Bone
07 November 2018 22:15 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat sebanyak 22 desa di sisi selatan Kulonprogo menjadi wilayah langganan banjir.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho, memaparkan 22 desa rawan banjir itu berada di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Wates, Temon, Panjatan, Galur dan Lendah.

Secara rinci 22 desa tersebut yakni Desa Plumbon, Kalidengen, Paliyan, Kaligintung, Temon Wetan dan Temon Kulon di Kecamatan Temon; kemudian untuk Kecamatan Wates meliputi Desa Karangwuni, Sogan, Kulwaru, Ngestiharjo dan Triharjo. Untuk Kecamatan Panjatan, yakni Desa Gotakan, Panjatan, Cerme, Kanoman, Krembangan dan Tayuban. Di Kecamatan Galur, desa yang rawan banjir meliputi Desa Brosot, Tirtorahayu, Kranggan dan Pandowan; sedangkan di Kecamatan Lendah Desa Wahyuharjo menjadi kawasan yang rawan tergenang saat hujan turun dengan intensitas tinggi. "Itu belum termasuk desa yang terdampak banjir rob di wilayah pesisir pantai," ujar Hepy, Rabu (7/11/2018).

Hepy menjelaskan puluhan desa tersebut menjadi langganan banjir lantaran sungai yang melintasi wilayah itu mengalami pendangkalan. Pendangkalan terjadi lantaran faktor alam, yakni sedimentasi tanah. Akibatnya saat turun hujan, air meluap hingga membanjiri permukiman warga.

Dikatakan Hepy, sejumlah upaya sudah dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir, di antaranya pembentukan Desa Tangguh Bencana, optimalisasi koordinasi dengan sukarelawan serta mengandalkan efek dari proyek normalisasi Sungai Heizero dan Sungai Sen mulai simpang empat Nagung di Kecamatan Wates hingga Jembatan Ngremang, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan.

Hanya saja untuk proyek normalisasi sungai yang saat ini tengah dikerjakan tersebut baru fokus melancarkan arus air sungai dari Desa Giripeni, Sanggarahan dan Desa Bendungan. Sementara di hulu sungai seperti di Desa Bugel dan sekitarnya tidak ikut dikerjakan. Akibatnya wilayah lain tetap berpotensi terjadi banjir. "Meski begitu mudah-mudahan tahun ini [banjir] bisa berkurang. Karena kami juga sudah mengupayakan adanya normalisasi sungai," ujarnya.

Salah seorang warga Desa Panjatan, Deni Prasetyo, 23, mengatakan desanya menjadi wilayah rawan banjir, terutama jika hujan turun dalam intensitas tinggi. "Kalau seharian turun hujan, atau minimal setengah hari saja, air sungai langsung meluap," ujarnya.

Dia berharap dengan adanya normalisasi sungai yang dilakukan bisa mengurangi potensi terjadinya banjir di desanya. "Yang pasti semoga efek positifnya [adanya normalisasi sungai] bisa kami rasakan, karena kami juga takut kalau turun hujan apalagi seperti dulu saat terjadi Badai Cempaka, kami masih trauma," ucapnya.