Gunungkidul Belum Tetapkan Siaga Kekeringan, Ini Alasannya
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Foto ilustrasi. /ANTARA FOTO-Aji Styawan\r\n
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul memutuskan menonaktifkan dua selter karantina untuk warga yang dinyatakan positif corona. Keputusan ini dilakukan tidak lepas adanya penurunan kasus yang signifikan di Gunungkidul.
Kepala Seksi Perlindungan Jaminan Sosial, Dinas Sosial Gunungkidul, Suyatin mengatakan, untuk karantina warga positif, pemkab menyediakan dua shelter yang berada di Kalurahan Petir, Rongkop dan Wisma Wanagama di Kalurahan Banaran Playen. Pada saat terjadi lonjakan kasus, keduanya sempat digunakan untuk karantina warga.
Meski demikian, sambung dia, keduanya sudah dinonaktifkan dikarenakan jumlah pasien yang dinyatakan positif terus menurun sehingga shelter ini tak dipakai lagi. Untuk shelter di Kalurahan Petir sudah tidak terpakai lebih dari satu bulan yang lalu. Sedangkan, di shelter Wanagama pada 18 septermber lalu juga sudah tidak ada warga yang menempati wisma milik UGM ini.
Baca juga: Jogja Akan Bentuk Relawan Kebakaran di 45 Kelurahan
“Kebetulan kerja sama berkahir 24 September lalu, jadi kami serahkan kembali ke pemiliknya,” kata Yatin kepada Harianjogja.com, Kamis (30/9/2021).
Menurut dia, keputusan tidak menggunakan shelter untuk karantina dikarenakan jumlah kasus penularan di Gunungkidul yang menurun secara signifikan. Meski demikian, Yatin mengakui sewaktu-waktu ada lonjakan kasus, maka keduanya bisa diaktifkan kembali.
“Mudah-mudahan tidak ada lonjakan klaster lagi sehingga shelter karantina tidak perlu dihidupkan lagi,” ungkapnya.
Ditambahkan dia, penyediaan selter sebagai upaya mengurangi laju penularan. Hal ini dikarenakan untuk memaksimalkan pengawasan terhadap pasien positif karena di shelter juga tersedia petugas medis yang memantau kesehatan para pasien.
Baca juga: Kemarau Basah Sebabkan Harga Tembakau DIY Anjlok
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengatakan, kasus penularan corona pada saat ini dalam tren penurunan. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena kasus dapat melonjak setiap saat. “Protokol kesehatan harus terus dijalankan untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Sebab, jika abai maka potensi lonjakan kasus bisa terulang kembali,” katanya.
Menurut dia, meski masih terkendali, namun jumlah penularan setiap harinya terus naik turun. Sebagai gambaran, pada Selasa (28/9/2021) terdapat lima kapanewon yang dinyatakan bebas corona. Namun sehari berikutnya, jumlahnya berkurang karena berdasarkan data yang masuk ada 15 kapanewon yang ada kasus corona.
“Makanya kami tidak bosan untuk mengimbau masyarakat mematuhi protokol kesehatan. Selain itu, guna memaksimalkan penanggulangan, kami juga terus berupaya memperluas pelaksanaan vaksinasi corona,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul belum menetapkan siaga darurat kekeringan meski musim kemarau 2026 sudah dimulai sejak akhir April.
Ketua LPS Anggito Abimanyu soroti paradoks literasi keuangan di era digital dalam JFF 2026 Jogja.
Satpol PP Gunungkidul dan Bea Cukai sita 152 ribu batang rokok ilegal dalam razia beruntun di sejumlah kapanewon.
BPOM temukan 22 obat herbal mengandung bahan kimia obat berbahaya, mayoritas produk stamina pria ilegal dan berisiko kesehatan serius.
Persib Bandung hanya butuh satu poin lawan Persijap untuk kunci gelar BRI Super League 2026 di tengah tekanan Borneo FC.
Aston Villa juara Liga Europa setelah kalahkan Freiburg 3-0. Bek berdarah Indonesia, Ian Maatsen, turut merayakan gelar juara bersama skuad asuhan Unai Emery.