3 Raperda Inisiatif DPRD Gunungkidul Ditarget Rampung Awal September
DPRD Gunungkidul menargetkan pembahasan tiga raperda inisiatif rampung awal September, mencakup reklame dan perlindungan petani.
Warga melihat kondisi kandang kambing yang berada di pinggir hutan/Dokumen
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Warga Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, mulai memindahkan ternak yang sebelumnya dikandangkan di sekitar kawasan hutan ke rumah. Pemindahan ini dilakukan sebagai antisipasi serangan hewan liar yang sering terjadi saat musim kemarau.
Kepala Seksi Pemerintahan Desa Purwodadi, Suyanto, mengatakan masyarakat di Desa Purwodadi memiliki kebiaasaan memelihara ternak di kawasan hutan. Hal ini dilakukan untuk mempermudah pemberian pakan.
Namun di musim kemarau pemeliharaan di kawasan hutan menjadi masalah karena acaman serangan hewan liar terhadap ternak meningkat. Oleh karena itu, untuk menghindari serangan warga mulai membawa ternak pulang ke rumah. “Sudah banyak yang dibawa pulang,” kata Suyanto kepada wartawan, Kamis (25/7/2019).
Ia mendata ternak yang dipelihara di kawasan hutan ada sekitar 200 ekor. Namun dari jumlah itu sudah ada 150 ekor kambing yang dipindah untuk dipelihara di rumah. “Belum semua dibawa pulang. Untuk keamanan, kami terus mengimbau warga agar mau memindahkannya sehingga serangan hewan liar dapat diantisipasi,” katanya.
Suyanto menjelaskan upaya pemindahan kandang mendekat ke rumah merupakan cara yang paling ampuh untuk menghindarkan dari serangan hewan liar. Ia mencontohkan dalam dua tahun terakhir serangan berkurang drastis. Di 2017, tercatat ada 80 ekor kambing di Desa Purwodadi yang mati karena digigit hewan liar. Sedangkan tahun lalu serangan hanya sembilan ekor kambing yang menjadi korban. “Keberhasilan ini tidak lepas dari kesadaran warga memindahkan kadang dari kawasan hutan ke rumah. Sebab, dengan mendekat ke rumah, maka pengawasan akan lebih mudah,” katanya.
Sekretaris Camat Girisubo, Arif Yahya, mengatakan wilayahnya termasuk daerah yang sering mengalami serangan hewan liar saat musim kemarau. “Kalau musim hujan tidak masalah, tapi kalau kemarau ancaman serangan terhadap ternak makin meningkat,” katanya, beberapa waktu lalu.
Menurut dia, pemerintah terus mengimbau warga untuk mengantisipasi serangan dengan ronda keliling, penguatan kandang hingga pemindahan kandang dari area hutan ke rumah. “Hingga saat ini belum ada laporan terkait dengan serangan hewan. Tapi, bukan berarti potensi serangan menghilang sehingga warga harus tetap waspada agar ternak yang dimiliki mati karena gigitan hewan liar,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul menargetkan pembahasan tiga raperda inisiatif rampung awal September, mencakup reklame dan perlindungan petani.
Pemkab Kulonprogo dan BOB mengawal kelanjutan Jalan Plono-Nglinggo. Dari 3,47 km, masih tersisa 2,47 km yang belum terbangun.
Lomba Mewarnai dan Menggambar Wayang Jadi Cara Disbud DIY Kenalkan Warisan Budaya kepada Anak
Kuota LPG 3 kg 2026 diproyeksi jebol. Kementerian ESDM memperkirakan konsumsi mencapai 8,67 juta ton atau 108,46% dari kuota.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mendorong pelajar Sekolah Rakyat untuk membangun kebiasaan menabung sekaligus meningkatkan literasi keuangan
Sleman memperbaiki 32 saluran irigasi dengan dukungan APBN untuk menjaga kebutuhan air pertanian saat puncak musim kemarau.