Revitalisasi 131 Sekolah Gunungkidul, DPRD Ingatkan Kualitas Bangunan
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Jayadi (jongkok) menunjukkan cara kerja atabela untuk menanam padi di lahan pertanian Dusun Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, Selasa (3/12/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Jayadi, seorang petani warga Dusun Kernen, Desa Ngunut, Kecamatan Playen, membuat inovasi di bidang pertanian. Ia membuat alat tanam benih langsung (atabela) yang diklaim bisa mempersingkat masa penanaman padi jenis gogo.
“Ide muncul karena keprihatinan kurangnya regenerasi petani serta makin berkurangnya lahan di Gunungkidul,” kata Jayadi kepada wartawan, Selasa (3/12/2019).
Alat ini memiliki ukuran tidak terlalu besar dan memiliki dua roda mirip mesin traktor, namun dengan ukuran yang lebih kecil. Di depan ada semacam besi yang berfungsi untuk mencangkul dan dilengkapi alat untuk menutup tanah yang telah dicangkul. “Ada dua tabung yang berfungsi sebagai wadah benih yang ditanam,” katanya.
Adapun cara kerja alat ini harus dioperasikan dua orang untuk menarik dari depan dan mendorong dari belakang. Ia mengklaim atabela tidak membutuhkan mesin karena dioperasikan secara manual. “Tinggal didorong dan ditarik nanti benih sudah bisa keluar dari tabung,” katanya.
Jayadi mengklaim dengan alat ini waktu penanaman padi gogo lebih singkat. Sebagai gambaran untuk menanam benih padi secara manual di lahan seluas satu hektare membutuhkan tenaga empat orang dengan waktu beberapa hari. “Dengan atabela hanya dikerjakan dalam waktu 20 jam saja. Dengan alat ini praktis menghemat biaya operasional petani,” katanya.
Atabela juga dibentuk untuk penanaman dengan model jejer legowo sehingga dapat meningkatkan produktivitas hingga 30%. “Jadi tidak perlu ribet karena bisa langsung diaplikasikan. Atabela sangat cocok dengan kondisi geografis Gunungkidul yang didominasi kawasan karts,” katanya.
Jayadi mengakui hingga saat ini belum mematenkan alat pertanian yang dibuat. “Ke depan akan saya patenkan sehingga dapat melindungi alat yang saya buat,” katanya.
Salah seorang petani di Desa Ngunut, Sutrisno, mengatakan selama ini dia menanam padi secara tradisional. Menurut dia untuk penanaman membutuhkan beberapa orang agar bisa menyelesaikan petak lahan yang dimiliki. “Saya belum tahu kalau ada alat yang bisa digunakan untuk menanam secara lebih cepat dan efektif. Mudah-mudahan alat ini bisa dibuat lebih banyak dengan bantuan pemerintah sehingga dapat membantu petani dalam meningkatkan produktivitas hasil pertanian,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul mendukung revitalisasi 131 sekolah pada 2026. Dewan meminta kualitas bangunan dijaga dan mendorong penggunaan kayu jati warga.
Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah melaju ke final ganda campuran Asian Games 2026 usai mengalahkan Feng Yanzhe/Huang Dongping 21-12, 21-14.
Jadwal UEFA Nations League 2026/27 Matchday 2 pada 28-29 September 2026. Belgia vs Prancis hingga Spanyol vs Kroasia tayang dini hari WIB.
Tren baju murah untuk foto liburan merebak di kalangan turis China. Pakaian lalu dibuang atau dijual kembali dan memicu isu limbah tekstil.
Power window mobil seret bisa disebabkan debu hingga karet aus. Kenali penyebab dan cara mengatasinya dengan silicone spray.
Nguyen Xuan Son cedera hamstring dan absen 4-6 pekan. Striker Vietnam itu harus mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026