Masuk Musim Penghujan, Aktivitas Pertanian di Gunungkidul Mulai Berjalan

Petani di Desa Giring, Paliyan, mulai melakukan aktivitas pertanian, Minggu (11/11/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
12 November 2018 05:17 WIB Herlambang Jati Kusumo Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Hujan yang mulai mengguyur Gunungkidul belakangan ini, menjadi angin segar bagi petani untuk memulai kembali aktivitas bertaninya. Hal itu dikarenakan kebanyakan pertanian di Gunungkidul merupakan sawah tadah hujan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan dari pantauan pihaknya sejumlah kecamatan sudah diguyur hujan sejak Senin (5/11/2018) malam yang lalu. Beberapa diantaranya wilayah Kecamatan Rongkop, Tanjungsari, Girisubo, Wonosari, Karangmojo, Paliyan.

“Para petani beberapa waktu lalu telah melakukan tabur benih atau ngawu-awu, semoga dengan turunnya hujan ini benih dapat tumbuh dengan baik,” kata Raharjo, Minggu (11/11/2018).

Ia mengatakan, jikapun hujan nantinya tidak turun lagi untuk beberapa saat hal itu tidak akan berdampak buruk. Sebab kebanyakan petani saat ini menanam jenis padi segreng yang cukup tahan terhadap kering. Seperti yang ada di wilayah Rongkop dan Girisubo.

Namun kekurangan padi jenis ini hasil produksi jenis segreng lebih rendah dari padi jenis ciherang yang juga banyak ditanam di Gunungkidul. Perbandingan jumlah produksipun cukup signifikan.

“Memang lebih tahan tetapi hasilnya lebih sedikit. Semisal satu hektar ditanami segreng hanya mampu menghasilkan lima ton gabah. Sedangkan untuk ciherang mampu menghasilkan delapan ton,” ucapnya.

Sementara itu, salah seorang petani warga Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Wagiya mengatakan bahwa dirinya juga menanam dua jenis padi tersebut. Pasalnya dua jenis padi tersebut sudah terbukti mampu tumbuh baik dan kuat terhadap serangan hama.

“Ada sekitar setengah hektar yang saya tanami padi. Tapi sebagian segreng sebagian ciherang,” kata Wagiya.

Ia juga mengatakan tidak ada kekhawatiran terhadal hujan yang turun. Sebab, sesuai perhitungan Jawa kali ini sudah memasuki mangsa ke lima yang berarti hujan akan terus menerus turun.