Pembelian LPG 3 Kg Dipantau Ketat di Jogja, Wajib Pakai KTP
Pemda DIY perketat pengawasan LPG 3 kg usai kenaikan harga nonsubsidi, distribusi wajib pakai KTP untuk cegah salah sasaran.
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). /ANTARA FOTO-Andreas Fitri Atmoko
Harianjogja.com, SLEMAN-Meski telah dinyatakan erupsi sejak 4 Januari lalu, hingga saat ini pertumbuhan kubah lava Gunung Merapi masih terbilang kecil bila dibanding normalnya pertumbuhan kubah lava pada erupsi tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan pada erupsi kali ini, Gunung Merapi memiliki dua kubah lava yang masih terus tumbuh, meski pertumbuhannya lambat.
“Volume kubah lava yang berada di Barat Daya teramati sebesar 834 km kubik pada 18 Maret lalu, dengan laju pertumbuhan rata-rata 13 km kubik per hari. Sedangkan kubah lava yang berada di tengah kawah volumenya 950 km kubik, dengan pertumbuhan 12,8 km kubik per hari,” ujarnya, Selasa (23/3/2021).
BACA JUGA: IDI Tegaskan Sekolah Bisa Dibuka Jika Laju Penularan Covid-19 di Bawah 5 Persen
Menurutnya, pertumbuhan kedua kubah lava ini masih cenderung kecil. Jika melihat pada erupsi sebelumnya, pertumbuhan kubah lava Gunugn Merapi normalnya sekitar 20 km kubik per hari. “Keduanya sama masih kecil dari normalnya erupsi Merapi,” ungkapnya.
Aktivitas guguran baik awan panas guguran maupun guguran lava pada sepekan terakhir menurutnya juga tidak terlalu tinggi. Dengan data-data sejauh ini, menurutnya erupsi Gunung Merapi masih akan berlangsung secara effusive.
“Probabilitas letusan eksplosif tidak meningkat. Tidak ada tekanan magma berlebih yang mencerminkan tambahan laju suplai magma. Jarak jangkau guguran saat ini maksimal 3,2 km. Sementara kubah lava tengah kawah terus tumbuh, sehingga memungkinkan kedepan dapat terjadi guguran dan awan panas kea rah kali Gendol,” katanya.
Sampai saat ini juga belum ada rekomendasi untuk mengungsikan kembali warga lereng Merapi, baik di sisi barat daya maupun tenggara. “Daerah di luar potensi bahaya saat ini kondusif untuk beraktivitas dengan konsep hidup harmoni dengan Gunung Merapi,” ujarnya.
Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih sejauh maksimal 5 km, serta pada sektor tenggara yakni di sungai Gendol sejauh 3 km.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY perketat pengawasan LPG 3 kg usai kenaikan harga nonsubsidi, distribusi wajib pakai KTP untuk cegah salah sasaran.
GIIAS 2026 menghadirkan deretan mobil baru dari Mazda, Toyota, Lexus, Suzuki, hingga Hino dengan teknologi hybrid dan EV.
BMKG mengingatkan El Nino kategori kuat meningkatkan risiko kekeringan di Jawa Tengah yang mengancam pertanian dan sumber daya air.
Program Jembatan Garuda telah mencapai 1.416 titik pembangunan dan menghubungkan 7.371 desa serta kelurahan di Indonesia.
BGN memprioritaskan pembangunan dapur MBG di daerah dengan angka stunting tinggi untuk mempercepat intervensi gizi penerima manfaat.
KPK memeriksa saksi OTT Bupati Pemalang dan mendalami dugaan suap proyek serta jual beli jabatan dengan barang bukti lebih dari Rp2 miliar.