Terdampak Tol Jogja-Solo, SDN Nglarang Segera Dibangun Ulang
Relokasi SDN Nglarang Sleman mulai bergerak. Pembangunan gedung baru ditargetkan mulai Mei 2026 akibat proyek Tol Jogja-Solo.
Ilustrasi macapat./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA - Pemerintah Kota Jogja berupaya melestarikan macapat melalui Dinas Kebudayaan dengan sebuah kegiatan Gelar Macapat untuk Milenial. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak remaja rentang usia SMP dan SMA dari berbagai wilayah di Kota Jogja dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.
Kepala Bidang Sejarah dan Bahasa Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Dwi Hana Cahya Sumpena menjelaskan jika Gelar Macapat tahun ini mengusung tema "Menumbuhkan Kecintaan Seni Macapat Bagi Generasi Milenial" yang akan digelar selama tiga hari dari 9-11 November 2020 di Ndalem Ngabean Jl. Ngadisuryan No.6, Kraton.
Baca juga: Mengembangkan Desa Preneur Lewat Konsep G2R Tetrapreneur
"Gelar macapat kali ini, pelaksanaannya akan dibawakan lebih ringan dan cair tanpa meninggalkan pakem yang berlaku," tutur Dwi pada Senin (9/11/2020).
Diterangkan Dwi, Gelar Macapat turut menghadirkan sejumlah narasumber seprovinsi Paksi Raras Alit yang dikenal berhasil meramu dan menyajikan sastra macapat dalam kemasan musik kekinian. "Selain Paksi dihadirkan pula praktisi macapat Slamet Nugroho dan Maryono, serta kelompok Pagu Sekar sebagai seniman pengiring dari tembang-tembang macapat yang akan dibawakan," tambahnya.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti menuturkan bahwa seni sastra tembang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak di alam ruh, fase dilahirkan, tumbuh hingga meninggal dunia dan kembali ke alam ruh. "Melalui syair dalam tembang, nilai-nilai luhur dan pitutur bijak disampaikan penuh makna," ungkapnya.
Baca juga: KPU Kota Jogja Jadi Pilot Project Pemutakhiran Data Pemilih Berkelanjutan
Tidak hanya itu, Yetti mengatakan jika bait-bait dalam tembang macapat memiliki nilai religius tinggi yang telah digunakan sebagai media penebar kebaikan oleh orang-orang bijak di masa silam. Dia menambahkan jika rembang macapat juga menjadi senandung cinta orangtua kepada anak-anak mereka agar mengerti akan arti kehidupan.
"Kami mengapresiasi kegiatan gelar macapat yang menyasar bagi generasi milenial. Harapannya kegiatan gelar macapat ini mampu memberikan pembelajaran untuk menghargai, menumbuhkan rasa peka dan rasa cinta terhadap karya sastra tradisional," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Relokasi SDN Nglarang Sleman mulai bergerak. Pembangunan gedung baru ditargetkan mulai Mei 2026 akibat proyek Tol Jogja-Solo.
Dinkes Sleman perketat pemisahan jeroan kurban untuk cegah kontaminasi dan risiko penyakit saat Iduladha 2026.
Disdukcapil Bantul mencatat 985.142 penduduk pada 2025. Banguntapan menjadi wilayah terpadat dengan 118.712 jiwa.
Polda Metro Jaya menangkap 173 tersangka dari 127 kasus kejahatan jalanan di Jakarta selama 1–22 Mei 2026 melalui operasi terpadu.
UPNV Jogja menonaktifkan lima dosen terkait dugaan kekerasan seksual. Seluruh aktivitas Tridharma dihentikan selama proses investigasi.
BP BUMN dan Kemnaker memperkuat sinergi transformasi BUMN dengan memastikan perlindungan pegawai dan hubungan industrial tetap sehat.