Lonjakan Pemudik Lebaran Terlihat di Bandara YIA
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Salah satu EWS yang terpasang di samping Sungai Gendol, Desa Sindumartani, Kecamatan Ngemplak pada Kamis (31/10/2019)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, SLEMAN—Di lereng Merapi sejauh ini ada 13 unit sistem peringatan dini (EWS) yang sudah terpasang, baik di sisi barat maupun timur. Sayangnya, dari total EWS yang ada, sebagian besar kini dalam kondisi rusak.
Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan di sisi barat ada empat unit, masing-masing di wilayah Turgo, Kemiri, Pulowatu, dan Rejodani. Sedangkan di sisi timur tersebar di Ngerdi, Jambon Lor, Bronggang, Jarangan, Kowang, Banjarsari, Kopeng, Kalitengah Kidul, dan Petung.
"EWS yang ada di sisi barat semua sensornya tidak berfungsi, sehingga pemantauannya hanya dengan CCTV. Sementara yang di bagian timur, dari awal memang tidak dilengkapi sensor tapi mengandalkan CCTV," kata Joko, Jumat (1/10/2019).
Kondisi itu diperparah dengan hilangnya sejumlah peranti EWS seperti di Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan sekitar tiga bulan lalu. Perangkat EWS yang hilang tersebut, kata dia, lokasinya memang ada di dekat jalan dan sering digunakan untuk tempat berkumpul.
BPBD Sleman lantas menggantinya dengan peralatan darurat berupa aki, sirine, dan remote, sementara pantauan tetap dilakukan dari CCTV yang berada di Kalitengah Kidul. Dengan begitu tanpa adanya sensor, peranti CCTV di Kalitengah Kidul diharapkan berfungsi sehingga dapat membantu memonitor bencana.
"Kami juga punya teknologi sinyal FM radio. Ketika sukarelawan membuka aplikasi radio lewat ponsel mereka masing-masing di frekuensi 91.3, apabila ada kejadian banjir lahar, mereka akan segera mengetahuinya," kata Joko.
Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Desa Glagaharjo, Rambat Wahyudi membenarkan hilangnya peranti EWS di Banjarsari akibat dicuri orang. "Namun kini sudah diperbaiki oleh BPBD Sleman" ujar Rambat, Jumat (1/10).
Personel KSM, lanjut Rambat, juga siap memantau secara langsung pergerakan lahar dingin dengan menggunakan peralatan handy talky dan peralatan lain-lain yang sudah disiapkan. Dia mengimbau warga di lereng Merapi khususnya di Dusun Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo untuk selalu waspada terhadap lahar dingin, terlebih kini sudah mulai memasuki musim hujan.
Kepala Desa Glagaharjo, Suroto mengaku belum mendapat informasi mengenai kondisi terkini EWS yang ada di Desa Glagaharjo. "Kami [Pemerintah Desa Glagaharjo] belum mengetahui informasi terkini mengenai kondisi EWS," kata dia.
Suroto berharap ke depannya hasil pantauan EWS bisa disambungkan dengan sarana kedaruratan bencana yang ada di kantor desa sehingga aparatur desa bisa cepat menyampaikan informasi ke masyarakat. "Kami juga selalu mengingatkan warga agar waspada terutama saat melakukan aktivitas penambangan di sungai. Kalau sudah terlihat mendung pekat, segera menyingkirkan dan kerahkan armada truk pasir secukupnya saja," ucap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penumpang di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) melonjak hingga 81% dibanding 2021, seiring peningkatan pemudik jelang Lebaran 2022.
Ojol demo serentak di Jogja dan 16 kota, tuntut kenaikan tarif hingga UU transportasi online. DPRD DIY siap bahas regulasi.
Perimenopause tingkatkan risiko penyakit jantung pada perempuan. Simak hasil studi terbaru dan cara menjaga kesehatan jantung.
Pisang bertandan ganda di Gunungkidul menarik perhatian. Pemkab siap kembangkan jadi varietas unggulan.
Penyelenggaraan 35th International Cycling History Conference (ICHC) menghasilkan Piagam Klaten.
Eks staf RS di Boyolali gelapkan Rp628 juta, dipakai judol dan pinjol. Polisi ungkap modus manipulasi laporan keuangan.