Kelok 23 Gunungkidul Belum Dilirik Investor, Ini Alasannya
Kawasan Kelok 23 Gunungkidul belum menarik investor. DPMPTSP menyebut pembangunan yang belum selesai menjadi salah satu penyebabnya.
Pengendara motor melintas di jalan alternatif Gunungkidul-Sleman, di ruas Gading-Ngalang, beberapa waktu lalu./Harian Jogja-Yudhi Kusdiyanto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembebasan lahan untuk pembangunan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman terus dikebut. Jalur di titik Ngalang sampai Ngoro-Oro ditarget selesai pada Oktober 2019.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Eddy Praptono, mengatakan pembangunan jalur alternatif Gunungkidul-Sleman telah dimulai sejak beberapa tahun lalu. Namun hingga saat ini proses masih berjalan. “Setelah pembebasan lahan untuk ruas Desa Ngalang, Kecamatan Gedangsari menuju Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk selesai maka pembangunan jalur alternatif di Gunungkidul akan selesai,” katanya kepada wartawan, Minggu (4/8).
Menurut dia, titik Ngalang-Ngoro-Oro merupakan jalur terakhir yang dibangun karena sebelumnya Pemda DIY telah menyelesaikan pembangunan di dua titik yakni titik di wilayah perbatasan dengan Sleman di Dusun Lemahbang menuju Ngoro-Oro dan satu titik dari Ngalang menuju Desa Gading, Kecamatan Playen.
Disinggung mengenai proses pembangunan, Eddy menuturkan pelaksanaan baru dilakukan tahun depan. Untuk saat ini proses menyelesaikan pembebasan lahan di titik yang belum tersambung. “Masih pembebasan lahan. Untuk titik Ngalang sampai Ngoro-Oro pembebasannya ditargetkan selesai Oktober 2019,” kata Eddy.
Menurut dia, permasalahan pembebasan lahan menjadi kewenangan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Gunungkidul. “Kami hanya membantu karena kewenangan ada OPD teknis yang membidangi,” katanya.
Kepala Dispertaru Gunungkidul, Winaryo, saat dikonfirmasi menyatakan jajarannya masih menangani pembebasan lahan untuk kelanjutan pembangunan jalur alternatif Sleman-Gunungkidul. Menurut dia dalam pembebasan lahan jajarannya tidak sendiri karena ada koordinasi dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY. “Aturannya pembebasan tanah di atas lima hektare harus melalui BPN di tingkat provinsi,” katanya.
Menurut dia, ruas lahan yang akan dibebaskan dari Ngalang-Ngoro-Oro mencapai 25 hektare dengan jumlah bidang tanah sebanyak 700 titik. Untuk proses pembebasan sudah dibentuk tim appraisal guna menaksir harga tanah. “Sudah dibentuk melalui lelang dan sekarang tim sudah bekerja menaksir harga tanah,” katanya.
Mantan Kepala Bagian Pemerintahan Umum Setda Gunungkidul ini optimistis pembebasan dapat selesai sesuai target. “Kalau sudah ditaksir harganya, langsung diumumkan dan selanjutnya bisa dilaksanakan pembayaran,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kawasan Kelok 23 Gunungkidul belum menarik investor. DPMPTSP menyebut pembangunan yang belum selesai menjadi salah satu penyebabnya.
Kemenhub memproses 35 izin khusus pesawat registrasi asing untuk mendukung pemadaman karhutla dengan tetap mengutamakan keselamatan penerbangan.
Gempa M4,0 kembali mengguncang NTT pada 23 Agustus 2026. BNPB mencatat 53.971 rumah rusak akibat rangkaian gempa sejak 15 Agustus.
BMKG mendeteksi 696 hotspot di Kalsel pada 23 Agustus 2026. Sebanyak 29 titik masuk kategori tinggi dan risiko karhutla didominasi indikator tinggi.
Bantul memiliki indeks risiko bencana 96,02 dengan kelas sedang. Risiko gempa bumi tercatat tinggi berdasarkan IRBI 2025.
Studi 1.350 pengemudi di Inggris mengungkap fitur mobil yang jarang digunakan. Bluetooth justru menjadi teknologi yang paling sering dipakai.