Target RPJMD DIY Dikejar di Tahun Terakhir, Kemiskinan Jadi Tantangan
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Ilustrasi kapal milik nelayan tidak digunakan melaut selama ombak tinggi di Pantai Depok./Harian Jogja
Harianjogja.com, BANTUL -- Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bantul menduga adanya praktik pencurian ikan dari nelayan luar di wilayah Laut Selatan Bantul. Mereka berharap ada perlindungan dan tindakan tegas dari otoritas keamanan laut.
Ketua HNSI Kabupaten Bantul, Suyanto, menuturkan di selatan Bantul banyak terjadi pelanggaran berupa pencurian ikan oleh nelayan luar. “Banyak sekali ikan kita yang diambil bukan oleh nelayan Bantul atau DIY,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Dengan maraknya pelanggaran ini ia berharap pengawasan laut selalu stand by, agar setiap ada pelanggaran segera bisa ditangani oleh otoritas keamanan laut yang dalam hal ini adalah PSDKP Polairud dan TNI AL.
“Tetapi sampai saat ini kami tidak punya dan armada pengawas ada di Kabupaten Gunungkidul dan di Sadeng. Dulu kami pernah punya mimpi ada tempat tambat kapal yang bisa mengampu keamanan nelayan di DIY. Di Gesing sekarang dibangun dermaga, insyaallah bisa jadi solusi,” kata dia.
BACA JUGA: Pantai Depok Ditata, Koperasi Mina Bahari 45: Jangan Sampai Muncul Masalah bagi Warga
Di pesisir Bantul terdapat sebanyak 139 nelayan yang mencari ikan di perairan selatan Bantul menggunakan perahu motor tempel dengan lima titik pendaratan mulai dari pantai Depok hingga Pantai baru Pandansimo. “Semuanya nelayan kecil dengan perahu motor tempel,” ungkapnya.
Menanggapi hal ini, Danposal Samas, Peltu Marinir Yohanes Ari Prabowo menegaskan tidak ada pencurian ikan di wilayah perairan selatan Bantul. Mereka yang diduga pencuri ikan adalah nelayan dari luar daerah seperti Cilacap, Tegal dan lainnya.
“Itu bukan pencurian ikan. Mereka itu nelayan luar kota dari Cilacap, Tegal yang sedang berputar. Jadi mungkin perjalanan dari Cilacap mau ke Banyuwangi, atau Pacitan, nanti di TPI [Tempat Pelelangan Ikan] Sadeng diturunkan, lalu isi BBM berangkat lagi,” katanya.
Nelayan-nelayan tersebut juga masih menggunakan kapal dengan skala standar, bukan kapal industri. “Kalau di atas 12 mil sampai 200 mil itu sudah lintasan kapal besar. Angkatan Laut berpatroli ya di situ sebenarnya. Kalau yang di situ masih kapal kayu,” ungkapnya.
BACA JUGA: Hadiri Perayaan HUT Bantul, Ini Pesan Sri Sultan HB X
Kapal-kapal tersebut menurutnya, jumlahnya tidak banyak. Namun jika beroperasi malam hari akan tampak lampu-lampunya dari kejauhan sehingga kelihatan banyak. Hal ini tidak termasuk pencurian karena memang tidak ada pembagian wilayah penangkapan ikan untuk sesama nelayan Indonesia.
Pembagian hanya dilakukan untuk memisahkan besar-kecilnya kapal. Ada tiga zona yang ditetapkan, yakni zona fishing industri, zona nelayan lokal dan zona spawning & nursery ground atau zona pemijahan dan perkembangbiakan ikan.
Dia juga memastikan selama ini tidak ada pelanggaran baik kapal industri atau kapal asing yang masuk ke wilayah nelayan lokal. “Kalau pencurian sejenis kapal Thailand, Jepang, biasanya di utara Indonesia,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RPJMD DIY 2022-2027 masuk tahun terakhir. Pemda optimistis capai target meski kemiskinan dan ketimpangan masih jadi tantangan.
Jadwal lengkap KA Bandara YIA 2026 dari Tugu Jogja ke bandara. Solusi cepat, bebas macet, dan tepat waktu untuk kejar pesawat.
Cek jadwal lengkap KRL Solo–Jogja 16 Mei 2026 dari Palur hingga Jogja. Tarif Rp8.000, berangkat pagi hingga malam.
Libur panjang akhir pekan dorong wisata Sleman naik. Merapi, Kaliurang hingga Prambanan diprediksi jadi tujuan favorit.
Honda mencatat rugi pertama sejak IPO akibat EV. Kerugian capai Rp45,9 triliun, proyek Kanada ditunda, target EV diubah.
Gempa M6,3 guncang Jepang timur laut. Shinkansen dihentikan, Miyagi terdampak, namun PLTN Fukushima dilaporkan aman.