Kekeringan di Gunungkidul Meluas, Bantuan Air Bersih Ditambah
Kekeringan di Gunungkidul meluas. BPBD telah menyalurkan 38 tangki air bersih dan menyiapkan 1.150 tangki untuk warga terdampak.
Wisatawan bermain di pesisir Pantai Watukodok, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari, Minggu (1/9/2019)./Harian Jogja-David Krniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kawasan Pantai Watukodok, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari belum sepenuhnya terlepas dari konflik. Potensi perseteruan antara warga dan investor masih bisa muncul setiap saat.
Ketua Paguyuban Kawula Pesisir Mataram (PKPM), Sumarno, mengakui saat ini kondisi di Pantai Watukodok sudah kondusif. Upaya pengembangan sektor kepariwisataan juga berjalan dengan baik karena jumlah pengunjung terus meningkat.
Menurut dia, kondisi sekarang berbeda dengan yang terjadi di 2015, di mana ada perseteruan antara warga dan calon investor. Saat itu investor ingin menggusur warga yang membuka usaha di kawasan Pantai Watukodok. “Konflik terjadi beberapa tahun lalu, kalau saat ini kondisinya sudah lebih baik,” katanya, Senin (2/9).
Meski demikian, Sumarno menyadari potensi konflik belum sepenuhnya padam. Potensi itu masih dapat muncul sewaktu-waktu. Hal ini tidak lepas dari rencana investor yang ingin membangun sisi barat Bukit Watukodok atau biasa disebut Pantai Sanglen. “Investor berencana membangun di Pantai Sanglen,” katanya.
Menurut dia, potensi masalah dapat muncul karena di kawasan Pantai Sanglen sudah ada beberapa lapak pedagang untuk berjualan. “Dengan Watukodok hanya dipisahkan bukit. Kalau benar dibangun dan dibuat tembok maka akses hanya satu pintu dan itu dikuasai investor sehingga warga terkena dampaknya,” tuturnya.
Sumarno berharap masalah itu diantisipasi sehingga tidak meruncing dan konflik bisa diredam. “Jangan seperti yang terjadi di Pantai Parangracuk di mana warga tidak bisa lagi berusaha. Pemerintah harus bisa bijak dengan memberikan kesempatan warga berusaha,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Rugiyati, salah seorang pedagang di kawasan Pantai Watukodok. Menurut dia, keberadaan pariwisata harus benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan. “Jangan semua diberikan ke investor karena nanti warga hanya jadi penonton di wilayahnya sendiri,” katanya.
Rugiyanti berharap potensi konflik harus diredam sehingga tidak menganggu pengembangan. “Saya masih ingat di 2015 lalu [saat konflik di Watukodok terjadi], warga sampai meninggalkan pekerjaan untuk aksi melawan investor yang akan membangun,” katanya.
Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Pariwisata Gunungkidul, Supartono, mengatakan potensi konflik di kawasan wisata masih mungkin terjadi. Hal ini terlihat di beberapa destinasi yang muncul permasalahan. Menurut dia, untuk menyelesaikan dilakukan mediasi antara pihak-pihak yang bermasalah. "Kami memperkuat koordinasi baik dengan pelaku usaha, pemerintah desa hingga jajaran forkompida," kata Supartono.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kekeringan di Gunungkidul meluas. BPBD telah menyalurkan 38 tangki air bersih dan menyiapkan 1.150 tangki untuk warga terdampak.
Presiden Prabowo akan melantik sekitar 1.500 calon perwira remaja TNI dan Polri di Istana Merdeka pada Rabu pagi.
Pemkot Jogja menargetkan seluruh SMP dan MTs menerapkan Program Sekolah Siaga Kependudukan untuk mencegah pernikahan usia anak.
DPR RI meminta pemerintah mengevaluasi fenomena sekolah yang kekurangan murid. Lokasi sekolah hingga stigma sekolah favorit menjadi sorotan.
Penelitian terbaru mengungkap bahwa menguap membantu mengatur cairan otak, menjaga suhu tubuh, hingga mendukung pembuangan limbah metabolisme.
Pemerintah masih mengkaji lokasi PFII. Bali menjadi salah satu opsi, termasuk kawasan KEK yang statusnya dapat diubah jika diperlukan.